
Dari sebuah pin kecil di dada pelajar, tumbuh tekad besar untuk menanamkan budaya berbagi. Giswa Muda melahirkan duta-duta kebaikan di sekolah Muhammadiyah.
Tagar.co – Dengan tangan mantap, Drs. Muflich Hasyim, M.Pd., menempelkan pin Giswa Muda di dada M. Arsyad, siswa SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo.
Arsyad menunduk khidmat, sementara di sampingnya seorang siswi juga menunggu penyematan pin. Momen itu menandai lahirnya duta filantropi dari kalangan pelajar Muhammadiyah, Rabu (27/8/2025), di Aula Nyi Walidah Smamda Sidoarjo.
Baca juga: Giswa Muda Diluncurkan, Gaya Sedekah Gen Z: Dari Celengan hingga QRIS
“Pin ini bukan sekadar tanda, tapi pengingat bagi kami untuk terus berinfak dan mengajak teman-teman lain berbuat kebaikan,” ujar Arsyad, usai menerima pin yang kini melekat di seragamnya.
Lebih dari Sekadar Program Infak
Muflich, Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sidoarjo menegaskan Giswa Muda bukan sekadar program pengumpulan infak. “Berinfak adalah perintah agama. Melalui program ini, para siswa akan terbiasa menanamkan jiwa berbagi dan peduli. Insyaallah, itu akan membentuk generasi dermawan yang suka memberi, bukan mengambil sesuatu yang bukan haknya,” ucapnya penuh optimisme.
Dengan nada yakin, mantan Kepala SMP Negeri 4 Sidoarjo, menambahkan, “Kelak, ketika mereka menjadi pejabat, pengusaha, atau berkarier di mana saja, mereka akan terbiasa memberi, bukan korupsi.”
Penyematan pin menjadi simbol bahwa para siswa kini bukan hanya penerima pesan moral, melainkan pelaku nyata gerakan filantropi. Mereka diharapkan mampu menularkan semangat berbagi di sekolah masing-masing.
Dengan pin kecil yang tersemat di seragam, lahirlah duta-duta kebaikan. Dari ruang kelas, halaman sekolah, hingga kehidupan bermasyarakat, mereka membawa pesan sederhana namun bermakna besar: pelajar Muhammadiyah siap menebar kebaikan. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












