
Dari wahana seru Saloka Theme Park hingga kemegahan Masjid Sheikh Zayed, ratusan siswa SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung tak hanya berlibur, tapi juga merajut kebersamaan dan ilmu dalam perjalanan yang tak terlupakan. Ikuti jejak petualangan mereka!
Tagar.co — Udara dini hari di langit Sragen, Jawa Tengah, terasa dingin menembus jaket tipis para siswa SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, saat satu per satu bus rombongan study tour merapat di rest area 519 B Sragen.
Dari delapan bus, keluarlah ratusan siswa dan guru pendamping. Wajah-wajah kantuk terhapus wudu. Mereka salat tahajud bersama, lalu menutup salat malam dengan witir, sebelum melanjutkan salat Subuh berjemaah.
Baca juga: Langit Berbintang Mengiringi Study Tour Ratusan Siswa SMPM 12 Sendangagung
“Alhamdulillah bus datang lebih awal, ini di luar ekspektasi dan justru menguntungkan. Kegiatan salat tahajud tetap bisa dilaksanakan meski di perjalanan,” tutur Eka Rosyidatul Hayati, S.T., salah satu guru pendamping.
Usai Subuh, rombongan yang berjumlah 410 orang itu kembali naik bus menuju Rumah Makan Bintangan Bawen, Semarang, untuk bersih diri dan sarapan. Rumah makan dua lantai itu ditata sedemikian rupa: lantai atas untuk rombongan putri dan pembina putri, sedangkan lantai bawah untuk putra dan pembina putra.
Menu sederhana seperti sayur sop, mi goreng, ayam bumbu kecap, gimbal tempe, sambal, dan segelas teh hangat cukup mengisi energi sebelum tantangan berikutnya: aktivitas outbond dan wisata edukasi di Saloka Theme Park.

Tepat pukul 09.00 WIB, delapan bus parkir di kawasan Saloka Theme Park. Selama enam jam, siswa-siswi belajar sekaligus bermain di Zona Sagara Prada, Galileo Park, dan berbagai wahana permainan serta game sains.
Tim pemandu Galileo membimbing dengan cara menyenangkan, membuat para siswa betah berkeliling ruang pamer edukatif dengan tema sains, sosial, dan budaya.
“Sangat senang! Di sini bukan cuma main, tapi juga belajar banyak hal berbasis ilmu pengetahuan,” kata Nasywa Putri Nahary, siswi kelas 8I yang juga santri Al Ishlah.
Chelsi Annur Alfalah Dzillah, siswi 8G asal Tuban, menimpali, “Keren banget, kami diberi buku lembar kerja siswa untuk evaluasi setelah keliling, jadi benar-benar belajar sambil praktik.”
Gondo Waloyo, M.A., salah satu guru pendamping, mengakui, “Saloka Theme Park ini sangat kondusif untuk siswa. Recommended sekali!”
Di sela aktivitas, mereka tetap tertib menunaikan salat Zuhur diqasar dengan salat Asar. Selepas menikmati wahana dan kuliner khas Saloka, tepat pukul 15.00 WIB rombongan bertolak menuju Solo untuk tujuan wisata religi di Masjid Raya Sheikh Zayed.
Masjid megah yang mampu menampung hingga 10.000 jemaah itu kian memesona di malam hari dengan kilauan lampu kristal Swarovski. Interiornya berhiaskan motif batik Kawung, karpet impor dari Uni Emirat Arab, serta lantai marmer dan pualam berkualitas tinggi.
Sri Kustantiyah, guru matematika senior, berkomentar, “Betah sekali salat di sini, tapi sayang waktunya terbatas.”

Usai salat Magrib dan Isya secara qasar, rombongan bergerak ke destinasi pamungkas: R.M. Jevenir dan pusat oleh-oleh di Jalan Adi Sucipto, Colomadu, Karanganyar, Solo.
Menu nasi gudeg khas Solo menjadi pengalaman kuliner yang sedikit menantang bagi beberapa siswa. Ahmad Idam Kenzie, siswa kelas 8D, tertawa malu, “Sebenarnya belum familier sama rasanya, tapi karena lapar ya dihabiskan juga, hehehe,” ujarnya disambut gelak tawa teman-temannya.
Di pusat oleh-oleh, aneka produk UMKM tersedia: snack keripik batang pisang, bakpia pathok, bumbu pecel, wedang uwuh instan, teh pahit, hingga aksesori tas, gantungan kunci, kaus bermotif Solo, baju batik anak hingga dewasa, serta peralatan dapur dari batu dan bambu.
Hampir semua siswa, siswi, dan guru pulang dengan kantong belanjaan penuh buah tangan untuk keluarga di rumah.
Menjelang pukul 21.00 WIB, delapan bus bertolak pulang ke Ponpes Al-Ishlah. Tepat pukul 01.00 WIB, bus-bus itu kembali memenuhi halaman sekolah di Sendangagung, disambut para orang tua yang setia menunggu.
Study tour kali ini bukan sekadar rekreasi. Banyak pelajaran yang terbawa pulang: praktik salat qasar dan jamak, harmoni kedekatan guru-siswa, empati, dan komunikasi yang semakin terjalin erat.
Sampai jumpa di perjalanan tahun depan. Semoga para guru dan siswa selalu diberi kesehatan. Amin. (#)
Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni












