Feature

Aisyiyah Paciran Pelopori Pelatihan Perawatan Jenazah Berbasis Ilmu dan Empati

57
×

Aisyiyah Paciran Pelopori Pelatihan Perawatan Jenazah Berbasis Ilmu dan Empati

Sebarkan artikel ini
Para peserta Pelatihan Perawatan Jenazah ‘Aisyiyah se-Cabang Paciran menyimak penjelasan narasumber dari tim Bimbingan Rohani RS Muhammadiyah Lamongan di Aula MIM 3 Weru, Lamongan, Jumat (7/11/2025). (Tagar.co/Sri Asian)

Puluhan ibu Aisyiyah Paciran belajar mengurus jenazah dengan benar sesuai syariat. Pelatihan ini tak sekadar praktik teknis, tapi juga menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.

Tagar.co – Semilir angin laut Pantura di Desa Weru terasa panas walau hari masih pagi. Namun semangat ibu-ibu Aisyiyah se-Cabang Paciran, Lamongan, tetap berkobar. Jumat (7/11/2025) itu, mereka berkumpul di Aula MIM 3 Weru untuk mengikuti kegiatan triwulan bertajuk “Belajar Tanggung Jawab dari Tata Cara Mengurus Jenazah.”

Kegiatan ini digelar oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Paciran melalui Majelis Tablig dan Ketarjihan yang bersinergi dengan empat majelis lain: Pembinaan Kader, Kesehatan, Ekonomi dan Ketenagakerjaan, serta Kesejahteraan Sosial. Narasumber sekaligus instruktur pelatihan berasal dari bagian Bimbingan Rohani (Binroh) RS Muhammadiyah Lamongan.

Acara dihadiri jajaran pimpinan harian PCA Paciran, ketua majelis, serta perwakilan PRA se-cabang Paciran. Suasana berlangsung khidmat dan penuh antusiasme.

Mengurus Jenazah: Fardlu Kifayah dan Amanah Sosial

Puji Astuti, S.E., dari tim Binroh RS Muhammadiyah Lamongan, tampil sebagai pemateri utama. Ia menjelaskan langkah-langkah penting ketika seseorang meninggal dunia.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

“Berdoalah untuknya, pejamkan matanya, katupkan mulutnya, sedekapkan tangan, luruskan kakinya, lalu tutup dengan kain. Setelah itu, percepat pengurusan jenazah,” ujarnya sambil menukil sabda Rasulullah Saw. dalam sahihBukhari No. 1315:

“Segerakanlah pemakaman jenazah. Jika ia termasuk orang yang berbuat kebaikan, maka kalian telah menyajikan kebaikan kepadanya. Jika tidak, kalian telah melepaskan kejelekan dari pundak-pundak kalian.”

Puji menegaskan, kewajiban terhadap jenazah mencakup empat hal: memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan. Semuanya merupakan fardu kifayah yang tidak perlu ditunda hanya karena menunggu kerabat.

“Yang berhak memandikan jenazah adalah muslim yang berakal, amanah, dan sejenis kelaminnya dengan mayit. Kecuali bagi pasangan suami istri, diperbolehkan,” tambahnya.

Para peserta Pelatihan Perawatan Jenazah Aisyiyah se-Cabang Paciran menyimak penjelasan narasumber dari tim Bimbingan Rohani RS Muhammadiyah Lamongan di Aula MIM 3 Weru, Lamongan, Jumat (7/11/2025). (Tagar.co/Sri Asian)

Proses Memandikan dan Mengafani Sesuai Syariat

Para peserta mencatat setiap langkah yang dijelaskan dengan saksama. Puji Astuti menyebutkan perlengkapan yang harus disiapkan antara lain kain kafan, tali kasa, kapas, sabun cair, sampo, minyak wangi, waslap, dan handuk. Petugas juga diingatkan untuk memakai alat pelindung diri (APD).

Proses memandikan dilakukan oleh dua orang: operator dan asisten. Langkahnya dimulai dengan membersihkan kotoran, membasuh tubuh bagian kanan dan anggota wudu, lalu menyiram seluruh tubuh dengan bilangan ganjil—tiga, lima, atau lebih—hingga ditutup dengan air kapur barus. Setelah dikeringkan, barulah jenazah dikafani.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

“Dalam mengafani, jangan berlebih-lebihan,” ujar Puji mengutip hadis Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib.

“Sesungguhnya kafan itu akan segera hancur, maka janganlah memilih kain yang mahal-mahal.”

Ia pun menjelaskan, kafan laki-laki terdiri dari tiga lapis kain putih, sedangkan perempuan lima lapis: dua kain putih, basahan, baju, dan kerudung, semuanya disertai wangi-wangian kecuali bagi yang sedang ihram.

Praktik Langsung dan Harapan Pasca-Pelatihan

Setelah pemaparan, sesi praktik mengafani jenazah dipandu oleh Rohmatul Ummah, S.Ag., M.Kes., dari tim Binroh RS Muhammadiyah Lamongan. Zuhrotun, S.Ag., pimpinan Majelis Kesehatan PCA Paciran, menjadi demonstrator. Para peserta tampak khusyuk memperhatikan langkah demi langkah hingga selesai.

Dra. Nur Khulaifah, M.Pd.I., Ketua Majelis Tarjih dan Ketarjihan, berharap pelatihan ini mendorong terbentuknya tim perawatan jenazah di setiap ranting.

“Ini kebutuhan riil warga ‘Aisyiyah. Setelah pelatihan, kami berharap setiap ranting siap membentuk tim yang sigap dan terampil,” ujarnya.

Hangatnya Kebersamaan di Akhir Acara

Pelatihan ditutup dengan foto bersama dan obrolan ringan antarpeserta. Hamidah, M.Pd., selaku tuan rumah, mengundang seluruh peserta menikmati makan siang khas pesisir: sayur gambas santan dengan udang dan tempe, oseng kerang, sotong, ikan goreng, kerupuk Pantura, serta es blewah segar pengusir dahaga.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Canda dan tawa mengiringi kebersamaan siang itu. Para peserta pulang dengan hati hangat, membawa ilmu bermanfaat dan semangat baru untuk melayani umat hingga akhir hayat. (#)

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni