
Spemaju memperingati Hari Sumpah Pemuda Ke-97 dengan pembelajaran lintas disiplin bertema “Indonesia dalam Peristiwa” yang menghadirkan pengalaman belajar sejarah lebih hidup, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik.
Tagar.co — Ratusan siswa berseragam putih-biru tampak duduk khidmat memenuhi lantai Aula K.H. Ahmad Dahlan. Sorot mata mereka serempak tertuju pada layar Interactive Flat Panel (IFP) di depan, sesekali mencatat, sesekali berdiskusi kecil dengan temannya.
Para guru mendampingi dari sisi ruangan, menciptakan suasana hangat dan akrab yang membuat proses belajar tentang sejarah bangsa terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Baca juga: Studi Budaya Spemaju: Menggali Sejarah, Menantang Alam Yogyakarta
Di ruang sederhana namun hidup itu, Spemaju menghadirkan inovasi pembelajaran lintas disiplin dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-97 bertema “Indonesia dalam Peristiwa.” Momentum bersejarah ini bukan sekadar diperingati, tetapi dihidupkan kembali dalam ingatan generasi muda.
Kegiatan yang melibatkan empat mata pelajaran—Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Pancasila, serta Informatika dan Teknologi—dirancang untuk mengajak siswa memahami Sumpah Pemuda dari berbagai sudut pandang. Mulai dari jejak perjuangan pemuda masa lalu, nilai persatuan bangsa, hingga refleksi penerapannya dalam dunia modern saat ini.
Sejak pukul 06.45 WIB, siswa mengikuti Qur’an Learning sebagai pembiasaan karakter religius. Setelahnya, mereka menyelami materi sejarah lewat tayangan edukatif, berdiskusi kelompok, hingga memproduksi poster digital bertema nasionalisme melalui perangkat IFP yang merupakan dukungan teknologi dari pemerintah.

Keseriusan Sekolah
Kepala SMP Muhammadiyah 7 Cerme, Yuli Kusminarsih, menekankan bahwa pendekatan terpadu ini menjadi bukti keseriusan sekolah dalam merancang pembelajaran yang bermakna bagi siswa.
“Kami berharap pembelajaran lintas mata pelajaran dapat meningkatkan pemahaman, melatih berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam memaknai Sumpah Pemuda. Kami ingin siswa belajar sejarah dengan cara yang lebih variatif dan menyenangkan,” jelasnya.
Sementara itu, Kurnia Candra Irawan, guru PKn sekaligus ketua pelaksana kegiatan, berharap kesadaran sejarah terus tumbuh sebagai fondasi karakter generasi bangsa.
“Harapan saya, kegiatan ini menambah rasa sadar akan pentingnya memahami perjuangan para pendahulu bangsa,” tuturnya.

Respon Siswa
Respons siswa menunjukkan bahwa pembelajaran yang memanfaatkan teknologi digital mampu membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus memperkuat pemaknaan terhadap sejarah Indonesia.
“Acaranya sangat seru dan baik untuk ditonton oleh kami sebagai siswa-siswi SMP. Semoga kegiatan seperti ini selalu ada di setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda,” ujar Liviana Putri I, siswa kelas 8A.
“Acaranya seru dan membuat kami lebih tahu sejarah Sumpah Pemuda,” tambah Naura Yasmin A. I, siswa kelas 7A.
Dengan pendekatan pembelajaran yang inovatif, kolaboratif, dan berakar pada nilai keislaman serta kebangsaan, Spemaju menegaskan komitmennya melahirkan generasi cerdas, percaya diri, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.
Di sekolah ini, peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan hanya ritual tahunan, melainkan momentum menanamkan kembali semangat persatuan dalam diri peserta didik: bahwa mereka adalah pemuda-pemudi harapan bangsa yang siap menjaga Indonesia tetap satu. (#)
Jurnalis Syamsul Arifin Penyunting Mohammad Nurfatoni












