
Di ruang terbuka yang teduh, siswa SD Almadany menyerap nilai persatuan, keberanian, dan cita-cita bersama Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Gresik dalam peringatan Sumpah Pemuda.
Tagar.co – Suasana rindang di bawah naungan pohon pule depan Perpustakaan Ruang Terbuka SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) menjadi panggung edukatif bagi ratusan siswa dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Selasa (28/10/2025).
Tak hanya upacara seremonial, sekolah menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Gresik, Safiq Abdillah, S.T., M.M.,, untuk menginspirasi para peserta didik tentang makna perjuangan pemuda sepanjang zaman.
Baca juga:Gedung Sumpah Pemuda Dulu Milik Orang Cina
Safiq, yang juga Kepala SMK Muhammadiyah 5 Gresik, mengaku antusias bisa berinteraksi langsung dengan siswa sekolah dasar. “Biasanya saya bertemu remaja di SMK. Hari ini saya bangga melihat semangat adik-adik SD Almadany dengan balutan merah putih yang ceria,” ujarnya.
Seluruh siswa kelas I sampai VI duduk tertib sesuai kelas masing-masing, didampingi wali kelas dengan busana bernuansa merah putih yang menggambarkan semangat nasionalisme. Acara dipandu oleh dua pembawa acara, Samsudin, S.Pd., dan Lilis Setyawati, S.Pd.
Dalam sambutan pembuka, Kepala Sekolah SD Almadany, Lilik Isnawati, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa semangat pemuda hari ini harus jauh lebih kuat.
“Tantangan pemuda zaman dahulu sangat berat. Kita yang hidup di era serba mudah ini justru harus meningkatkkan kualitas diri, termasuk menjaga ibadah dan salat lima waktu,” pesannya.
Potensi Pemuda Pengguncang Dunia
Materi utama disampaikan Safiq Abdillah, dipandu oleh moderator Mahfudz Effendi, S.Pd., M.M. Mahfudz membuka sesi dengan kutipan populer Ir. Sukarno:
“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Gunung Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”
Mahfudz menekankan bahwa pepatah tersebut menggambarkan besarnya potensi generasi muda dalam membawa perubahan bangsa.
Safiq kemudian memantik rasa ingin tahu siswa lewat pertanyaan interaktif mengenai keberagaman suku di Indonesia. Lima siswa berani maju dan menyebutkan suku-suku yang mereka ketahui.
Dari sana, Safiq mengaitkan keberagaman tersebut dengan sejarah lahirnya Sumpah Pemuda.
Ikrar yang Tak Boleh Luntur
Momen sakral terjadi ketika perwakilan tiap kelas maju untuk membacakan tiga ikrar Sumpah Pemuda dengan lantang dan penuh keyakinan.
Kalimat yang dilafalkan itu bukan sekadar teks sejarah, tetapi janji yang diwariskan dari para pemuda 1928:
- Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
- Berbangsa satu, bangsa Indonesia.
- Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Safiq menjelaskan bahwa ikrar tersebut harus terus hidup dalam hati generasi muda, termasuk para siswa SD Almadany. Persatuan, nasionalisme, dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia adalah fondasi masa depan bangsa, terutama di tengah derasnya arus globalisasi yang dapat mengikis identitas.
Ia lalu menegaskan tiga pesan penting sebagai bekal masa depan bagi para siswa:
-
Harus punya cita-cita.
-
Tidak boleh takut gagal.
-
Selalu memiliki motivasi dan inovasi.
“Saya terkesan dengan keberanian dan rasa percaya diri adik-adik semua. Pertahankan semangat itu sampai kalian bisa menggapai cita-cita tertinggi,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta.
Acara ditutup dengan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda secara serentak oleh seluruh siswa serta sesi foto setiap jenjang di panggung merah putih. Keceriaan dan antusiasme tampak nyata, menjadi cerminan bahwa nasionalisme tetap tumbuh kuat di lingkungan SD Almadany. (#)
Jurnalis Eli Syarifah Penyunting Mohammad Nurfatoni












