
Dari UMM, robot mungil ini menawarkan permainan edukatif yang memadukan logika, keterampilan motorik, dan kebersamaan.
Tagar.co – Muhamad Reza Pahlawan tampak serius menatap layar laptop. Di sisi kanannya, robot mungil berwarna merah, putih, dan kuning dengan roda hitam serta “kepala” kuning tersenyum siap diuji. Namanya CubeBot, hasil kreasi Reza bersama tim lintas jurusan yang lahir dari kepedulian pada masalah anak-anak yang kecanduan gawai.
Ketergantungan pada gadget menjadi tantangan serius bagi generasi muda, khususnya anak-anak usia sekolah dasar. Alih-alih melarang penggunaannya, tim mahasiswa UMM ini memilih menawarkan solusi kreatif: sebuah robot edukasi yang tidak hanya mengalihkan perhatian anak dari gawai, tetapi juga merangsang perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka dengan cara yang menyenangkan.
Baca juga: Kokoluks: Sirup Sehat Mahasiswa UMM yang Siap Gantikan Gula Berlebih
Reza menuturkan, ide ini muncul dari pengamatan di lapangan. “Banyak sekali anak-anak, terutama di kelas 4, 5, dan 6 SD, yang kecanduan gadget. Di balik kemudahan teknologi, ada dampak negatif yang perlu disikapi, salah satunya berkurangnya interaksi fisik dan kreativitas anak,” ujarnya, dalam siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin siang 11 Agusts 2025.

Bermodalkan latar belakang di Teknik Elektro, Reza menggandeng dua rekan dari jurusan yang sama, seorang mahasiswa Akuntansi, dan seorang mahasiswa PGSD.
Tim multidisiplin ini memastikan proyek berjalan dari berbagai aspek: teknis, keuangan, dan pedagogis. Hasilnya, lahirlah robot yang ramah bagi anak-anak, berkat kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang dengan cermat.
Tak hanya menciptakan robot, mereka juga membangun ekosistem pembelajaran interaktif. CubeBot diprogram melalui aplikasi MBlock dengan metode drag and drop blok visual, sehingga memudahkan anak memahami logika dasar pemrograman.
“Mereka tidak langsung belajar coding yang rumit, tapi dimulai dengan hal-hal yang menyenangkan melalui CubeBot dan MBlock,” jelas Reza.
CubeBot telah diuji coba di beberapa sekolah, termasuk SD Muhammadiyah 8 Malang dan SD Muhammadiyah 4 Malang, dan rencananya akan ditawarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah lain. Keunggulan utamanya adalah sifat modular.
Satu set CubeBot bisa dirakit menjadi tiga model berbeda: line follower (mengikuti garis), transporter (memindahkan barang), dan avoid obstacle (menghindari rintangan).

“Satu robot bisa jadi beberapa model, jadi anak-anak bisa belajar lebih banyak. Fitur ini menjadi keunggulan utama CubeBot dibandingkan produk sejenis lainnya. Karena setahu saya yang lain itu satu robot hanya untuk satu model saja,” ungkap Reza.
Dengan konsep modular ini, anak-anak tidak cepat bosan dan terdorong untuk terus bereksplorasi. Proses merakit robot secara mandiri dan bekerja sama dalam tim melatih keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus.
Ke depan, Reza dan tim berharap CubeBot dapat menjangkau lebih banyak sekolah, khususnya di Malang dan Jawa Timur. Harapannya, teknologi ini tak hanya menjauhkan anak dari kecanduan gawai, tetapi juga menumbuhkan generasi yang melek teknologi, berpikir kritis, mampu bekerja sama, dan kreatif.
Lewat CubeBot, mahasiswa UMM membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi alat edukasi yang menyenangkan dan bermanfaat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












