Feature

Pelatihan Ecoprint Aisyiyah Sukodono Buka Peluang Usaha Kreatif

94
×

Pelatihan Ecoprint Aisyiyah Sukodono Buka Peluang Usaha Kreatif

Sebarkan artikel ini
Widiyanti saat menyampaikan materi ecoprint kepada peserta Aisyiyah Sukodono dalam kegiatan pelatihan di Sukodono, 1 Mei 2026. (Tagar.co/Dian Rahayu Agustina)

Pelatihan ecoprint Pimpinan Cabang Aisyiyah Sukodono membekali peserta keterampilan mengolah bahan alami menjadi produk kreatif bernilai jual, sekaligus membuka peluang usaha rumahan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi keluarga.

Tagar.co — Memanfaatkan momen libur nasional Hari Buruh Internasional Jumat 1 Mei 2026, ibu-ibu Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sukodono berkumpul untuk belajar teknik ecoprint—mengolah daun menjadi kain bermotif alami yang bernilai pakai sekaligus berpotensi menjadi sumber penghasilan.

Kegiatan talabul ilmi ini menghadirkan praktisi ecoprint, Widiyanti, S.Pd., S.Psi., M.M., sebagai narasumber. Ia telah menekuni ecoprint selama empat tahun dan aktif mengembangkan kelas kewirausahaan di tingkat SMP dengan memanfaatkan sumber daya alam sebagai bahan utama.

Baca juga: Menuju Dunia Kerja, SMK Muhammadiyah 2 Taman Gelar Pembekalan Karier

Sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 9 Boarding School An-Nur Tanggulangin sekaligus pengajar matematika, Widiyanti dikenal produktif. Bersama para siswanya, ia berhasil meraih juara proyek kewirausahaan pada 2025.

Ia juga kerap diundang menjadi narasumber dan terlibat dalam berbagai pameran, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca Juga:  Darul Arqam Vocatama Tempa Karakter Islami Siswa Hadapi Dunia Kerja

Dalam pelatihan tersebut, Widiyanti mempraktikkan teknik kukus (steaming) ecoprint secara langsung. Dengan sabar, ia membimbing peserta menata daun di atas kain yang telah melalui proses awal, sekaligus menjelaskan setiap tahapan yang harus dilakukan.

Hasil karya ecoprint dipamerkan usai praktik di Sukodono, 1 Mei 2026. (Tagar.co/Dian Rahayu Agustina)

Proses dimulai dari mordanting, yakni perendaman kain menggunakan campuran air, tawas, dan sedikit cuka selama satu jam. Tahap ini bertujuan membuka serat kain agar pigmen warna alami dapat terserap dengan baik.

Selanjutnya, peserta menata daun yang mengandung tanin, seperti daun jati, kenikir berbunga, jambu muda, kelengkeng, keres, dan jarak kepyar di atas kain katun. Daun-daun tersebut sebelumnya telah dicuci bersih sebelum disusun sesuai kreativitas masing-masing.

Setelah penataan, kain digulung rapat menggunakan teknik iron blanket dan diikat, kemudian dikukus selama 1,5 hingga 2 jam. Proses ini memungkinkan pigmen alami berpindah ke kain melalui uap panas.

Tahap akhir adalah fiksasi warna menggunakan larutan tawas atau tunjung agar hasil warna lebih kuat dan tahan lama.

Widiyanti, ibu dari dua putra, ini turut mendampingi peserta hingga proses akhir. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, dengan peserta aktif mencoba setiap tahapan.

Baca Juga:  SMP/MTs Muhammadiyah Sidoarjo Siap Unjuk Prestasi di MYPO Malaysia–Singapura

Hasilnya, kain ecoprint sukses dibuat dan dapat dimanfaatkan sebagai jilbab maupun taplak, bahkan memiliki nilai jual yang bisa menambah pemasukan keluarga.

Wakil Ketua PCA Sukodono, Dyah Ratnasari, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Insyaallah acara ini bisa dibilang sukses, karena sejak awal hingga akhir acara peserta terlihat sangat bahagia. Semoga pelatihan ecoprint ini bisa mendorong usaha kreatif ibu-ibu,” ujarnya. (#)

Jurnalis Dian Rahayu Agustina Penyunting Mohammad Nurfatoni