Feature

Orientasi Amal: Cukup Rida Allah, Bukan Validasi Manusia

102
×

Orientasi Amal: Cukup Rida Allah, Bukan Validasi Manusia

Sebarkan artikel ini
Ustaz Rozak Akbar daama kajian Subuh di Masjid Al-Hikmah Sumorame. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Kajian Subuh di Masjid Al-Hikmah Sumorame mengingatkan pentingnya meluruskan niat berbuat baik semata karena Allah agar tidak mudah kecewa oleh respons manusia.

Tagar.co – Suasana Subuh di Masjid Al-Hikmah Sumorame terasa lebih hening dan khusyuk. Jemaah Ranting Muhammadiyah Sumorame, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kembali memenuhi saf untuk mengikuti Kajian Subuh, Senin (2/3/2026).

Baca juga: Atap Rumahnya Runtuh, Pensiunan Guru di Sidoarjo Menanti Kepedulian

Dalam tausiahnya, Rozak Akbar mengangkat tema yang dekat dengan realitas sosial: Berbuatlah Baik karena Allah agar Tidak Kecewa dan Sakit Hati. Ia menegaskan bahwa perintah takwa bukanlah instruksi sesaat, melainkan ikhtiar berkelanjutan menjaga kualitas ketaatan.

“Perintah takwa itu bukan perintah sesaat. Ia adalah usaha terus-menerus menjaga kualitas ketaatan,” tegasnya di awal kajian.

Menurut Rozak, Ramadan tidak sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga saat yang tepat untuk meluruskan orientasi hidup, termasuk dalam urusan berbuat baik. Ia menyoroti fenomena ketika seseorang telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan untuk membantu orang lain, tetapi justru menerima respons sinis atau tudingan kepentingan tersembunyi.

Baca Juga:  Rakerwil LP UMKM PWM Jatim, Nazaruddin Malik Tegaskan UMKM Harus Berdampak

“Sudah berusaha ikhlas, tetap saja sakit hati. Kenapa? Jangan-jangan bukan karena orang lain jahat, tapi karena kita salah berharap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, akar kekecewaan kerap bukan pada tindakan orang lain, melainkan pada ekspektasi diri yang terlalu tinggi kepada manusia. Keinginan untuk dihargai, dipahami, dan diakui sering menjadi sumber luka batin ketika harapan itu tidak terpenuhi.

Rozak mengingatkan prinsip penting dalam kehidupan beriman: siapa yang mengharap rida Allah meski berisiko mendapat kemarahan manusia, maka Allah akan mencukupkan urusannya dengan manusia.

“Kalau orientasi kita Allah, Allah yang akan mengatur hati manusia. Tapi kalau orientasi kita manusia, siap-siap kecewa,” katanya.

Ia juga menyinggung gejala sosial ketika orang baik berubah menjadi keras karena merasa tidak dihargai. Kebaikan yang semula tulus perlahan memudar akibat kelelahan batin.

“Jangan sampai kita berhenti berbuat baik hanya karena respons orang lain tidak sesuai harapan,” pesannya.

Rozak mengingatkan bahwa manusia memiliki sisi salah dan lupa. Salah paham, keliru menilai, bahkan menyakiti sering terjadi bukan semata karena kebencian, melainkan karena keterbatasan manusia.

Baca Juga:  Ketua Lazismu Jatim Tekankan UMKM Harus Berkelanjutan

“Memanusiakan manusia itu artinya sadar bahwa mereka bisa salah. Jadi jangan menuntut terlalu tinggi agar tidak mudah sakit hati,” ujarnya.

Ia menegaskan, kekecewaan sejatinya muncul bukan karena perlakuan orang lain, melainkan ketika seseorang mundur dari kebaikan akibat respons tersebut. Di situlah letak ujian tauhid.

“Inti tauhid itu cukup rida Allah. Jangan sibuk mencari validasi manusia. Itu melelahkan dan pasti mengecewakan,” tegasnya.

Memasuki pertengahan Ramadan, Rozak mengajak jemaah bermuhasabah: apakah amal yang dilakukan benar-benar lillah, atau masih terselip keinginan untuk dipuji dan disorot.

Ia menekankan, berbuat baik bukan untuk dukungan, pencitraan, atau tepuk tangan. Amal saleh adalah prestasi di hadapan Allah, bukan panggung di hadapan manusia.

“Kalau jalan kita benar dan tujuannya rida Allah, teruskan. Allah Maha Melihat. Itu cukup membuat kita tenang,” tutupnya.

Pada Ramadan ke-13 ini, pesan tersebut terasa kian relevan: luruskan niat, kecilkan ekspektasi kepada manusia, dan besarkan harapan hanya kepada Allah. Saat rida-Nya menjadi tujuan, kekecewaan tak lagi mendapat tempat di hati. (#)

Baca Juga:  Tak Cukup Angka dan Laporan, Lazismu Butuh Modal Batin

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni