Opini

Pelajar Muhammadiyah dan Tugas Melanjutkan Api Pembaruan K.H. Ahmad Dahlan

46
×

Pelajar Muhammadiyah dan Tugas Melanjutkan Api Pembaruan K.H. Ahmad Dahlan

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi K.H. Ahmad Dahlan

Lebih dari seabad setelah K.H. Ahmad Dahlan menyalakan api pembaruan, pelajar Muhammadiyah hari ini mewarisi tugas besar: merawat cahaya, menghadirkan inovasi, dan menjawab tantangan zaman dengan keberanian serta kecerdasan intelektual yang relevan bagi umat Indonesia.

Oleh Nooh Faiz Dharmawan, Pelajar SMK Muhammadiyah 2 Taman, Sidoarjo; Finalis lomba menulis dalam Milad Ke-113 Muhammadiyah di Vocatama

Tagar.co – Pada 18 November 1912, seorang pemuda bernama Muhammad Darwis—yang kelak dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan—menyalakan sebuah cahaya yang tak pernah padam hingga lebih dari satu abad kemudian.

Cahaya itu bernama Muhammadiyah, sebuah gerakan pembaruan Islam yang berpijak pada Al-Qur’an dan Sunah, bergerak dalam dakwah amar makruf nahi mungkar, sekaligus memodernkan cara umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran agamanya.

K.H. Ahmad Dahlan tidak mendirikan Muhammadiyah dalam ruang kosong. Diamond menyaksikan langsung pesatnya gerakan kristenisasi Belanda, kondisi masyarakat Nusantara yang banyak menjauh dari ajaran Islam yang bersih, serta sistem pendidikan kolonial yang hanya memberi ruang bagi kelompok elite.

Pendidikan bagi rakyat kecil? Hampir tidak ada. Dari sinilah tekad beliau tumbuh: membuka jalan agar semua anak bangsa—tanpa memandang kasta—mendapatkan kesempatan belajar.

Guru dari Kauman yang Mengajar di Sekolah Belanda

Bayangkan, seorang ulama dari kampung Kauman berani melangkah masuk ke Kweekschool (Sekolah Guru) dan OSVIA (Sekolah Calon Pegawai Pemerintah) milik Belanda di Yogyakarta. Langkah ini luar biasa visioner.

Baca Juga:  Psikolog Eko Hardi Ansyah Membedah Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

Dia, tidak sekadar mengajar Rukun Iman dan Rukun Islam, tetapi memperkenalkan pemahaman Islam yang maju, rasional, dan relevan pada zamannya. Di hadapan calon guru dan calon pegawai yang dididik dengan pola Barat, K.H. Ahmad Dahlan ingin menunjukkan bahwa Islam tidak pernah tertinggal dari peradaban mana pun.

Di sekolah-sekolah Belanda itulah dia menyerap cara mengajar yang lebih sistematis: meja-kursi, papan tulis, dan sistem kelas modern. Jauh berbeda dengan pola pesantren tradisional yang kebanyakan belajar dengan cara lesehan.

K.H. Ahmad Dahlan bertanya dalam hatinya, “Mengapa metode seefektif ini hanya digunakan untuk ilmu umum? Mengapa pendidikan agama tidak bisa diajarkan dengan cara yang serupa—lebih tertata dan efisien?”

Pertanyaan itu berubah menjadi gagasan revolusioner: menggabungkan nilai Islam dengan metode pendidikan modern.

Lahirnya Sekolah Islam Modern

Tak berhenti pada ide, K.H. Ahmad Dahlan segera bergerak. Dia membuka sekolah rintisan di rumahnya—cikal bakal sekolah Muhammadiyah saat ini. Di sekolah itu, beliau memadukan kurikulum agama dan umum, menggunakan bangku, meja, dan papan tulis seperti sistem pendidikan Barat.

Inilah gebrakan besar yang membuat sebagian orang terkejut dan bahkan memprotesnya. Namun dari langkah inilah lahir Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, prototipe pertama sekolah Islam modern di Indonesia.

Baca Juga:  Milad Ke-3 Vocatama Dimeriahkan Seni, Pesan Antiperundungan, dan Tausiah Pencerahan

Dualisme pendidikan—agama versus umum—mulai dipatahkan. Muhammadiyah kemudian mencetak generasi yang berwawasan luas, menguasai ilmu agama sekaligus terampil dalam pengetahuan modern.

Perjalanan pembaruan KH Ahmad Dahlan juga membuatnya terlibat dalam Boedi Oetomo, organisasi pelajar dan budaya yang berpengaruh besar di Jawa kala itu. Puncaknya, Kongres Boedi Oetomo pada 1917 diselenggarakan di rumah beliau di Kauman. Sebuah penanda bahwa pemikiran dan kontribusi beliau diakui lintas kelompok.

113 Tahun Menerangi Negeri

Kini, setelah 113 tahun berlalu, cahaya itu tidak pernah padam. Muhammadiyah terus mencerdaskan umat melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan gerakan sosial yang menjangkau seluruh pelosok negeri. Data terakhir menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah memiliki:

  • 2.453 sekolah dasar

  • 1.599 sekolah menengah pertama

  • 1.294 sekolah menengah atas

  • 172 perguruan tinggi

Ini bukan sekadar angka. Ini adalah bukti bahwa gagasan sederhana seorang ulama kampung telah berubah menjadi peradaban pendidikan yang mencerahkan bangsa.

Pelajar Muhammadiyah dan Warisan Intelektual Sang Pendiri

Apa yang seharusnya kita warisi dari KH Ahmad Dahlan? Bukan hanya nama, bukan hanya organisasi, tetapi cara berpikirnya.

Pertama, keterbukaan intelektual. KH Ahmad Dahlan berani mengadopsi sistem Belanda tanpa merasa terancam oleh ide baru. Bagi beliau, kebenaran bisa datang dari mana saja selama tidak bertentangan dengan Islam. Pelajar Muhammadiyah harus berani belajar dari banyak sumber, mencari metode paling efektif, dan terus memperdalam ilmu untuk kemajuan umat.

Baca Juga:  Kontribusi Ikhlas Anggota Jadi Energi Kemajuan Muhammadiyah

Kedua, semangat tajdid. Beliau tidak gentar dikritik ketika menggunakan meja dan papan tulis untuk mengajar agama. Maka, pelajar hari ini harus berani keluar dari zona nyaman, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi untuk dakwah serta pemecahan masalah sosial.

Ketiga, integrasi ilmu agama dan umum. Setiap ilmu pada dasarnya adalah cahaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pelajar Muhammadiyah harus mampu menggabungkan keduanya untuk menjadi generasi muslim yang cerdas, berakhlak, dan solutif.

Perjalanan Kaderisasi Saya

Sebagai pelajar Muhammadiyah, saya sendiri merasakan bahwa jalan ini bukan hanya tentang belajar, tetapi tentang mengabdi. Dari IPM di bidang perkaderan, hingga kini melanjutkan proses di Vocatama. Di masyarakat, saya berkhidmat di Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan takmir Masjid Al-Furqon.

Kadang lelah, kadang kewalahan. Tetapi setiap tugas yang saya jalankan membuat saya merasa lebih hidup. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita merasa berguna bagi orang lain dan bagi organisasi yang telah membesarkan kita.

Saya berharap bisa terus berkembang, meneladani semangat K.H. Ahmad Dahlan, dan menjadi bagian dari cahaya yang menerangi lingkungan saya—meski hanya setitik. Sebab cahaya yang kecil sekalipun bisa membuat seseorang menemukan arah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni