Feature

Pembelajaran Kontekstual: Kehidupan Nyata sebagai Ruang Belajar

89
×

Pembelajaran Kontekstual: Kehidupan Nyata sebagai Ruang Belajar

Sebarkan artikel ini
Heru Tjahyono dalam kegiatan Ruang Inspirasimu Chapter 41 yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara virtual, Selasa (5/5/2026) (Tagar.co/Ahmad Mahmudi)

Dalam Ruang Inspirasimu Chapter 41, penggagas Sekolah Kreatif Indonesia Heru Tjahyono, menegaskan bahwa pengalaman langsung membuat pembelajaran lebih bermakna dan membekas bagi siswa.

Tagar.co — Belajar tidak selalu harus di dalam kelas. Dari sawah hingga ruang terbuka lainnya, pengalaman nyata justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang lebih mendalam.

Gagasan ini mengemuka dalam Ruang Inspirasimu Chapter 41 yang digelar oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Forum Guru Muhammadiyah Pusat, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara virtual melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube ini diikuti lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari unsur Majelis Dikdasmen dan PNF wilayah hingga kepala sekolah dan guru Muhammadiyah.

Baca juga: Sang Penggagas Heru Tjahyono: Sekolah Kreatif Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman

Mengusung tema “Praktik Baik Implementasi Pembelajaran Mendalam dan KKA di Sekolah Muhammadiyah”, forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus berbagi pengalaman antarpendidik dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Baca Juga:  Berhenti Sejenak di Mabit Sekolah Kreatif Baratajaya: Menata Niat, Menguatkan Loyalitas

Salah satu pemateri yang mencuri perhatian adalah Heru Tjahyono, penggagas Sekolah Kreatif Indonesia. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual sebagai kunci menciptakan pengalaman belajar yang utuh.

Menurutnya, pembelajaran tidak cukup hanya berhenti pada penyampaian materi di kelas, tetapi harus mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata siswa.

“Pembelajaran kontekstual itu bukan sekadar teori. Materi harus diintegrasikan dengan mata pelajaran lain dan dikaitkan dengan realitas kehidupan siswa. Dari situ, anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang utuh dan mendalam,” ujarnya.

Gagasan tersebut selaras dengan konsep Contextual Teaching and Learning (CTL) yang diperkenalkan oleh Elaine B. Johnson. Pendekatan ini menekankan bahwa pembelajaran akan lebih efektif ketika siswa mampu menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktor aktif dalam membangun pemahaman.

Heru kemudian mencontohkan implementasi pembelajaran kontekstual melalui kegiatan outdoor learning dan outbound learning. Ia menggambarkan bagaimana pengalaman belajar di lingkungan nyata dapat memberikan kesan mendalam bagi siswa.

Baca Juga:  Buka Puasa Keliling Sekolah Kreatif Baratajaya, Ramadan Jadi Ruang Belajar Karakter

“Misalnya, belajar di sawah bagi anak desa mungkin biasa. Tapi bagi anak kota, itu pengalaman luar biasa. Dari situ kita bisa mengenalkan proses menanam padi hingga menjadi nasi. Inilah yang disebut pembelajaran mendalam,” jelasnya.

Pandangan ini sejalan dengan teori experiential learning dari David Kolb, yang menyatakan bahwa pengalaman langsung merupakan sumber utama pembelajaran.

Figur Guru

Lebih jauh, Heru menekankan peran guru sebagai figur dalam pembelajaran. Ia menegaskan bahwa guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi juga harus hadir sebagai sosok yang memberi inspirasi dan teladan bagi siswa.

“Guru harus menjadi figur yang dirindukan, ditaati, dan diteladani. Bahkan kalau perlu, seperti artis di hadapan anak-anak, kehadirannya dinanti dan membawa energi positif dalam pembelajaran,” ungkapnya.

Konsep ini berkaitan erat dengan teori social learning dari Albert Bandura, yang menjelaskan bahwa individu belajar melalui pengamatan terhadap model di sekitarnya.

Selain itu, Heru juga menyoroti pentingnya lingkungan belajar dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Lingkungan yang kaya pengalaman dinilai mampu memperkuat proses internalisasi pengetahuan siswa.

Baca Juga:  Tapak Suci, Deep Learning, dan Pendidikan Karakter di Sekolah Kreatif Baratajaya

Di akhir penyampaiannya, Heru menegaskan pentingnya integrasi pendekatan pembelajaran yang meliputi joyful learning, mindful learning, dan meaningful learning. Menurutnya, ketiga konsep tersebut saling melengkapi dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, penuh kesadaran, sekaligus memberikan makna mendalam bagi peserta didik dalam memahami materi dan pengalaman belajar mereka.

Pemaparan Heru kemudian ditutup dengan penayangan dokumentasi kegiatan guest teacher, outdoor learning, dan outbound learning yang dilakukan siswa SD Muhammadiyah 16 Surabaya.

Melalui forum ini, pendidikan Muhammadiyah kembali menegaskan arah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan pengalaman nyata. Pembelajaran tidak lagi dimaknai sekadar proses penyampaian materi, melainkan bagaimana siswa mengalami, memahami, dan memaknai pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni