
Islam bukan sekadar label agama, melainkan jalan hidup yang aktif dan penuh makna. Dari akar kata aslama hingga makna tauhid dan rahmat,
Oleh Shabrinuha Bilmas Muhammad; Dai Kristologi dan Pengasuh Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Tagar.co – Kita menyebut kata Islam setiap hari. Di masjid, di doa, bahkan di status media sosial kita. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: apa makna kata ini jika dilihat hingga ke akar bahasa Arabnya?
Dalam dunia tata bahasa Arab—nahwu (النحو) dan saraf (الصرف)—Islam bukan sekadar label agama. Ia adalah kata yang hidup, bernapas dengan lapisan makna yang memikat.
Secara saraf (morfologi), Islam berasal dari akar kata triliteral س ل م (s-l-m) yang melahirkan kata kerja أسلم (aslama)—yang berarti menyerahkan diri, berserah diri dengan sepenuh hati. Dari kata kerja ini lahirlah masdar (kata benda abstrak) إسلام (Islam): penyerahan diri secara total kepada Allah Swt.
Baca juga: Akhlak Mulia: Amal Terberat dalam Timbangan Kebaikan
Demikian juga penjelasan dalam Ilmu Isytiqaq atau Ilmu Sharaf (Ilmu Asal Usul Kata dalam Bahasa Arab), kata Islam berperan sebagai Isim masdar yang bersifat aktif—bukan pasif. Artinya, Islam bukan sekadar “status” yang ditempeli pada seseorang, tapi proses aktif, jalan hidup menuju kedamaian. Dari akar kata yang sama juga lahir:
- Salam (سلام) – kedamaian
- Taslim (تسليم) – mengucapkan salam/memberi keselamatan
- Muslim (مسلم) – orang yang berserah diri
Imam Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Alfazhil Qur’an menyebutkan:
الإسلام هو الانقياد لله بالطاعة، والخلوص من الشرك
Islam adalah tunduk kepada Allah dengan ketaatan, serta bersih dari segala bentuk kemusyrikan.
Jadi secara bahasa, Islam adalah perjalanan menuju harmoni dengan diri sendiri, sesama makhluk, dan Sang Pencipta.
Tauhid: Resonansi Ke-Esa-an dalam Semesta
Di jantung ajaran Islam berdenyut satu kata agung: Tauhid (التوحيد)—keyakinan bahwa hanya Allah Yang Maha Esa, tanpa sekutu dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya.
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١)
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. (Al-Ikhlas: 1)
Tauhid bukan sekadar teori teologis. Ia adalah pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan—kepada harta, kuasa, bahkan ego. Hanya kepada Allah kita bersandar.
Imam Syafi’i menggubah syair penuh refleksi:
إِذَا كَانَتِ الأُمُورُ بِأَسْبَابِهَا، فَمَنِ الَّذِي جَعَلَ السَّبَبَ سَبَبًا؟
Jika segala sesuatu ada sebabnya, siapa yang menjadikan sebab itu sebagai sebab?
Tauhid mengajarkan kita untuk menembus lapisan realitas, melihat bahwa segala sebab hanyalah bayangan dari Kehendak-Nya.
Rahmatan Lil ‘Alamin: Kasih Sayang Tanpa Batas
Dari inti Tauhid, memancar sebuah misi yang merangkul seluruh makhluk: Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)—rahmat bagi semesta. Allah menegaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (١٠٧)
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya’: 107)
Rahmat ini bukan hanya untuk manusia, tetapi juga hewan, tumbuhan, dan bumi yang kita pijak. Rasulullah ﷺ bersabda:
ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
Sayangilah makhluk di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian. (H.R. Abu Dawud)
Data dari Pew Research Center (2021) bahkan menunjukkan Muslim Indonesia mendukung hidup damai antaragama, dan Muslim di Afrika Utara menganggap menjaga lingkungan adalah bagian iman. Bukti bahwa rahmat itu hidup dalam hati umat.
Refleksi: Menjadi Pelita Rahmat
Islam adalah ajaran yang mengajarkan kita untuk mencintai Allah tanpa syarat, dan menyayangi makhluk-Nya tanpa batas. Al-Ghazali berkata dengan indah:
إنّ التوحيد الحقيقي هو عندما لا يبقى في قلبك إلا الله
Tauhid sejati adalah ketika tiada yang tinggal di hatimu selain Allah. Dari hati yang penuh Allah, lahirlah rahmat yang menyejukkan semesta.
Bayangkan jika setiap Muslim benar-benar menjadikan dirinya pancaran Rahmatan lil ‘Alamin—tidak ada lagi bumi yang gersang oleh keserakahan, tidak ada lagi manusia yang tersakiti oleh kebencian.
Referensi
- Al-Quran Al-Karim
- Sahih Bukhari dan Muslim
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
- Raghib Al-Asfahani, Mufradat Alfazhil Qur’an
- Pew Research Center (2021)
Islam bukan hanya tentang mengenal Allah dengan akal, tetapi menghadirkan rahmat-Nya dengan amal. (#)












