
Perayaan Milad Ke-3 Vocatama diisi beragam penampilan seni dan tausiah keislaman yang membingkai pesan pendidikan karakter dan kehidupan sosial yang beradab.
Tagar.co — Jumat pagi, 6 Februari 2026, bertepatan dengan 18 Syakban 1447, halaman Vocatama tampak lebih hidup dari biasanya. Tawa siswa, irama musik, dan rangkaian pertunjukan seni berpadu dalam perayaan Milad Ke-3 Vocatama—sekolah vokasi hasil penggabungan SMK Muhammadiyah 1 Taman dan SMK Muhammadiyah 2 Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.
Acara dibuka secara khidmat dengan pembacaan Surah Al-Kahfi 1-20 secara bersma oleh M. Daifullah Aflah (siswa XI TITL) dan Rafa Reihan (XI DKV 2). Suasana kemudian mencair saat pertunjukan tari pembuka ditampilkan, menjadi penanda bahwa milad kali ini tak sekadar seremonial, melainkan ruang ekspresi dan pembelajaran bersama.
Baca juga: Langkah Gemilang Lulusan Vocatama: Prestasi, Apresiasi, dan Asa Masa Depan
Nuansa edukatif semakin terasa melalui penampilan dance Hizbul Wathan (HW) yang disajikan dalam dua sesi. Dengan tema pencegahan perundungan, para siswa menyampaikan pesan moral secara komunikatif dan mudah dicerna. Pesan tersebut disambut antusias oleh peserta yang memadati area acara.

Rangkaian hiburan berlanjut dengan penampilan Band Vocatama. Denting musik dan lagu-lagu penuh semangat menghidupkan suasana. Atraksi bela diri dari Tapak Suci kemudian mengambil alih panggung, menampilkan ketangkasan, disiplin, dan kekuatan karakter.
Sementara itu, tarian Remo dipentaskan sebagai simbol penghormatan kepada tamu undangan sekaligus ungkapan selamat datang menjelang bulan suci Ramadan.
Kembali ke Akar Gerakan
Memasuki sesi tausiah, suasana kembali dihangatkan dengan pantun dan guyonan ringan. Fauzi Ibnu Ahmad, S.Ag., membuka tausiahnya dengan kalimat jenaka yang mengundang tawa, sekaligus mengajak siswa tetap fokus.
Melalui pantun sederhana, ia menekankan pentingnya menyegerakan amal baik dan tidak menunda-nunda kebaikan.
Dalam tausiahnya, Ketua Majelis Tablig Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang itu mengajak hadirin menengok kembali akar gerakan Muhammadiyah melalui sosok K.H. Ahmad Dahlan.
Ia mengulas secara ringkas perjalanan hidup K.H. Ahmad Dahlan—yang lahir dengan nama Muhammad Darwis di Kauman, Yogyakarta, pada 1868 M—serta arah dakwahnya yang menekankan pengamalan Islam dalam kehidupan sosial.

Telaah Surah Ali Imran ayat 104 menjadi pengantar untuk memahami khittah perjuangan Muhammadiyah, yakni dakwah amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat.
Pemaknaan Surah Al-Maun pun ditekankan sebagai fondasi gerakan sosial, yang menegaskan bahwa tauhid harus berbuah pada kepedulian dan kebermanfaatan bagi sesama.
“Jika tauhid seseorang baik, maka kehidupan sosialnya pun akan baik. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dijawab dengan tindakan nyata yang memberi kemaslahatan umat,” tutur Fauzi.
Ia juga menyinggung perbedaan corak dakwah para ulama besar Indonesia, termasuk K.H. Hasyim Asy’ari, seraya menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal menekankan aplikasi sosial ajaran Islam dalam praktik keseharian.
Sebagai bekal bagi para pelajar, Fauzi memaparkan enam syarat dalam menuntut ilmu: kecerdasan, kesungguhan mencari ilmu, ijtihad atau keseriusan, kesiapan sarana dan biaya, kedekatan dengan guru, serta kesabaran dalam waktu yang panjang. Enam hal ini, menurutnya, menjadi fondasi agar proses pendidikan berjalan utuh dan bermakna.
Rangkaian Milad Ke-3 Vocatama ditutup dengan pengukuhan pimpinan organisasi otonom (ortom), meliputi IPM, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci. Seluruh kegiatan tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Vocatama. (#)
Jurnalis Dian Rahayu Agustina Penyunting Mohammad Nurfatoni












