Feature

Belajar Jurnalisme dari Alam: Awak Teras Spemudas Menulis di Tengah Sejuknya Cimory

51
×

Belajar Jurnalisme dari Alam: Awak Teras Spemudas Menulis di Tengah Sejuknya Cimory

Sebarkan artikel ini
Di bawah rindangnya pepohonan di area Dairyland Pandaan, sebagian awak Teras putri mendapatkan bimbingan menulis liputan dari Gondo Waloyo, pembina pendamping Teras (Tagar.co/Sri Asian).

Di bawah langit Prigen Pasuruan yang sejuk, 25 awak Teras SMP Muhammadiyah 12 Paciran menimba ilmu jurnalistik langsung di lapangan. Mereka belajar menangkap cerita dari alam, hewan, dan kehidupan sehari-hari yang sederhana namun penuh makna.

Tagar.co – Titik-titik embun yang menempel di dedaunan dan bunga-bunga halaman SMP Muhammadiyah 12 (Spemudas) Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, masih enggan pergi pagi itu.

Udara terasa sejuk dan meneduhkan, sisa rinai gerimis semalam. Di tengah kesejukan itu, 25 awak Teras dan 5 pembinanya tampak sibuk menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan belajar yang tak biasa: Praktik Lapangan Latihan Jurnalistik di Cimory Dairyland, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (10/11/2025).

Baca juga: Dracula’s Symphony Showdown dari Spemudas Guncang Panggung WBL

Tepat pukul 05.30 WIB, satu armada bus yang membawa rombongan jurnalis muda itu meluncur menuju lokasi. Tiga jam perjalanan terasa cepat berlalu dalam tawa dan canda khas anak SMP.

Pukul 08.30 WIB, bus berhenti di area Dairyland Milk Museum, gerbang utama menuju pengalaman belajar yang penuh inspirasi.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Menulis dengan Hati dan Peka terhadap Sekitar

Di depan loket masuk Dairyland, para awak Teras mendapat pengarahan singkat dari para pembina. Mereka diminta menajamkan kepekaan dan membuka hati terhadap setiap detail yang tampak di sekitar.

“Jurnalis harus bisa melihat hal kecil yang sering terlewat orang lain,” ujar Gondo Waloyo, M.A., salah satu pembina, memberi pengantar yang berkesan.

Dengan antusias, para siswa mulai mencatat dan memotret. Suara sapi yang menggelegar dari kandang, aroma rumput basah yang segar, panorama pegunungan Arjuna, Welirang, dan Penanggungan yang membingkai langit biru—semuanya menjadi bahan tulisan.

Mereka juga mengamati fasilitas umum yang tertata rapi: toilet yang bersih, musala yang nyaman, dan lingkungan wisata edukatif yang ramah bagi pengunjung.

Awak Teras putra SMP Muhammadiyah 12 (Spemudas) Paciran bersama para pembina berpose di depan Milk Museum Dairyland Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, sebelum memulai kegiatan Praktik Lapangan Jurnalistik pada Senin, 10 November 2025 (Tagar.co/Sri Asian).

Menemukan Cerita di Balik Perjalanan

Di bawah rindangnya pepohonan, para awak Teras menulis dan berdiskusi, mencoba menemukan sudut pandang berbeda dari pengalaman yang sama.

Feature itu bukan sekadar laporan, tetapi cerita yang hidup,” ujar Gondo menegaskan kembali sambil mengamati anak-anak yang serius menulis.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Salah satu peserta, Moch. Rayhan Rafi, siswa kelas 9A Spemudas, mengaku sangat menikmati pengalaman liputan di Dairyland. “Ini pengalaman pertama saya menulis langsung di lapangan. Banyak hal menarik di sini yang bisa jadi bahan tulisan,” katanya penuh semangat.

Momen kebersamaan antara pembina dan para jurnalis muda itu menciptakan suasana hangat dan penuh makna. Lelah memang terasa, tetapi kepuasan belajar dan menulis di alam terbuka membuat semuanya terbayar lunas.

Awak Teras putri SMP Muhammadiyah 12 (Spemudas) Paciran bersama para pembina berpose di depan Milk Museum Dairyland Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, usai mengikuti Praktik Lapangan Jurnalistik pada Senin, 10 November 2025 (Tagar.co/Sri Asian).

Latihan, Refleksi, dan Kepekaan

Menjelang siang, suara azan dari masjid sekitar memanggil mereka untuk beristirahat sejenak. Kegiatan berlanjut dengan salat zuhur berjemaah, istirahat, dan makan siang.

Setelah itu, para peserta menyetorkan hasil tulisan ke grup jurnalis yang telah dibentuk. Sesi kedua diisi dengan refleksi dan umpan balik terhadap karya-karya yang sudah ditulis.

Di ujung hari, para pembina tersenyum puas. Mereka tak hanya melihat semangat menulis, tetapi juga tumbuhnya sikap peka, empatik, dan reflektif dalam diri para jurnalis muda Spemudas. (#)

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni