Feature

Dari Ruang Sederhana, Asa Besar Tumbuh di Rumah Singgah Al-Furqon Surabaya

139
×

Dari Ruang Sederhana, Asa Besar Tumbuh di Rumah Singgah Al-Furqon Surabaya

Sebarkan artikel ini
Keceriaan aktivitas pembelajaran di Rumah Singgah Al Furqon PRM Medokan Semampir, Jum’at (24/4/2026) (Tagar.co/Ahmad Mahmudi)

Tiga guru menyisihkan waktu selepas mengajar untuk mendampingi anak-anak yang tertinggal, menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi.

Tagar.co — Sore hangat di kawasan Medokan Semampir, Sukolilo, Surabaya, menghadirkan pemandangan yang tak biasa pada Jumat (24/4/2026). Di sebuah rumah sederhana di Perum Tanjung Permai B-66, tawa anak-anak bersahutan, berpadu dengan semangat belajar yang terasa begitu hidup.

Tepat pukul 16.00 WIB, kegiatan di Rumah Singgah Al-Furqon (RSAF) dimulai dengan doa bersama—sederhana, namun penuh makna.

Baca juga: Pendampingan Umsura Bikin Anak-Anak Rumah Singgah Al-Furqon Belajar dengan Gembira

Di ruang belajar itu, tiga relawan tutor hadir bukan sekadar mengajar. Mereka adalah David Ardiyanto, Mina Aprilia, dan Ninis Ayu Suryani—guru aktif di SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang memilih melanjutkan pengabdian selepas jam sekolah. Kehadiran mereka menjadi energi tersendiri bagi anak-anak yang selama ini tumbuh dalam keterbatasan.

RSAF sendiri merupakan salah satu amal usaha Pimpinan Ranting Muhammadiyah Medokan Semampir yang berfokus pada pendidikan bagi anak-anak duafa, penyandang disabilitas, serta kelompok marjinal. Di tempat ini, pendidikan dimaknai lebih luas—bukan sekadar transfer ilmu, tetapi upaya menghadirkan keadilan dan kemanusiaan bagi mereka yang kerap terpinggirkan.

Baca Juga:  Siswa SD Muhammadiyah 16 Surabaya Tebar Senyum di Rumah Singgah Kanker

Direktur RSAF, Yusfit Efendy, menjelaskan bahwa kondisi anak-anak yang belajar di sana sangat beragam. Banyak di antaranya masih tertinggal dalam kemampuan dasar seperti membaca dan menulis.

“Sebagian besar adalah dhuafa dan disabilitas, bahkan banyak yang termasuk slow learner. Karena itu, fokus kami adalah membantu mereka mengejar ketertinggalan dari sekolah formal,” ujarnya.

Pendekatan pembelajaran di RSAF pun dirancang fleksibel dan penuh empati. Para tutor tidak hanya mengajarkan calistung (membaca, menulis, berhitung), tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar. Metode yang digunakan interaktif, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak, sehingga suasana belajar terasa hangat dan tanpa tekanan.

Bagi Mina Aprilia, keterlibatannya bukan sekadar kegiatan tambahan. “Ini panggilan hati. Melihat mereka berjuang dengan berbagai kesulitan, saya merasa harus hadir. Mereka butuh didampingi, bukan hanya diajar,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan David Ardiyanto. Ia melihat setiap anak di RSAF sebagai pribadi yang unik dan layak diperjuangkan.

“Mereka anak-anak spesial. Justru itu yang membuat saya terus termotivasi untuk mendampingi mereka,” katanya.

Baca Juga:  Tapak Suci, Deep Learning, dan Pendidikan Karakter di Sekolah Kreatif Baratajaya

Dukungan juga datang dari jajaran Muhammadiyah setempat. Sekretaris PRM Medokan Semampir, Ahmad Mahmudi, menilai RSAF sebagai wujud nyata dakwah sosial yang menyentuh masyarakat lapisan bawah.

“Ini bukan sekadar kegiatan belajar, tetapi pelayanan kemanusiaan. Anak-anak ini membutuhkan perhatian kita bersama,” ungkapnya.

Di tengah keterbatasan fasilitas, RSAF tetap mampu menghadirkan ruang belajar yang inklusif, humanis, dan penuh harapan. Setiap huruf yang berhasil dibaca, setiap angka yang mulai dipahami, menjadi langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.

Lebih dari sekadar tempat belajar, Rumah Singgah Al-Furqon adalah ruang tumbuh—tempat di mana harapan dirawat, dan masa depan perlahan dirajut. Di sana, ketulusan para relawan bertemu dengan semangat anak-anak, membuktikan bahwa harapan selalu menemukan jalannya, bahkan dari tempat yang paling sederhana. (#)

Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni