OpiniUtama

‎Selamat Jalan Jenderal

4747
×

‎Selamat Jalan Jenderal

Sebarkan artikel ini
Selamat jalan jenderal
Jenderal TNI Purn Try Sutrisno

Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke‑6, wafat Senin pagi ini pada usia 90 tahun. Rakyat mengenang dia sosok militer yang teduh dan mengutamakan kepentingan negara.

Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – ‎ Senin pagi, 2 Maret 2026, bangsa Indonesia kembali merasakan detik hening yang berat.

Di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pukul 06.58 WIB, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke‑6, dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya pada usia 90 tahun.

Berita duka itu mengingatkan perjalanan hidup seorang pengabdi negara yang tulus, yang sepanjang hayatnya menempatkan kepentingan bangsa di atas diri sendiri.

Jenazahnya dibersihkan dan disemayamkan di rumah duka di Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat, tempat keluarga dan masyarakat memberi penghormatan terakhir.

Acara penghormatan nasional direncanakan saat salat jenazah di Masjid Agung Sunda Kelapa. Dilanjutkan pemakaman militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta sesuai protokol untuk tokoh nasional.

Kehadiran masyarakat, pejabat, dan purnawirawan di rumah duka menjadi bukti betapa besar penghormatan publik terhadap sosok yang sederhana namun tegar ini.

Baca Juga:  AI Generatif dan Integritas Jurnalisme

‎Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935 di kampung Genteng. Dari keluarga sederhana, ia menempuh pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) dan menapaki karier militer yang panjang dan penuh tantangan.

Setiap langkahnya dalam dunia militer — mulai dari operasi penumpasan PRRI hingga jabatan strategis sebagai Panglima ABRI — mencerminkan pengabdian total terhadap bangsa.

Tidak ada ambisi pribadi yang mendominasi. Yang ada hanyalah kesetiaan pada persatuan dan keutuhan Indonesia.

Sebagai Wakil Presiden RI dari 1993 hingga 1998, Try Sutrisno menghadapi masa-masa yang sarat gejolak.

Di tengah perubahan ekonomi dan dinamika sosial yang cepat, ia tampil sebagai sosok yang bersahaja namun teguh, menjaga stabilitas negara dan menegakkan integritas birokrasi.

Figur Try Sutrisno bukan hanya pengambil keputusan, tetapi juga penjaga jembatan antara militer dan sipil, antara tradisi dan modernitas, memastikan negara tetap berjalan meski tekanan politik dan sosial begitu berat.

Salah satu studi kasus penting dari kariernya adalah kepemimpinannya dalam operasi keamanan di berbagai daerah rawan konflik, termasuk Aceh pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Baca Juga:  PBI Dicabut Pemerintah, Pasien Gagal Ginjal Menderita

Try menekankan keseimbangan antara kekuatan negara dan kemanusiaan, menjaga agar keputusan militer tetap memperhatikan hak dan keselamatan warga sipil.

Kepemimpinan seperti ini tidak hanya menstabilkan situasi, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi perwira dan pembuat kebijakan berikutnya.

Tiga Hal Penting

Analisis warisan sosial-politik Try Sutrisno menunjukkan tiga hal penting. Pertama, profesionalisme militer yang mengedepankan disiplin dan loyalitas tanpa kompromi.

Kedua, stabilitas politik yang dijaga melalui kepemimpinan tegas namun bersahaja, sebuah modal penting bagi transisi menuju reformasi.

Ketiga, pengaruh sosial yang terus hidup melalui forum veteran dan aktivitas kebangsaan setelah pensiun, membuktikan bahwa pengabdian pada bangsa bukan sekadar jabatan atau gelar, tetapi cara hidup.

Di balik gelar dan pangkat, Try Sutrisno adalah manusia yang sederhana. Ia tumbuh di Surabaya, membesarkan keluarga dengan prinsip kesederhanaan, dan tetap rendah hati meski berada di puncak jabatan.

Kehidupan pribadinya mencerminkan integritas, keteguhan moral, dan cinta yang tulus pada tanah air.

Setiap tindakan dan keputusannya menunjukkan bahwa pengabdian sejati tidak menunggu penghargaan, tetapi dilakukan dengan sepenuh hati.

Baca Juga:  Hela 50 CC Diburu Kolektor Motor

Kepergian Try Sutrisno bukan sekadar kehilangan figur militer atau wakil presiden. Itu adalah kehilangan pilar bangsa, teladan pengabdian, dan inspirasi moral.

Ia meninggalkan pesan tersirat yang terus hidup: cinta tanah air diwujudkan bukan melalui kata-kata semata, tetapi melalui dedikasi, kesetiaan, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Dalam kesunyian hari duka itu, seluruh bangsa mengingat jasanya, mengenang teladannya, dan merasakan bahwa pengabdian, ketika dilakukan dengan tulus, akan selalu menorehkan jejak yang tak lekang oleh waktu.

Try Sutrisno telah pergi, tetapi warisannya akan terus menginspirasi generasi kini dan yang akan datang, bahwa menjadi pengabdi bangsa adalah bentuk cinta tertinggi. Selamat jalan jenderal. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto