Feature

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III: Meretas Jalan Tafsir Kontekstual dan Transformatif

33
×

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III: Meretas Jalan Tafsir Kontekstual dan Transformatif

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Khotbah Iftitah Konferensi Mufasir Muhammadiyah III pada Kamis–Ahad (28–31/8) di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Tagar.co/Istimewa)

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III di Yogyakarta jadi momentum percepatan penyusunan Tafsir At-Tanwir. Forum ini mempertemukan mufasir untuk merumuskan tafsir kontekstual, moderat, dan transformatif yang relevan dengan tantangan zaman.

Tagar.co – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Konferensi Mufasir Muhammadiyah III pada Kamis–Ahad (28–31/8/25) di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Forum strategis ini dihelat sebagai upaya mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir, sebuah karya monumental Muhammadiyah yang ditargetkan rampung pada tahun 2027, bertepatan dengan seratus tahun Majelis Tarjih dan Tajdid.

Dengan mengusung tema “Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”, konferensi ini menghadirkan para mufasir Muhammadiyah dari dalam dan luar negeri.

Tujuannya bukan hanya memperkuat jejaring mufasir, tetapi juga merumuskan gagasan penafsiran al-Qur’an yang kontekstual, moderat, dan berkemajuan.

Islam yang Mencerahkan

Dalam Khotbah Iftitah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa urgensi utama penyusunan tafsir ini bukan hanya untuk kepentingan internal Muhammadiyah, tetapi juga untuk memberi kontribusi besar bagi khazanah tafsir Al-Qur’an di dunia Islam.

Baca Juga:  Masjid 'Ramah Musafir' Ar-Royyan Muhammadiyah Diresmikan Haedar Nashir

Menurutnya, Tafsir at-Tanwir akan menjadi panduan umat memahami al-Qur’an secara utuh sebagai sumber nilai Islam yang membimbing manusia membangun peradaban khairu ummah.

“Lewat tafsir ini kita bisa menghadirkan Islam yang mencerahkan, yang bukan hanya relevan bagi umat dan bangsa, tetapi juga memberi rahmat bagi kemanusiaan semesta,” ujarnya pada Kamis (28/8/25).

Haedar juga menyinggung isi Tafsir at-Tanwir jilid pertama yang mengulas epistemologi dan kosmologi al-Qur’an, khususnya penafsiran atas Al-Baqarah ayat 29–30, sebagai kunci penting merelasikan ajaran ilahi dengan realitas kehidupan.

Menteri Agama Nazaruddin Umar (tengah) bersama DinSyamsuddin (kiri) (Tagar.co/Istimewa)

Seleksi dan Penguatan Kapasitas

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menjelaskan bahwakonferensi ini sekaligus menjadi sarana seleksi dan penguatan kapasitas mufasir Muhammadiyah. Dari 89 naskah tafsir yang masuk, sebanyak 51 terpilih untuk dipresentasikan dan disempurnakan melalui forum ini.

“Konferensi Mufasir ini bertujuan menjaring penulis Tafsir At-Tanwir yang kompeten, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam penulisan 30 juz secara sistematis,” jelasnya.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan Seminar Nasional yang menghadirkan Menteri Agama, Nazaruddin Umar. Ia menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an secara kontekstual dan transformatif.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Penguasaan Iptek Harus Dituntun Akhlak

Menurutnya, al-Qur’an bukan hanya kitabullah tetapi juga kalamullah, sebuah himpunan makna yang luas layaknya bangunan yang tersusun dari beragam elemen.

Ia menyayangkan masih banyak kalangan memahami Al-Qur’an secara kaku dan tekstual sehingga sulit menghadirkan tafsir alternatif yang dinamis.

“Kelemahan umat kita hari ini adalah sangat paham masalah fikih, tapi tidak paham usul fikih. Mereka ibarat memanjat sebuah pohon, namun berpegang pada ranting rapuh ketimbang batang yang kokoh,” tegasnya.

Bagi Nazaruddin, inilah pentingnya mengembangkan tafsir yang tidak berhenti pada tataran tekstual, melainkan menuntun umat pada pemahaman transformatif.

Senada dengan itu, Din Syamsuddin dalam paparannya bertema “Manhaj Tafsir al-Qur’an Transformatif” menekankan perlunya metode penafsiran yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keotentikan pesan Al-Qur’an.

Ruang Uji Gagasan

Konferensi ini juga menghadirkan Parallel Session pada Jumat–Sabtu (29–30/8). Di forum tersebut, para peserta mempresentasikan naskah tafsir mereka sekaligus menyempurnakan dengan masukan para pakar. Para pemakalah tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga diuji argumentasinya agar lahir penafsiran yang kokoh secara metodologis.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Kader Muhammadiyah Tak Perlu Takut Berkompetisi

Peserta konferensi terdiri atas pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid, para mufasir Muhammadiyah, serta penulis terpilih dari call for paper. Melalui forum ini, diharapkan lahir jejaring mufasir yang solid, bertambahnya penulis Tafsir At-Tanwir yang berkompeten, serta tersusunnya strategi penulisan 30 juz secara sistematis, termasuk rencana penyelesaian juz 25–30.

Setelah seluruh sesi selesai, pada Sabtu (30/8) konferensi akan ditutup dengan rapat pleno yang merangkum hasil diskusi sekaligus merumuskan tindak lanjut penyusunan Tafsir at-Tanwir ke depan.

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III menandai langkah penting bagi Muhammadiyah dalam mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir. Forum ini menjadi ajang kolaboratif para mufasir untuk memastikan lahirnya tafsir al-Qur’an yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni