
Dari uang jajan hingga QRIS, siswa Muhammadiyah Sidoarjo menunjukkan aksi nyata filantropi. Program Giswa Muda bukan sekadar ajakan berinfak, melainkan pendidikan karakter dermawan sejak dini yang sesuai dengan semangat Muhammadiyah.
Tagar.co – Suasana Aula Nyi Wlaidah SMA Muhammadiyah (Smamda) 2 Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu 27 Agustus 2025 mendadak hangat ketika enam siswa dari berbagai jenjang sekolah Muhammadiyah maju ke hadapan para undangan dalam acara launching Gerakan Infak Siswa Muhammadiyah Sidoarjo (Giswa Muda). Dengan penuh percaya diri, mereka berdiri sejajar sambil mengangkat celengan kecil bergambar logo “Filantropis Cilik”.
Namun, itu bukan sekadar pose seremonial. Para siswa ini melakukan simulasi nyata bagaimana cara berinfak melalui program Giswa Muda. Sebagian memperlihatkan cara konvensional—memasukkan uang tunai ke dalam celengan—sementara yang lain menunjukkan cara modern: berinfak lewat ponsel dengan memindai kode QRIS.
Baca juga: Giswa Muda untuk Gaya Sedekah Gen Z yang Cepat dan Cashless
Salah satunya adalah M. Arsyad, siswa Smamda Sidoarjo. Dengan tenang ia membuka aplikasi pembayaran di ponselnya, lalu mengarahkan kamera ke kode QRIS yang terpampang di layar. Dalam hitungan detik, transaksi selesai. Senyum bangga pun merekah di wajahnya.
“Gampang sekali, infak bisa langsung lewat handphone. Rasanya senang bisa ikut berbagi dengan cara seperti ini,” ujarnya lirih.
Di samping Arsyad, Laili Nur Sajidah dan Ranadhan Putra dari SMP Muhammadiyah 1 (SMP MUsasi) Sidoarjo juga tampak antusias. Laili bahkan langsung mengisi celengan mungil bergambar karakter Filantropis Cilik dengan selembar uang seratus ribu rupiah.
“Nanti saya akan rutin ikut program Giswa ini dari uang jajan, setiap pekan sekali,” katanya polos, membuat suasana ruangan semakin cair.
Momen sederhana itu menegaskan bahwa infak kini bukan lagi urusan orang tua semata. Anak-anak pun bisa menjadi bagian penting dalam gerakan filantropi. Dengan pilihan cara tunai maupun cashless, Giswa Muda menghadirkan kemudahan sekaligus menanamkan nilai kebaikan sejak dini.
“Anak-anak ini adalah generasi dermawan sesuai tuntunan Muhammadiyah. Kita ingin menumbuhkan budaya berbagi, baik dengan cara tradisional lewat celengan maupun cara digital lewat QRIS,” ujar Dr. Taufik Churahman, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo.
Tepuk tangan meriah pun mengiringi prosesi peluncuran tersebut. Dari raut wajah para siswa di atas panggung, tampak jelas rasa bangga karena dipercaya menjadi duta filantropi di sekolah masing-masing. Mereka bukan hanya menerima pin Giswa Muda, tetapi juga memikul amanah untuk menularkan semangat berbagi di lingkungan sekitar.
Dengan langkah kecil dari celengan sederhana hingga infak digital, generasi muda Muhammadiyah Sidoarjo membuktikan bahwa berderma bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












