Feature

Studi Budaya Spemaju: Menggali Sejarah, Menantang Alam Yogyakarta

30
×

Studi Budaya Spemaju: Menggali Sejarah, Menantang Alam Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme berfoto bersama di depan pintu masuk Taman Wisata Candi Prambanan, Yogyakarta, pada 6 Oktober 2025 dalam rangkaian kegiatan Studi Budaya. (Tagar.co/Syamsul Arifin)

Dari Prambanan hingga Gamplong Studio, siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme menemukan cara belajar yang tak hanya di kelas, tapi juga lewat sejarah, budaya, dan alam Yogyakarta.

Tagar.co — Semangat belajar tak selalu lahir di ruang kelas. Itulah yang ditunjukkan siswa-siswi SMP Muhammadiyah 7 (Spemaju)  Cerme Gresik ketika mengikuti Studi Budaya ke Yogyakarta pada 6–8 Oktober 2025.

Selama tiga hari, mereka diajak menyelami jejak sejarah, kekayaan budaya, dan keindahan alam Nusantara dengan penuh antusias.

Program tahunan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas. Dengan menggandeng Anugerah Wisata Indonesia (AWI) Tour and Travel, perjalanan berlangsung aman, nyaman, sekaligus penuh makna.

Hari Pertama: Menyusuri Jejak Sejarah dan Budaya Kota

Perjalanan dimulai dari Candi Prambanan, kompleks megah peninggalan Hindu abad ke-9 yang menjadi saksi kejayaan peradaban klasik Jawa. Di bawah cahaya sore, siswa-siswi mendengarkan penjelasan pemandu tentang kisah Ramayana dan detail arsitektur yang sarat filosofi.

Dari sana, rombongan melanjutkan langkah ke Jalan Malioboro, jantung wisata Yogyakarta. Suasana ramai, pedagang kaki lima, dan interaksi masyarakat memberi pengalaman nyata tentang keberagaman budaya yang hidup di tengah denyut kota.

Baca Juga:  IGTKI Kecamatan Tarik Family Gathering Edukatif di Yogyakarta
Siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme berkunjung ke Gamplong Studio, Yogyakarta, dalam rangkaian Studi Budaya pada 6–8 Oktober 2025. (Tagar.co/Syamsul Arifin)

Hari Kedua: Dari Arsip Sejarah hingga Studio Film

Hari berikutnya dibuka dengan kunjungan ke Depo Arsip Diorama, di mana dokumen penting dan diorama perjuangan bangsa membuka wawasan sejarah baru bagi para pelajar.

Siang harinya, rombongan menuju Gamplong Studio Alam, lokasi syuting film terkenal yang kini menjadi destinasi edukasi kreatif. Di sana, siswa-siswi bisa melihat langsung bagaimana sebuah set film dibangun untuk menghadirkan kisah di layar lebar.

Sore menjelang, suasana berganti lebih santai di Pictnic Land, sebuah destinasi alam dengan sentuhan modern. Tawa riang, sesi foto, dan interaksi akrab antar siswa menjadi penutup indah hari kedua.

Siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme Gresik berkunjung ke Museum Mini Sisa Hartaku pada rangkaian Studi Budaya di Yogyakarta, 6–8 Oktober 2025 (Tagar.co/Syamsul Arifin)

Hari Ketiga: Menyatu dengan Alam dan Belajar Mandiri

Hari terakhir diisi dengan eksplorasi alam di Pantai Cemara Sewu. Debur ombak dan hamparan pasir memberi pengalaman segar setelah padatnya agenda sebelumnya.

Perjalanan berlanjut ke sentra produksi Kaos Oblong Jogja, tempat siswa belajar tentang kewirausahaan dan kreativitas lokal. Lalu, rombongan singgah di Museum Mini Sisa Hartaku, yang menyimpan peninggalan erupsi Merapi — mengingatkan semua pada kedahsyatan alam sekaligus ketabahan manusia.

Baca Juga:  DIY Juara Umum Olympicad VIII 2026 di Makassar

Sebagai puncak perjalanan, mereka menjajal Jeep Lava Tour, menelusuri jalur lahar dingin bekas erupsi Merapi. Seru, menegangkan, sekaligus reflektif. Di tengah percikan air dan jalur terjal, siswa belajar arti ketangguhan dan keberanian.

Siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme menikmati serunya Jeep Adventure Lava Tour Merapi dalam rangkaian Studi Budaya di Yogyakarta, 6–8 Oktober 2025. (Tagar.co/Syamsul Arifin)

Suara Siswa dan Guru

Callysta Ruby Vianda, siswi kelas VIIIB, mengaku sangat terkesan. “Saya senang sekali ikut studi budaya ini. Banyak pelajaran yang saya dapat, mulai dari sejarah sampai pengalaman seru naik Jeep. Pokoknya seru banget!” ujarnya penuh semangat.

Syamsul Arifin, guru seni budaya sekaligus pendamping, menambahkan: “Anak-anak antusias dan tertib. Mereka jadi lebih mudah memahami kebudayaan karena langsung berhadapan dengan objek nyata. Pertanyaan-pertanyaan baru muncul, menandakan rasa ingin tahu mereka semakin hidup.”

Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 7 Cerme, Yuli Kusminarsih, S.Pd. berfoto bersama para siswi di Gedung Arsip Diorama, Yogyakarta, dalam rangkaian Studi Budaya, 6–8 Oktober 2025. (Tagar.co/Syamsul Arifin)

Apresiasi dari Kepala Sekolah

Kepala Sekolah Spemaju, Yuli Kusminarsih, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan bangganya. “Kami berterima kasih kepada semua pihak, terutama AWI Tour and Travel. Studi budaya ini bukan hanya wisata edukasi, tapi juga cara melatih kemandirian siswa. Mereka belajar menyiapkan kebutuhan sendiri dan menikmati perjalanan dengan penuh tanggung jawab,” jelasnya.

Baca Juga:  IGTKI Kecamatan Tarik Family Gathering Edukatif di Yogyakarta

Tiga hari di Yogyakarta menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Ia menjelma ruang belajar yang luas: sejarah, seni, budaya, kewirausahaan, hingga pelajaran hidup tentang kerja sama, kemandirian, dan cinta lingkungan.

Spemaju pulang ke Gresik dengan cerita yang tak hanya akan tersimpan di album foto, tetapi juga di ingatan siswa-siswi yang kini membawa semangat baru dalam belajar. (#)

Jurnalis Syamsul Arifin Penyunting Mohammad Nurfatoni