
PCM Gayungan berhasil merealisasikan sekolah yang sudah dirancang 15 tahun lalu. Pengajarannya model pesantren atau boarding school.
Tagar.co – Tiga ruang kelas itu sudah disiapkan untuk sekolah 15 tahun lalu. Tapi rencana mendirikan sekolah selalu batal.
Baru tahun ini berhasil direalisasi. Dinding kelas yang kusam langsung dicat warna putih. Pintu dan jendela memakai warna biru. Warna resmi Muhammadiyah. Bangku-bangku lama ditata berjajar.
Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Selasa (20/5/2025), banyak tamu berdatangan memenuhi halaman sekolah yang berhadapan dengan Masjid Al-Muttaqin.
Mereka menyaksikan peresmian Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 20 yang berlokasi di Jemur Gayungan II/14 Surabaya.
Kebetulan nomor sekolah juga mendapat angka 20. Angka ini merujuk pada urutan sekolah Muhammadiyah tingkat SLTP yang ke-20. Pas dengan tanggal Harkitnas.
Acara peresmian ini dihelat oleh PCM Gayungan Surabaya yang membawahi amal usaha baru ini.
Pembukaan madrasah dilakukan dengan pengguntingan pita oleh Sekretaris Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur Dr Eko Hardiansyah bersama Ketua PCM Gayungan Sugeng Santoso dan Ketua Majelis Dikdasmen PDM Surabaya Dikky Syadqamullah MHES.
Acara dihadiri para kepala sekolah Muhammadiyah se Surabaya, Ketua PCM se Surabaya Selatan, Camat dan Lurah Gayungan, serta anggota DPRD Surabaya dr Hj Zuhrotul Mar’ah Lailatusholichah dari Fraksi PAN.
Lokasi MTs Muhammadiyah 20 ini satu kompleks dengan Masjid Al-Muttaqin, TK Aisyiyah 50, dan panti asuhan. Menempati tanah seluas 2.600 meter persegi.
Ketua PCM Gayungan Sugeng Santoso menjelaskan, gedung MTs Muhammadiyah 20 ini menempati tiga ruang yang sudah dibangun 15 tahun lalu.
”Di lokasi itu sudah lama disiapkan gedung sekolah di zaman PRM Gayungan di bawah PCM Wonocolo,” tuturnya.
Dulu, sambung dia, mau didirikan STM. Batal karena persyaratannya berat seperti harus ada bengkel praktik siswa dan uang operasional Rp 300 juta.
”Batal STM lalu mau buka SD ternyata banyak pertimbangan seperti sudah banyak SD di kawasan ini. Karena perencanaan selalu batal sampai gedung itu mangkrak,” ujarnya.
Setelah PCM Gayungan berdiskusi dengan Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya, kata dia, tercetus untuk mendirikan MTs Muhammadiyah dengan sistem boarding school atau pesantren.
”PDM Surabaya belum punya boarding school setingkat SMP karena itu semua antusias mendukung rencana ini,” katanya.
Kemudian dibentuk tim untuk mengurus perizinan ke Kantor Kemenag Surabaya. Semua persyaratan dipenuhi seperti kepala madrasah, daftar guru yang mengajar, sarana dan prasarana.
Kepala madrasah ditunjuk Mochammad Ismul Muchlis SS MPdI yang saat ini masih menjabat Kepala SD Muhammadiyah 27 Rungkut.
Dia sudah dua periode di SD itu, maka jabatan berikutnya harus dipindah ke sekolah lain.
Sugeng Santoso mengatakan,”Ketika diajukan permohonan ke Kemenag semua dinyatakan sudah memenuhi syarat administratif. Maka dilakukan verifikasi lapangan pada Senin (19/5/2025) kemarin. Hasilnya lolos. Bahkan tim verifikasi bilang, kalau tidak diloloskan malah berdosa wong semua memenuhi syarat.”
Dengan lolos verfikasi, ujar dia, Kemenag mengizinkan segera membuka pendaftaran siswa baru tahun ajaran 2025-2026.
Karena itulah peresmian dan pembukaan MTs Muhammadiyah 20 langsung digelar hari Selasa ini untuk gebyar promosi ke masyarakat sekaligus upaya menjaring siswa baru dalam satu bulan setengah ini.
Ismul Muchlis yakin dalam waktu satu bulan setengah mampu mendapatkan murid baru. ”Saya yakin minimal 20 siswa pasti dapat,” katanya.
Model boarding school, menurut dia, bakal menjadi unggulan sekolah ini dengan program tahfiz Al-Quran.
Asrama santri bakal menempati panti asuhan yang segera direnovasi.
Dia segera mengunjungi SD di kawasan ini untuk mempromosikan boarding school MTs Muhammadiyah 20.
Saat peresmian beberapa orang tua siswa ada yang bertanya madrasah ini. Setidaknya ada dua calon santri yang berminat.
Majelis Dikdasmen PDM Surabaya juga meminta dukungan PCM se Surabaya agar mengirimkan satu santri ke madrasah ini. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto









