Feature

Kokoluks: Sirup Sehat Mahasiswa UMM yang Siap Gantikan Gula Berlebih

32
×

Kokoluks: Sirup Sehat Mahasiswa UMM yang Siap Gantikan Gula Berlebih

Sebarkan artikel ini
Tiga mahasiswa UMM dengan Kokoluks-nya. Dari kiri: Azhar Ramadhan Sarita, Hendra Riza Fahrezi, dan Bagas Adiya Pratama.

Berangkat dari keprihatinan akan dampak konsumsi gula, tiga mahasiswa UMM menciptakan Kokoluks, sirup berbahan VCO yang sehat dan nikmat. Inovasi ini sedang menuju pasar dengan misi besar: gaya hidup lebih sadar gizi.

Tagar.co Di balik kesibukan kuliah, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asyik di meja laboratorium, meracik sebuah solusi sehat untuk masyarakat.

Mereka menamai produk inovatif ini Kokoluks, sebuah sirup berbahan dasar Virgin Coconut Oil (VCO) yang tidak hanya lezat, tetapi juga ramah bagi kesehatan tubuh—terutama sebagai alternatif dari maraknya konsumsi gula berlebih.

Inovasi ini digagas oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) lintas jurusan, dengan Azhar Ramadhan Sarita, mahasiswa Fisioterapi UMM, sebagai ketua tim. Ia menjelaskan, ide awal Kokoluks muncul pada akhir 2024 dan mulai diformulasikan secara serius pada awal 2025.

Baca juga: Kampung Ecoenzyme: Dari Sampah Jadi Berkah, Inovasi Mahasiswa UMM di Mondoroko

“Kokoluks ini adalah sirup berbasis VCO, yang memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan energi, membantu program diet, menjaga kadar gula darah, hingga melawan radikal bebas karena kandungan antioksidannya,” jelas Azhar.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Latar belakang keilmuannya di bidang fisioterapi menjadi salah satu alasan kuat di balik pengembangan produk ini. Azhar mengaku kerap menjumpai pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat konsumsi gula berlebih. Dari situlah, ia dan timnya mencari cara agar masyarakat tetap bisa menikmati rasa manis, namun dengan risiko kesehatan yang jauh lebih minim.

“Kami mengganti gula berlebih dengan pemanis alami seperti eritritol yang lebih aman dikonsumsi,” imbuhnya. Azhar satu tim bersama Hendra Riza Fahrezi (Prodi Fisoterapi) dan Bagas Adiya Pratama (Prodi Farmasi).

Sirup Kokoluks mengandalkan VCO sebagai bahan utama, karena VCO kaya akan asam laurat yang dikenal mampu melawan virus, bakteri, dan jamur.

Tak hanya itu, lemak sehat dari VCO juga mudah diubah menjadi energi, menjadikannya cocok untuk diet keto dan pola makan sehat lainnya. Azhar menambahkan bahwa kandungan VCO juga berperan dalam meningkatkan kolesterol baik, memperlambat penuaan sel, dan membantu mengontrol nafsu makan.

Kini, Kokoluks telah memasuki tahap uji coba awal. Produk fisik sudah tersedia dan diproduksi dalam skala kecil untuk kebutuhan penelitian, meski masih menunggu hasil uji laboratorium sebagai syarat kelayakan edar.

Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

“Formulanya sudah fix. Kami tinggal menunggu hasil uji lab. Kalau sudah lolos, rencananya akan diproduksi massal dan dipasarkan ke masyarakat,” terang Azhar.

Dalam proses produksinya, tim juga memperhatikan aspek higienitas dan struktur ilmiah. Mulai dari sterilisasi alat, pencampuran fase air dan minyak, proses emulsi, hingga pengemasan dilakukan secara sistematis.

Namun, jalan menuju pasar bukan tanpa tantangan. Dengan hanya tiga orang anggota, tim ini harus pandai-pandai membagi waktu di tengah kesibukan akademik. “Kesulitannya ada pada manajemen waktu karena kami tengah banyak mengikuti kegiatan akademik,” ungkapnya.

Meski demikian, semangat mereka tetap menyala. Tim ini tak hanya ingin menjual produk, tapi membawa misi besar: mengajak masyarakat beralih ke gaya hidup sehat dan sadar kandungan gizi dalam makanan serta minuman.

“Kami ingin mendorong masyarakat untuk memilih minuman alami dan tidak lagi tergantung pada produk tinggi gula atau fast food,” tandas Azhar.

Melalui semangat kolaboratif dan pendekatan ilmiah yang dikembangkan dalam program PKM, Kokoluks bukan hanya menjadi produk, tetapi juga simbol bahwa mahasiswa UMM mampu menghadirkan solusi nyata untuk tantangan kesehatan masyarakat masa kini. (*)

Baca Juga:  Ramadan sebagai Momentum Rekonstruksi Niat

Penyunting Mohammad Nurfatoni