
Di tengah gempuran zaman, orang tua masih percaya: pesantren adalah tempat terbaik membentuk anak yang berilmu dan berakhlak. Madina Building PEM Gondanglegi jadi saksi, cinta umat pada pesantren belum pudar.
Tagar.co — Ahad pagi (13/7/2025), Madina Building—aula megah Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi, Kabupaten Malang—dipenuhi ratusan wajah muda dengan mata berbinar penuh harapan. Para santri baru duduk rapi; sebagian masih erat menggenggam jemari orang tua mereka—tak rela berpisah, namun juga tak sabar memulai lembaran hidup baru sebagai santri.
Lantunan qiraah menggema memenuhi ruangan, menciptakan suasana haru sekaligus khidmat. Beberapa wali santri menundukkan kepala, menyeka air mata yang jatuh tanpa disadari. Aula yang biasanya lapang kini penuh sesak hingga sejumlah keluarga rela berdiri di pinggir ruangan, menyaksikan prosesi serah terima santri baru dengan takzim.
Baca juga: Santri PEM Gondanglegi Belajar Mengolah Buah Murbei Jadi Peluang Usaha
Fenomena membludaknya santri ini menjadi potret kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai oase pendidikan karakter dan spiritualitas di tengah gempuran arus digital dan modernitas.

Pesan Menyentuh dari Podium
K.H. Fahri, S.Ag., M.M., Mudir PEM Gondanglegi, berdiri di atas podium dengan senyum hangat. Tatapannya menyapu aula yang dipenuhi ratusan pasang mata yang menyimpan sejuta doa, kecemasan, sekaligus keyakinan.
“Bapak Ibu sudah di jalur yang benar memondokkan anaknya. Ini adalah investasi besar yang hasilnya tak hanya dinikmati di dunia, tetapi juga di akhirat,” ujarnya.
Tepuk tangan bergemuruh dari kursi para wali santri. Suasana penuh haru ketika beberapa orang tua menundukkan kepala, menyeka sudut mata. Mereka sadar, hari itu menjadi langkah awal melepas buah hati mereka untuk ditempa menjadi generasi tangguh.
Kepada para santri, K.H. Fahri berpesan tegas namun penuh kasih:
“Kalau kamu keras pada diri sendiri, maka dunia akan lunak padamu. Tapi jika kamu lunak pada dirimu sendiri, maka dunia akan menghancurkanmu. Disiplinlah, bersungguh-sungguhlah, dan berdoalah, maka keberhasilan akan mengejarmu.”
Wejangan itu ibarat oase yang menyegarkan sekaligus tamparan lembut bagi generasi muda agar siap menghadapi tantangan zaman.

Suara Hati Wali Santri: “Kami Ikhlas dan Percaya Total”
Helmy Anna, salah satu wali santri yang diminta memberikan sambutan, menyuarakan isi hati banyak orang tua yang hadir hari itu:
“Saya ikhlas anak kami di PEM Gondanglegi, dan kami percaya total dengan pembinaan para asatiz dan asatizah. Semoga anak-anak kami tumbuh menjadi generasi saleh dan salihah yang membawa kebaikan untuk umat.”
Kata-kata tulus itu mengundang isak haru. Beberapa ibu mulai menangis pelan, sementara para ayah menunduk—berusaha menyembunyikan genangan air mata yang tak terbendung. Mereka sadar, memondokkan anak bukanlah keputusan ringan, tetapi justru inilah jalan terbaik untuk membekali mereka menghadapi dunia.

Pesantren: Kawah Candradimuka Pembentuk Generasi Tangguh
PEM Gondanglegi bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi kawah candradimuka pembentuk pribadi berakhlak mulia. Di sini, para santri akan digembleng:
-
Bangun sebelum Subuh untuk tahajud
-
Menghafal Al-Qur’an dengan sabar dan istikamah
-
Memahami kitab-kitab klasik sebagai fondasi agama
-
Mengasah kepemimpinan, kemandirian, dan mental juang
Semua proses panjang ini bertujuan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang keras pada diri sendiri, namun lembut terhadap sesama.

Madina Building Penuh: Tanda Berkah yang Mengharukan
Membeludaknya santri hingga Madina Building tak lagi cukup menampung adalah bukti nyata bahwa pesantren kian dicintai masyarakat. Di tengah era serba cepat dan materialistik, orang tua tetap mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada para kiai, ustaz, dan ustazah—mereka yang menjaga warisan ilmu para ulama.
Bagi banyak keluarga, pesantren adalah tempat terbaik untuk menempa anak menjadi generasi emas: berilmu, berakhlak, dan siap memimpin umat di masa depan.
Suasana penuh sesak di Madina Building hari itu bukan sekadar keramaian. Ia adalah simbol harapan—bahwa dari aula ini akan lahir generasi yang membawa rahmat ke seluruh alam. Generasi yang disiplin, kuat, dan penuh kasih sayang.
“Bapak Ibu sudah di jalur yang benar memondokkan anaknya. Dan ingatlah, wahai santri, keraslah pada dirimu hari ini, supaya dunia lunak padamu esok hari,” pesan KH. Fahri mengakhiri sambutannya.
Dari Madina Building, para santri baru memulai perjalanan. Sebuah perjalanan menuju ilmu, adab, dan keberkahan yang kelak akan menerangi dunia. (#)
Jurnalis Shabrinuha Bilmas Muhammad Penyunting Mohammad Nurfatoni












