FeatureUtama

Tak Cukup Angka dan Laporan, Lazismu Butuh Modal Batin

×

Tak Cukup Angka dan Laporan, Lazismu Butuh Modal Batin

Sebarkan artikel ini
Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, drh. Zainul Muslimin, memberikan sambutan dalam acara Pelatihan Simziska, Kamis 12 Februari 2026 (Tagar.co/Devangga)

Bendahara PWM Jawa Timur Zainul Muslimin menegaskan, pengelolaan zakat tak cukup bertumpu pada angka dan laporan. Rasa aman, kebahagiaan, dan jaringan yang kuat menjadi “modal batin” agar gerakan Lazismu tumbuh berkelanjutan.

Tagar.co – Mengelola zakat tidak cukup dengan laporan keuangan yang rapi, target penghimpunan yang tercapai, atau program yang tertata di atas kertas. Di balik sistem dan angka-angka, ada “modal batin” yang justru menentukan keberlanjutan gerakan: rasa aman, rasa bahagia, dan jaringan yang kuat.

Pesan itu ditegaskan Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, drh. Zainul Muslimin, saat membuka Pelatihan Simziska Lazismu Jawa Timur, Kamis (12/2/2026), di Aula Lantai 3 Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kerto Menanggal IV No. 1, Surabaya.

Baca juga: Lazismu Jatim Tinggalkan Pola Manual, Simziska Jadi Pilar Tata Kelola Ziska Modern

Menurut Zainul, kemajuan Lazismu tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem, melainkan oleh suasana yang tercipta di dalam organisasi.

“Rasa aman, rasa bahagia, dan kemampuan membangun jaringan—itu kunci keberhasilan dalam mengelola Lazismu,” ujarnya.

Baca Juga:  Noe Letto di Milad Ke-50 Smamda: Dari Gundul-Gundul Pacul, Berkibarlah Benderaku, hingga Sebelum Cahaya

Suasana Batin Menentukan Energi Gerakan

Ia menekankan, para penggerak Lazismu harus merasakan kenyamanan dalam bekerja, bukan tekanan. Jika suasana batin tidak kuat, energi gerakan akan mudah melemah. Padahal, kerja-kerja filantropi menuntut ketekunan jangka panjang.

Zainul mengajak seluruh penggerak Lazismu di Jawa Timur membangun cara pandang baru yang lebih optimistis dan berani.

“Kita harus membangun harapan besar. Bukan sekadar out of the box, tapi mendobrak mindset,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar tidak terjebak pada narasi bahwa Muhammadiyah adalah minoritas sehingga merasa serba terbatas. Menurutnya, ada potensi besar yang sering luput disadari.

“Di luar sana masih banyak orang yang punya uang banyak—dan bingung mau dipakai apa,” ungkapnya.

Bagi Zainul, persoalannya bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada kemampuan Lazismu menghadirkan diri sebagai pintu kebaikan yang tepat dan meyakinkan.

Jangan Datang dengan Keluhan

Karena itu, ia meminta Lazismu tidak hadir dengan narasi keluhan atau pendekatan komunikasi yang membuat calon donatur merasa dibebani. Gerakan zakat, tegasnya, harus tampil sebagai solusi yang membahagiakan.

Baca Juga:  Puasa Ramadan Mendidik Kejujuran, Ketua PP Muhammadiyah Sebut sebagai Benteng Pencegah Korupsi

“Jangan kita datang dengan keluhan. Jangan sampai gerakan ini terasa membebani,” tegasnya.

Menurutnya, citra gerakan sangat menentukan kepercayaan publik. Jika Lazismu mampu menghadirkan rasa aman dan kebahagiaan, baik di internal organisasi maupun kepada para donatur, maka jejaring akan tumbuh dengan sendirinya.

Jaringan Spiritual sebagai “Tools Utama”

Lebih jauh, Zainul mengingatkan bahwa kekuatan Lazismu bukan hanya jaringan manusia, tetapi juga jaringan spiritual: kedekatan kepada Allah Swt. Ia menyebutnya sebagai “tools utama” dalam mengelola gerakan zakat.

Ikhtiar profesional tetap penting, katanya, tetapi tidak cukup tanpa fondasi spiritual yang kokoh. Kerja-kerja zakat selalu berhadapan dengan berbagai tantangan—mulai dari keterbatasan sumber daya, hambatan eksternal, hingga godaan untuk lelah dan menyerah.

“Janji Allah itu nyata. Kedekatan kepada Allah adalah tools utama. Tapi ikhtiar juga harus kuat. Ini butuh kekuatan spiritual yang luar biasa,” ujarnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa perjuangan dalam kebaikan pasti menghadapi rintangan.

“Setan dan orang-orang yang tidak suka gerakan kebaikan akan selalu menghambat,” katanya.

Baca Juga:  Ketua Lazismu Jatim Tekankan UMKM Harus Berkelanjutan

Optimisme Berbasis Janji Al-Qur’an

Menutup pesannya, Zainul menyampaikan nada optimistis. Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang bertakwa.

Pesan tersebut bukan sekadar penguatan rohani, tetapi pondasi mental agar para penggerak Lazismu tidak mudah patah di tengah tantangan.

“Bagi orang yang bertakwa, Al-Qur’an sudah menegaskan: Allah akan menghadirkan kemudahan dalam urusan-urusan kita,” ujarnya.

Dengan semangat itu, Pelatihan Simziska bukan hanya menjadi forum peningkatan kapasitas teknis, melainkan momentum memperkuat fondasi batin dan jaringan gerakan zakat di Jawa Timur—agar tumbuh dengan rasa aman, bahagia, dan penuh keyakinan. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyuting Mohammad Nurfatoni