Feature

Lima Tahun UMM Istikamah Jalankan Kurban Ramah Lingkungan

43
×

Lima Tahun UMM Istikamah Jalankan Kurban Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Penggunaan besek dalam kurban di UMM (Foto Humas UMM)

Universitas Muhammadiyah Malang konsisten menggelar kurban ramah lingkungan dan halal. Tanpa plastik, dengan hewan sehat, dan penyembelih terlatih, UMM menjadi pelopor kampus berkelanjutan dalam Iduladha.

Tagar.co Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melanjutkan komitmennya dalam melaksanakan kurban yang ramah lingkungan dan sesuai dengan prinsip halal. Sudah lima tahun terakhir, Kampus Putih ini konsisten mengusung konsep green and halal kurban, termasuk dalam pelaksanaan Iduladha tahun 2025.

UMM tak sekadar menyembelih dan membagi daging, tetapi juga memastikan seluruh proses kurban memerhatikan aspek kebersihan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan. Salah satunya dengan menghindari penggunaan kantong plastik dan menggantinya dengan kemasan ramah lingkungan seperti besek, daun jati, dan daun pisang.

Baca juga: Kurban UMM Sampai Filipina, Bentuk Dukungan pada Komunitas Muslim Minoritas

Salah satu koordinator kurban di UMM, Ali Mahmud, M.Pt., menjelaskan bahwa konsep green and halal diterapkan sejak tahap awal hingga distribusi daging kepada masyarakat. “Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan hewan ternak yang sudah divaksin, baik LSD maupun penyakit mulut dan kaki. Selain itu harus mengecek secara fisiologis di antaranya memilih hewan yang berdaging, gemuk, dan cukup umur. Pemilihan ini dilakukan langsung oleh sederet dokter hewan yang UMM miliki,” ungkapnya.

Baca Juga:  Followers Jadi Tiket Masuk Kampus, UMM Buka Jalur Kuliah tanpa Tes bagi Konten Kreator

Ia menambahkan bahwa hewan kurban harus memenuhi standar animal welfare agar tidak stres saat proses penyembelihan. Tim UMM bekerja memastikan setiap hewan layak secara fisik dan mental, sehingga proses ibadah berjalan lancar dan sesuai syariat.

Dalam hal pengemasan, UMM sejak lima hingga enam tahun terakhir sudah meninggalkan plastik sekali pakai. “Berbeda dengan bungkus bahan organik, jika plastik dibuang di tempat sampah, plastik cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dikerubungi oleh lalat. Hingga pada akhirnya muncul belatung yang mengganggu lingkungan,” katanya.

Kualitas alat dan kompetensi penyembelih pun menjadi perhatian. Di UMM, pisau untuk penyembelihan dibedakan sesuai kebutuhan—ada pisau khusus untuk menyembelih dan pisau untuk boning (memisahkan daging dari tulang). Para juru sembelih juga telah mengikuti pelatihan Juleha (Juru Sembelih Halal) yang diselenggarakan oleh Halal Center UMM.

Ali berharap model green kurban yang dijalankan UMM dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. “Dengan begitu, perayaan Iduladha tetap menyenangkan sekaligus lingkungan tetap aman dan nyaman,” tuturnya. (*)

Baca Juga:  UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

Penyunting Mohammad Nurfatoni