
Dari Prambanan hingga Gamplong Studio, siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme menemukan cara belajar yang tak hanya di kelas, tapi juga lewat sejarah, budaya, dan alam Yogyakarta.
Tagar.co — Semangat belajar tak selalu lahir di ruang kelas. Itulah yang ditunjukkan siswa-siswi SMP Muhammadiyah 7 (Spemaju) Cerme Gresik ketika mengikuti Studi Budaya ke Yogyakarta pada 6–8 Oktober 2025.
Selama tiga hari, mereka diajak menyelami jejak sejarah, kekayaan budaya, dan keindahan alam Nusantara dengan penuh antusias.
Program tahunan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas. Dengan menggandeng Anugerah Wisata Indonesia (AWI) Tour and Travel, perjalanan berlangsung aman, nyaman, sekaligus penuh makna.
Hari Pertama: Menyusuri Jejak Sejarah dan Budaya Kota
Perjalanan dimulai dari Candi Prambanan, kompleks megah peninggalan Hindu abad ke-9 yang menjadi saksi kejayaan peradaban klasik Jawa. Di bawah cahaya sore, siswa-siswi mendengarkan penjelasan pemandu tentang kisah Ramayana dan detail arsitektur yang sarat filosofi.
Dari sana, rombongan melanjutkan langkah ke Jalan Malioboro, jantung wisata Yogyakarta. Suasana ramai, pedagang kaki lima, dan interaksi masyarakat memberi pengalaman nyata tentang keberagaman budaya yang hidup di tengah denyut kota.

Hari Kedua: Dari Arsip Sejarah hingga Studio Film
Hari berikutnya dibuka dengan kunjungan ke Depo Arsip Diorama, di mana dokumen penting dan diorama perjuangan bangsa membuka wawasan sejarah baru bagi para pelajar.
Siang harinya, rombongan menuju Gamplong Studio Alam, lokasi syuting film terkenal yang kini menjadi destinasi edukasi kreatif. Di sana, siswa-siswi bisa melihat langsung bagaimana sebuah set film dibangun untuk menghadirkan kisah di layar lebar.
Sore menjelang, suasana berganti lebih santai di Pictnic Land, sebuah destinasi alam dengan sentuhan modern. Tawa riang, sesi foto, dan interaksi akrab antar siswa menjadi penutup indah hari kedua.

Hari Ketiga: Menyatu dengan Alam dan Belajar Mandiri
Hari terakhir diisi dengan eksplorasi alam di Pantai Cemara Sewu. Debur ombak dan hamparan pasir memberi pengalaman segar setelah padatnya agenda sebelumnya.
Perjalanan berlanjut ke sentra produksi Kaos Oblong Jogja, tempat siswa belajar tentang kewirausahaan dan kreativitas lokal. Lalu, rombongan singgah di Museum Mini Sisa Hartaku, yang menyimpan peninggalan erupsi Merapi — mengingatkan semua pada kedahsyatan alam sekaligus ketabahan manusia.
Sebagai puncak perjalanan, mereka menjajal Jeep Lava Tour, menelusuri jalur lahar dingin bekas erupsi Merapi. Seru, menegangkan, sekaligus reflektif. Di tengah percikan air dan jalur terjal, siswa belajar arti ketangguhan dan keberanian.

Suara Siswa dan Guru
Callysta Ruby Vianda, siswi kelas VIIIB, mengaku sangat terkesan. “Saya senang sekali ikut studi budaya ini. Banyak pelajaran yang saya dapat, mulai dari sejarah sampai pengalaman seru naik Jeep. Pokoknya seru banget!” ujarnya penuh semangat.
Syamsul Arifin, guru seni budaya sekaligus pendamping, menambahkan: “Anak-anak antusias dan tertib. Mereka jadi lebih mudah memahami kebudayaan karena langsung berhadapan dengan objek nyata. Pertanyaan-pertanyaan baru muncul, menandakan rasa ingin tahu mereka semakin hidup.”

Apresiasi dari Kepala Sekolah
Kepala Sekolah Spemaju, Yuli Kusminarsih, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan bangganya. “Kami berterima kasih kepada semua pihak, terutama AWI Tour and Travel. Studi budaya ini bukan hanya wisata edukasi, tapi juga cara melatih kemandirian siswa. Mereka belajar menyiapkan kebutuhan sendiri dan menikmati perjalanan dengan penuh tanggung jawab,” jelasnya.
Tiga hari di Yogyakarta menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Ia menjelma ruang belajar yang luas: sejarah, seni, budaya, kewirausahaan, hingga pelajaran hidup tentang kerja sama, kemandirian, dan cinta lingkungan.
Spemaju pulang ke Gresik dengan cerita yang tak hanya akan tersimpan di album foto, tetapi juga di ingatan siswa-siswi yang kini membawa semangat baru dalam belajar. (#)
Jurnalis Syamsul Arifin Penyunting Mohammad Nurfatoni












