Feature

Berhenti Sejenak di Mabit Sekolah Kreatif Baratajaya: Menata Niat, Menguatkan Loyalitas

54
×

Berhenti Sejenak di Mabit Sekolah Kreatif Baratajaya: Menata Niat, Menguatkan Loyalitas

Sebarkan artikel ini
Elly Rhodlifah  dan Maulana Muhammad  saat membuka acara mabit Sekolah Kreatif Baratajaya, Jum’at (30/1/2026) (Tagar.co/Ahmad Mahmudi)

Melalui Malam Bina Iman dan Takwa, guru dan karyawan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya berhenti sejenak untuk bermuhasabah dan memperkuat komitmen memajukan sekolah secara kolektif.

Tagar.co — Di tengah ritme kerja sekolah yang padat, guru dan karyawan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya memilih berhenti sejenak pada Jumat malam (30/1/2026). Mereka berkumpul dalam Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) untuk meneguhkan keikhlasan, loyalitas, dan arah perjuangan bersama.

Kegiatan yang digelar di hall lantai 3 sekolah ini berlangsung dengan suasana khidmat namun hangat. Mabit menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat nilai keislaman dan Kemuhammadiyahan, sekaligus mempererat ikatan emosional seluruh sivitas sekolah.

Baca juga: Sekolah Kreatif Indonesia Teguhkan Komitmen Pendidikan Inklusi Berkeadilan

Dua tokoh Muhammadiyah hadir memberikan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, yakni Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNf) PDM Kota Surabaya Dikky Syadqumullah serta Ketua PCM Ngagel Ahmad Zaini. Keduanya menyoroti pentingnya keteguhan nilai dan soliditas insan pendidik dalam menghadapi dinamika pendidikan yang terus berubah.

Baca Juga:  Wakil Ketua PWM Jawa Timur Kunjungi Sekolah Kreatif Baratajaya

Rangkaian Mabit dimulai selepas salat Isya. Kepala Urusan Sumber Daya Insani Maulana Muhammad, membuka acara dengan pengantar singkat yang menghidupkan suasana kekeluargaan. Dengan nada tenang dan penuh semangat, ia mengajak seluruh peserta memasuki malam pembinaan sebagai bagian dari ikhtiar bersama, bukan sekadar agenda formal.

Peserta Mabit Sekolah Kreatif Baratajaya, Jum’at (30/1/2026) (Tagar.co/Ahmad Mahmudi)

Kepala Sekolah Kreatif Baratajaya, Elly Rhodlifah, dalam sambutannya menegaskan bahwa Mabit bukan sekadar kegiatan bermalam di sekolah. Lebih dari itu, Mabit menjadi ruang bermuhasabah untuk menata kembali niat pengabdian di amal usaha Muhammadiyah.

“Bermuhasabah untuk memperbaiki diri, baik secara personal maupun secara komunal sebagai insan yang bernaung di amal usaha Muhammadiyah. Menumbuhkan rasa memiliki, menjaga nama baik sekolah, serta ikhtiar dan upaya bersama untuk memajukan sekolah,” ujarnya.

Suasana kian bermakna saat sesi testimoni dari para guru. Mariyah membagikan pengalamannya mengikuti Silaturahim Nasional Sekolah Kreatif Indonesia di Madiun. Dari forum tersebut, ia mendapatkan perspektif baru tentang ketulusan dalam mengabdi di sekolah Muhammadiyah.

“Ketulusan mengabdi di sekolah Muhammadiyah tidak hanya soal mencari nafkah, tetapi bagaimana kita bersama-sama memajukan sekolah kreatif. Itu yang sangat membekas dan memotivasi saya untuk lebih produktif,” tuturnya.

Baca Juga:  Dari Madiun, Babe Heru Gaungkan Lompatan Baru Sekolah Kreatif Indonesia

Testimoni berikutnya disampaikan oleh Ira Pratiwi, yang akrab disapa Tiwi. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk terus bergerak dan beradaptasi demi menjaga keberlanjutan sekolah.

“Banyak pelajaran tentang bagaimana mengembangkan sekolah dan bertahan di tengah berbagai tantangan. Mau tidak mau, kita harus berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar cita-cita bersama. Kuncinya adalah saling menguatkan,” ujarnya.

Melalui Mabit ini, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya tidak hanya memperkuat dimensi spiritual, tetapi juga meneguhkan semangat kolektif dalam membangun sekolah yang unggul, berkarakter, dan berkemajuan. Kebersamaan yang terbangun sepanjang malam menjadi energi baru untuk melangkah bersama dalam pengabdian dan pelayanan pendidikan.

Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni