Feature

Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

88
×

Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Sebarkan artikel ini
Rabu (11/2/2026) pukul 14.46 WIB, ibu-ibu Aisyiyah Sendangagung berpose bersama sebelum mengedarkan 132 paket sembako di depan rumah Ustazah Widiawati, Kampung Lebak, Sendangagung, Paciran, Lamongan. (Tagar.co/Sri Asian)

Dari rumah ke rumah, ibu-ibu Aisyiyah menyusuri jalan menanjak Kampung Lebak, mengantarkan sembako bagi warga yang membutuhkan menjelang Ramadan

Tagar.co – Rabu sore itu (11/2/25), Kampung Lebak, Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, mendadak lebih hidup dari biasanya.

Di halaman rumah Widiawati—ustazah TPA Al-Ikhlas sekaligus Ketua Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Sendangagung—puluhan perempuan berseragam hijau-kuning berkumpul.

Baca juga: UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Di teras dan ruang tamu, tumpukan paket sembako tersusun rapi, siap diberangkatkan.

Usai salat Asar, satu per satu anggota Aisyiyah datang. Jumlahnya 25 orang. Mereka adalah ibu-ibu Aisyiyah PRA Sendangagung yang sore itu bersiap menjalankan bakti sosial menjelang Ramadan 1447.

Di bawah komando Ketua PRA Sendangagung, Titin Zuliana, S.P., mereka membagi tugas: ada yang mendata, ada yang mengangkat, ada pula yang langsung bersiap mengantar.

Sebanyak 132 bingkisan telah disiapkan. Setiap paket berisi 3 kilogram beras, 2 liter minyak goreng, dan 1 kilogram gula. Sederhana, tetapi berarti.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Menurut Ustazah Id—sapaan akrabnya—dana kegiatan tersebut berasal dari donatur spontan di internal ‘Aisyiyah Sendangagung.

“Uang dari para donatur dadakan terkumpul dana Rp14.005.000,00, kemudian kita alokasikan berupa paket sembako tersebut,” tuturnya.

Tin Marlia, anggota ‘Aisyiyah Sendangagung, menyerahkan satu paket sembako kepada Ngateminah di depan rumahnya di Kampung Lebak Tengah, Sendangagung, sebagai bagian dari bakti sosial menjelang Ramadan 1447, Rabu (11/2/2026) (Tagar.co/Sri Asian)

Titin Zuliana mengaku bersyukur atas empati para anggota. Baginya, bakti sosial tahunan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang pendidikan sosial.

“Kegiatan ini menumbuhkan empati, melatih keikhlasan, sekaligus menjadi sarana meraih keberkahan bagi yang memiliki rezeki lebih,” ujarnya.

Ia menegaskan, sasaran penerima manfaat tidak terbatas pada warga Aisyiyah yang kurang mampu. Paket juga disalurkan kepada masyarakat lintas golongan, baik di Sendangagung maupun Sendangduwur.

“Kami berharap beban mereka sedikit diringankan, kebutuhan dasarnya terbantu. Ini juga bagian dari syiar kepada masyarakat,” tambahnya dengan wajah sumringah.

Menjelang senja, para ibu itu bergerak. Rumah ke rumah mereka datangi. Untuk penerima yang berdekatan, paket diantar dengan berjalan kaki. Untuk lokasi yang lebih jauh dan menanjak, sepeda motor menjadi andalan.

Di antara mereka, Sri Kustantiyah tampak paling mencolok. Guru di SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung itu sudah berkepala enam, tetapi langkahnya tetap lincah menyusuri jalan naik-turun Kampung Lebak. Di tangan kanan dan kirinya, masing-masing tergenggam paket sembako.

Baca Juga:  Aisyiyah Se-Eks Keresidenan Pekalongan Konsolidasikan Gerakan Perempuan Berkemajuan

“Lumayan, alah-alah olahraga sore,” katanya sambil tersenyum, napasnya sedikit terengah namun matanya berbinar.

Ibu-ibu Aisyiyah Sendangagung menikmati nasi muduk dengan lauk pindang layang yang disajikan di atas hamparan daun pisang, seusai menuntaskan penyaluran paket sembako, Rabu (11/2/2026). (Tagar.co/Sri Asian)

Di Kampung Lebak Tengah, seorang perempuan berusia sekitar 70 tahun, Ngateminah, menerima bingkisan itu dengan haru. Ia mengaku bersyukur karena setiap tahun selalu mendapat perhatian dari ‘Aisyiyah Sendangagung.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Satu per satu paket telah tersalurkan. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi ketulusan yang menyertainya menjadi makna utama.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama para panitia. Nasi muduk dengan lauk pindang layang, telur dadar, dan oseng jamur tersaji di atas daun pisang—menu khas Sendangagung yang sederhana namun menggugah selera.

Sambil menikmati hidangan, mereka berbagi cerita tentang pengalaman sore itu dan merancang langkah berikutnya.

Di antara tawa dan lelah yang tersisa, ada satu harapan yang menguat: semoga umur dipanjangkan dan kesempatan berbagi kembali hadir pada Ramadan mendatang.

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni