Feature

Pilih Mana: Pemimpin Saleh atau Pemimpin Terampil Manajemen?

39
×

Pilih Mana: Pemimpin Saleh atau Pemimpin Terampil Manajemen?

Sebarkan artikel ini
Ustaz Abdul Basith, Lc., M.Pd.I didampingi moderator Ayu Mira, S.T., S.Pd. di Baitul Arqam PCA GKB hari kedua. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Pemimpin profetik seperti apa menurut perspektif Muhammadiyah? Jika terpaksa berhadapan dengan dua pilihan, yang Saleh atau yang punya keterampilan manajamen, pilih yang mana?

Tagar.co – Hari kedua Baitul Arqam tak menyurutkan semangat para peserta. Meski telah berusia di atas 40 tahun, ibu-ibu berseragam batik baru khas PCA GKB dengan kerudung cokelat itu kompak menyimak pemateri.

Ahad (1/12/2024) pagi, terhitung sudah tiga materi yang mereka terima pada Baitul Arqam Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) GKB.

Materi keempat, Implementasi Risalah Islam Berkemajuan dalam Kepemimpinan Profetik. Pematerinya Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim Ustadz Abdul Basith, Lc., M.Pd.I.

Awalnya Basith menjelaskan, perspektif Muhammadiyah mengenai Islam berkemajuan. Ia menekankan, Islam agama yang dinamis. Walau rujukannya Al-Qur’an dan As-Sunnah, kata Basith, nanti muncul fleksibilitas pada implementasinya.

“Memunculkan konsep orang Islam, seyogyanya, posisinya berada di tengah. Kita menjadi penengah yang orientasinya Islam itu gampang, bisa diimplementasikan di berbagai zaman,” ujarnya.

Selain itu, Islam sebagai agama yang progresif. “Ada dorongan untuk tetap maju,” terangnya di Andalusia Hall SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas).

Baca Juga:  Dari Aula Telogo Sewu, IPM Kids Mugeb Primary School Memulai Petualangan

Islam dan Perkembangan Zaman

Agama Islam juga membawa perubahan positif sesuai tuntutan zaman. “Islam selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan zaman selalu berbarengan dengan nilai keislaman,” tuturnya.

Ia mencontohkan, ponsel yang kita pakai biasanya berganti sesuai perkembangan zaman. Tapi dalam penggunaannya, kita tentu selalu mengupayakan agar muncul nilai keislaman.

Sebagian orang menganggap HP mengandung mudarat. Lantas bagaimana Muhammadiyah menyikapinya? Pertanyaan retorik Basith luncurkan, “Apakah Muhammadiyah melarang penggunaan HP?”

Dengan tegas ia menyatakan tidak. “Karena kita hidup di negara demokrasi, yang bisa kita lakukan adalah mengimplementasikan Islam berkemajuan,” imbuhnya.

Contoh lainnya, kata Basith, bagaimana caranya anak-anak yang nongkrong di kafe itu muncul nilai keislamannya. “Tanpa menutup kafe, di sana kita adakan kajian Islami,” tuturnya.

Peserta Baitul Arqam Pimpinan Cabang Aisyiyah GKB yang tetap semangat mengikuti sampai hari kedua. (Tagar.co/Istimewa)

Kepemimpinan Profetik

Model kepemimpinan profetik, kata Basith, berdasarkan sifat-sifat Nabi. Yakni jujur, amanah, tabligh, dan fathonah.

Prinsip pertama, sidik (jujur), berarti menjunjung kebenaran dalam semua aspek.

Kedua, amanah (dapat dipercaya), berarti punya komitmen tinggi dalam menjalankan tugas.

Baca Juga:  Dalam Hening, Teman Tuli Mengaji Isyarat: Semangat Awal Tahun di Doudo

Ia lantas melontarkan pertanyaan menarik, “Pilih pemimpin yang saleh tapi kemampuan manajerialnya gak bagus atau gak saleh tapi kemampuan manajerialnya bagus?”

Hampir seluruh peserta angkat tangan ketika ia menyebutkan pilihan pertama. Sambil tersenyum, ia menegaskan, jawaban yang tepat ialah pilihan kedua.

“Pilih yang kedua! Karena gak saleh itu ruginya ke diri sendiri tapi kalau manajerial gak bagus, ruginya ke orang banyak,” terangnya.

Meski harapannya, kedua hal itu sama-sama dimiliki seorang pemimpin. Namun jika harus memilih, lanjutnya, pilihan kedua lebih baik.

Ketiga, tablig (menyampaikan), berarti komunikatif menyampaikan kebenaran dengan hikmah.

Karakter berikutnya, fatanah (cerdas). “Cerdasnya pemimpin tidak diukur berdasarkan akademik tapi bagaimana bijaknya ia ketika mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. Di Muhammadiyah harus bisa itu,” tegasnya.

Tantangan Kepemimpinan Profetik

Di hadapan para ibu-ibu Aisyiyah GKB, Basith mengungkap tiga tantangan dalam mengimplementasikan kepemimpinan profetik. Yakni globalisasi, materialistis, dan diskripsi teknologi.

“Tren materialistis mengikis spiritualitas di era modern ini,” ujarnya.

Karena itulah perlu pemimpin adaptif tapi tetap memegang nilai-nilai Islam. “Boleh Tiktok-an, tapi nilai-nilai keislamannya dimunculkan,” tuturnya.

Baca Juga:  Menegakkan Bendera di Bawah Gerimis, IPM Kids Mugeb Catat Sejarah

Pria asal Gresik ini lantas menekankan, kepemimpinan profetik menurut Muhammadiyah bertujuan mewujudkan masyarakat berkeadilan, berkemajuan, dan berbasis akhlak.

“Jiwa profetik berarti harus mencontoh Nabi. Dalam diri Muhammad ada uswah hasanah bagi yang hidupnya mengharap rida Allah. Berharap ketika kembali di akhirat mendapatkan kebaikan. Kembali pada Allah dengan baik,” jelasnya.

Ia lalu mengungkapkan, orang yang paling baik di hadapan Allah adalah yang bertakwa. “Kepintaran bukan tujuan utama Allah mengutus Rasul. Akhlak yang utama,” imbuhnya. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni