
Silatnas VI Asosiasi Sekolah Kreatif Indonesia menjadi panggung refleksi dan konsolidasi. Babe Heru mengajak sekolah berani naik level melalui kreativitas dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Tagar.co — Gagasan segar dan semangat pembaruan pendidikan mengemuka dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) VI Asosiasi Sekolah Kreatif Indonesia yang digelar di SD Muhammadiyah, Jalan Raya Ponorogo–Madiun, Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun.
Tokoh penggagas Sekolah Kreatif Indonesia, Heru Tjahyono, hadir langsung menyuntikkan motivasi sekaligus strategi pengembangan sekolah kepada peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Dari Sekolah Tak Berdaya ke Sekolah Pilihan: Spirit Silatnas VI Sekolah Kreatif Indonesia
Kegiatan nasional yang berlangsung selama tiga hari, Sabtu hingga Senin (24–26 Januari 2026), mengusung tema besar “Character, Creative, Progress for Better Education”—sebuah benang merah yang menautkan penguatan karakter, kreativitas, dan kemajuan pendidikan agar kian relevan dengan tantangan zaman.
Sesi materi pertama Focus Group Discussion (FGD) dimulai Sabtu tepat pukul 20.00 WIB di aula lantai 3 gedung sekolah. Forum dipandu Novan Arfianto, M.Pd.I., Sekretaris Asosiasi Sekolah Kreatif Indonesia.
Suasana diskusi terasa hangat namun tetap fokus. Novan membuka sesi dengan membacakan profil narasumber, lengkap dengan rekam jejak dan kontribusi Babe Heru, sapaan Heru Tjahyono, dalam pengembangan konsep sekolah kreatif yang menginspirasi banyak lembaga pendidikan di Tanah Air.

Tampil dengan gaya khas—lugas, tegas, dan penuh energi—Babe Heru menegaskan bahwa pengembangan sekolah tak bisa ditempuh dengan pola seragam. Setiap daerah, menurutnya, memiliki tantangan, karakter peserta didik, serta potensi yang berbeda-beda.
“Strategi pengembangan sekolah untuk sekolah kreatif next level tentu berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya,” tegasnya mengawali paparan. Sekolah, lanjut Babe Heru, perlu jeli membaca konteks sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat sekitar agar program yang dijalankan benar-benar berdampak.
Ia juga mengajak para kepala sekolah dan pendidik berani keluar dari zona nyaman. Inovasi, kolaborasi, dan kepemimpinan visioner menjadi kunci agar sekolah tidak tertinggal oleh laju perubahan. Sekolah kreatif, katanya, bukan sekadar label, melainkan proses berkelanjutan membangun ekosistem belajar yang menyenangkan, bermakna, dan berkarakter.
Antusiasme peserta tampak sepanjang sesi. Diskusi interaktif berlangsung hidup, diwarnai pertanyaan tajam serta berbagi pengalaman lapangan dari beragam latar belakang sekolah.
Silatnas VI Sekolah Kreatif Indonesia diharapkan menjadi ruang silaturahmi, refleksi, sekaligus konsolidasi gerakan pendidikan kreatif di Indonesia. Melalui forum ini, semangat perubahan dan kemajuan pendidikan terus dipupuk demi melahirkan generasi yang berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi masa depan. (#)
Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni












