Feature

Kajian Sabtu Pagi Hadir Lagi di Masjid At-Tanwir, Ada Sarapan Bareng dan Paket Sayur Gratis

70
×

Kajian Sabtu Pagi Hadir Lagi di Masjid At-Tanwir, Ada Sarapan Bareng dan Paket Sayur Gratis

Sebarkan artikel ini
Kajian Sabtu Pagi di Masjid At-Tanwir Gresik mengingatkan empat sebab penyesalan penghuni Saqar. Setelah kajian, jemaah dapat sarapan bakso gratis dan sepaket sayur. 
Jemaah Masjid At-Tanwir fokus menyimak penjelasan KH. Farid Dhofir, Lc., M.Si., Mudir Ponpes Refah Islami Dukun. (Tagar.co/Abdul Rozak)

Kajian Sabtu Pagi di Masjid At-Tanwir Gresik mengingatkan empat sebab penyesalan penghuni Saqar. Setelah kajian, jemaah dapat sarapan bakso gratis dan sepaket sayur.

Tagar.co – Pagi di Masjid At-Tanwir, Randuagung, Kebomas, Gresik, kembali menemukan ritmenya. Sabtu (2/5/2026), selepas Subuh, jemaah mulai berdatangan—mengisi ruang yang sempat sunyi oleh jeda Ramadan dan hangatnya Idulfitri. Pimpinan Ranting Muhammadiyah 4 GKB menyelenggarakannya kembali.

Pukul 06.15 WIB, Pengajian Sabtu Pagi berlangsung hingga 07.30 WIB. Di awal kegiatan, Abdul Rozak membuka dengan pengingat yang jernih.

“Kajian rutin ini sempat terhenti saat Ramadan dan Idulfitri. Alhamdulillah, kini dapat kita mulai kembali di bulan Dzulqa’dah,” ujar Rozak, sapaan akrabnya.

Ketua takmir masjid itu lalu menyampaikan rencana kegiatan Iduladha, sekaligus mengingatkan pembangunan tempat wudu putri yang masih membutuhkan dukungan. “Mudah-mudahan, dengan keikhlasan kita, bisa selesai dalam tiga bulan mendatang.”

Kajian Sabtu Pagi di Masjid At-Tanwir Gresik mengingatkan empat sebab penyesalan penghuni Saqar. Setelah kajian, jemaah dapat sarapan bakso gratis dan sepaket sayur. 
Jemaah memenuhi Masjid At-Tanwir pada Kajian Sabtu Pagi (2/5/2026). (Tagar.co/Abdul Rozak)

Belajar dari Penyesalan yang Terlambat

Tema yang diangkat pagi itu, “Penyesalan Penghuni Neraka Saqar”, mengajak jamaah masuk pada tadabbur Surat Al-Muddatstsir ayat 40–47 bersama KH. Farid Dhofir, Lc., M.Si. Mudir Ponpes Refah Islami Dukun itu mengingatkan, ayat-ayat ini bukan sekadar kisah akhirat, tetapi cermin kehidupan hari ini.

“Kita perlu tahu agar apa yang sudah mereka sesali, jangan kita ulangi,” pesannya.

Kemudian ia menjelaskan, dalam gambaran Al-Qur’an, orang-orang di surga saling bertanya, saling mencari—mengingat mereka yang dulu bersama di dunia. Namun tidak semua ditemukan.

Dari sini ia menunjukkan, relasi dunia tidak menjamin kebersamaan di akhirat. “Jadi kita perlu khawatir. Istilah Jawa ‘suwargo nunut, neraka katut’ itu tidak berlaku,” tegasnya.

Baca Juga:  Risma: Perempuan Tak Perlu Takut saat Berniat Baik

Ketika Penyesalan Berbicara

Orang-orang yang dicari itu adalah mujrimin—mereka yang banyak dosanya. “Jangan jadikan sebagai nama anak cucu,” selorohnya, memantik tawa jamaah. Namun di balik tawa itu, tersimpan peringatan yang dalam.

Ketika ditanya apa yang membuat mereka masuk neraka Saqar, jawabannya menjadi cermin bagi kehidupan hari ini. Pertama, mereka meninggalkan salat. “Kalau ada di antara anak-anak kita tidak salat, tidak perlu Bapak Ibu cari di surga, tidak akan ada.”

Salat bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab keluarga. “Salat itu perintah keluarga. Jangan diserahkan ke guru di sekolah atau TPQ,” ujarnya.

Salat, kata Farid Dhofir, adalah hubungan langsung antara hamba dengan Allah. Dalam kondisi apa pun—banyak dosa, banyak masalah—salat tidak boleh mereka tinggalkan.

Kedua: mereka tidak peduli pada sesama. Mereka tidak memberi makan orang miskin. Sifat bakhil menjadi sebab. Padahal Islam mengajarkan berbagi dari hal sederhana: makanan, oleh-oleh, hingga perhatian pada tetangga terdekat. Hubungan sosial, jika diabaikan, bisa menjadi sebab penyesalan.

“Setiap orang yang mencium bau masakanmu, berikan juga,” pesannya.

“Setelah bepergian dan membawa oleh-oleh, Nabi menyarankan untuk memberikan kepada tetangga yang pintu rumahnya paling dekat dengan rumah kita. Hubungan dengan sesama Muslim harus kita perbaiki,” imbuhnya.

Kajian Sabtu Pagi di Masjid At-Tanwir Gresik mengingatkan empat sebab penyesalan penghuni Saqar. Setelah kajian, jemaah dapat sarapan bakso gratis dan sepaket sayur. 
KH. Farid Dhofir, Lc., M.Si., Mudir Ponpes Refah Islami Dukun. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Percakapan Sia-Sia

Berikutnya, ketiga, mereka larut dalam percakapan yang sia-sia. Berkumpul, berbicara, tetapi tidak menambah pahala—justru menambah dosa. Hal ini bisa terjadi di mana saja. Di warung, di masjid, di jalan, bahkan saat menunggu atau sekadar mengantar. “Ketemu orang harusnya menambah iman,” ujarnya. Jika tidak, lebih baik tidak berkumpul.

Baca Juga:  FLP Gresik Punya Nakhoda Baru, Siti Maulina Siap Lanjutkan Dakwah lewat Pena

Di era sekarang, percakapan itu bahkan meluas ke layar kecil di tangan. “Ketika ada HP, tambah banyak obrolan menambah dosa. Ada berapa grup di HP kita?” tanyanya.

Ia menyadari, percakapan tidak lagi terbatas ruang. “Kita pastikan yang kita ucapkan, bagikan, unggah itu bermanfaat. Menambah pahala dan tidak menyakiti orang.”

Terakhir, keempat, mereka tidak percaya Hari Pembalasan. Para penghuni Saqar mengakui, dulu mereka hidup tanpa kesadaran akan adanya hari perhitungan. Kata Farid Dhofir, kata Ad-Din memiliki banyak makna. Bisa berarti agama, tetapi dalam konteks ini bermakna Hari Pembalasan.

Ketika keyakinan itu lemah, lanjut Farid Dhofir, perilaku pun ikut longgar. Ia mengaitkan dengan sikap terhadap anak yatim. “Orang yang tidak peduli pada yatim, sama dengan tidak percaya Hari Pembalasan,” ujarnya.

Sebuah kalimat yang tidak sekadar mengingatkan, tetapi juga mengukur sejauh mana iman itu benar-benar hidup dalam tindakan.

Kajian Sabtu Pagi di Masjid At-Tanwir Gresik mengingatkan empat sebab penyesalan penghuni Saqar. Setelah kajian, jemaah dapat sarapan bakso gratis dan sepaket sayur. 
Jemaah wanita antre mengambil sepaket sayur setelah kajian. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Rumah, Gawai, dan Subuh yang Tertinggal

Adapun terkait poin pertama, salat, ustaz asal Dukun, Gresik, Jawa Timur, itu menyadari, mendidik anak agar disiplin salat bukan perkara ringan. Farid Dhofir menyadari hal ini menuntut kesabaran panjang dan keteladanan nyata. “Yang tidak sabar, tidak akan sukses.”

Mengajak anak salat Subuh di masjid menjadi ujian tersendiri. “Bapaknya ke masjid atau tidak?”

Baca Juga:  Penampilan Perdana Mugeb Teacher Band Mengguncang Panggung Milad

Selanjutnya, ia juga menyinggung pola hidup anak-anak hari ini. Gawai, gim, dan percakapan tanpa batas di media sosial menjadi kehidupan sesungguhnya bagi anak. Malam menjadi panjang dan waktu tidur bergeser jauh. “Jam 1 atau 2 baru tidur.” Subuh pun perlahan ditinggalkan.

Menurutnya, perbaikan juga perlu dimulai dari hal paling dasar: wudu. “Perlu diperhatikan bagaimana anak kita wudunya sah, salatnya sah.”

Hal kecil yang sering luput justru menentukan sah atau tidaknya ibadah. Dari situ, orangtua diminta hadir—menuntun, mendampingi, membiasakan. “Orangtua jangan letih menuntun anak. Harus sabar.”

Kajian Sabtu Pagi mengingatkan empat sebab penyesalan penghuni Saqar. Setelah kajian, jemaah dapat sarapan bakso gratis dan sepaket sayur. 
Sebagian jemaah wanita yang sarapan bersama di teras samping masjid. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Mengaji, Menguatkan, dan Menggerakkan

Pagi itu, kajian bukan hanya tentang memahami ayat, tetapi tentang memilih jalan. Sebab, penyesalan para penghuni Saqar bukan karena mereka tidak tahu—tetapi karena mereka menunda salat, peduli, menjaga lisan, dan meyakini hari pembalasan sepenuh hati. Sampai akhirnya kematian datang—dan semua penjelasan berubah menjadi pengakuan.

Hari ini, semuanya masih bisa diubah. Dan mungkin, itulah pesan terpenting dari pagi yang kembali dihidupkan di sana.

Akhirnya, Rozaq kembali ke tengah jemaah. Ia mempersilakan mereka sarapan bakso bersama dan mengambil sepaket sayur sebelum pulang. Ada dua jenis sayur yang takmir bagikan. Pertama, sayur terong, kacang panjang, dan tempe. Kedua, sayur sop terdiri dari kubis, wortel, kentang, dan buncis. Para jemaah pun sarapan bersama di teras maupun halaman masjid yang sudah digelari terpal. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni