Feature

Okeu Setiawan Berbagi Tutorial Sabar dan Beriman di Halaqah Ummahat

918
×

Okeu Setiawan Berbagi Tutorial Sabar dan Beriman di Halaqah Ummahat

Sebarkan artikel ini
Okeu Setiawan berbagi tutorial sabar dan beriman kepada Allah di Halaqah Ummahat Mugeb School. Gaya penyampaiannya penuh pertanyaan reflektif yang bikin jemaah berpikir, sadar akan kebenaran yang kadang pahit, lalu tertawa. 
Okeu Setiawan berbagi tutorial sabar dan beriman kepada Allah di Halaqah Ummahat Mugeb School. (Tagar.co/Nur Hakiky)

Okeu Setiawan berbagi tutorial sabar dan beriman kepada Allah di Halaqah Ummahat Mugeb School. Gaya penyampaiannya penuh pertanyaan reflektif yang bikin jemaah berpikir, sadar akan kebenaran yang kadang pahit, lalu tertawa.

Tagar.co – Lantai satu Masjid Faqih Oesman Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) penuh dengan ratusan wali siswa Mugeb School, Sabtu (20/4/2025).

Mereka hadir di sana untuk mengikuti Halaqah Ummahat spesial Milad Ke-30 Mugeb School. Kajian rutin dua bulanan khusus bunda tersebut diinisiasi oleh Ikatan Wali Murid (Ikwam) Mugeb School.

Sorot mata penuh harap tertuju pada sosok pembicara pagi itu: Okeu Setiawan. Dengan gaya bicara santai dan memancing gelak tawa, Ustaz Okeu membawakan materi tentang bagaimana menyikapi berbagai kejadian dalam hidup, berlandaskan pada Al-Qur’an.

“Dalam perjalanan hidup ini, setiap hari kita pasti berhadapan dengan berbagai kejadian,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Ridho Allah Bogor ini membuka kajian.

Menurut Al-Qur’an, kata Ustaz Okeu, setiap kejadian itu hanya dua jenis, enak dan tidak enak. Hal ini tertuang dalam Surah Al-Anbiya ayat 35:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Okeu Setiawan berbagi tutorial sabar dan beriman kepada Allah di Halaqah Ummahat Mugeb School. Gaya penyampaiannya penuh pertanyaan reflektif yang bikin jemaah berpikir, sadar akan kebenaran yang kadang pahit, lalu tertawa.
Jemaah dari wali murid maupun undangan fokus menyimak ceramah Ustaz Okeu Setiawan. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Keburukan untuk Kesabaran

Sontak, interaksi hidup antara ustaz dan jemaah pun terjalin. “Ibu-ibu, ingin dapat kejadian enak atau tidak?” tanya Ustaz kelahiran Bandung, 8 Agustus 1979 itu.

Serentak, jemaah menjawab, “Enak!” Jawaban ini menggema di seluruh ruangan.

“Kita bisa memilih kejadian yang kita alami?” tanyanya lagi, yang langsung dijawab dengan kompak, “Tidak!”

Dari sinilah, Ustaz Okeu mulai menukik pada inti pembahasannya tentang pentingnya menerima setiap ketetapan Allah. “Yang bisa kita lakukan adalah menerima atau tidak menerima. Kalau ingin sabar bersama Allah, butuh kejadian enak atau tidak?” tanyanya retoris.

Baca Juga:  Kejutan Manis dan Hadiah Raksasa untuk Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB 

“Tidak!” jawab jemaah serempak. Menyadari kenyataan pahit ini, jemaah pun tertawa.

“Jadi, ibu-ibu justru butuh kejadian tidak enak. Kalau dikasih ujian, ucapkan terima kasih atau malah emosi?” Ustaz Okeu kembali melontarkan pertanyaan.

“Terima kasih,” jawab para ibu dengan mantap lalu lanjut tertawa terpingkal-pingkal.

Suasana cair kembali tercipta ketika Ustaz Okeu melontarkan pertanyaan yang mengundang gelak tawa. “Bu, sabar ya, anaknya saleh?” Pertanyaan yang secara logika terbalik itu bersambut riuh tawa para wali murid.

“Jadi, sabar itu pasangannya anak nakal. Kalau mau sabar, justru butuh anak saleh,” jelasnya sambil tersenyum.

Okeu Setiawan berbagi tutorial sabar dan beriman kepada Allah di Halaqah Ummahat Mugeb School. Gaya penyampaiannya penuh pertanyaan reflektif yang bikin jemaah berpikir, sadar akan kebenaran yang kadang pahit, lalu tertawa.
Okeu Setiawan berbagi tutorial sabar dan beriman kepada Allah di Halaqah Ummahat Mugeb School. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Praktik Sabar

Lebih lanjut, Ustaz Okeu menekankan, dalam menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan, sabar menjadi kunci utama. Termasuk agar doa-doa yang mereka panjatkan dapat Allah kabulkan.

“Kalau ingin doanya Allah kabulkan, harus sabar. Berarti butuh kejadian tidak enak,” ujarnya, kembali bersambut tawa ringan jemaah.

Lantas, bagaimana cara mempraktikkan kesabaran saat menghadapi anak yang “nakal” agar doa terkabul? Pertanyaan ini ia tanyakan pada jemaah.

“Sabar itu kebutuhan atau paksaan?” tanya Ustaz Okeu. “Kebutuhan!” jawab jemaah dengan penuh keyakinan tapi tetap tertawa.

“Silakan buktikan dalam kehidupan sehari-hari!” tantang ustaz yang terkenal sebagai pembimbing di Masjid Darussalam Cibubur dan Masjid Transtudio Bandung ini.

Ustaz Okeu kemudian mengarahkan perhatian jemaah pada Surah At-Taghabun ayat 11 yang menjelaskan, setiap musibah yang menimpa seseorang terjadi atas izin Allah. “Caranya sabar adalah dengan menyadari setiap kejadian itu atas izin Allah,” ujarnya.

“Ketika ada kejadian, pertama, jangan lihat kejadiannya atau orangnya, tapi lihatlah bahwa itu terjadi atas izin Allah. Karena izin Allah itu sempurna, maka ucapkan ‘Alhamdulillah’. Terima, lalu berdoalah apa yang kita inginkan,” terangnya.

Baca Juga:  PCM Gresik Kota Baru Siap Ikuti CRM Award VI Kategori Best of the Best

Ia pun mengajak para ibu untuk merenungkan, “Jadi, kita harus berterima kasih atau malah emosi kepada orang yang membuat kita bersabar? Tentu berterima kasih, karena gara-gara dialah, doa kita bisa Allah kabulkan.”

Syaratnya, kata Ustaz Okeu, harus beriman. Kalau tidak yakin, tidak mungkin bisa menerima dan bersyukur. “Buktikan sendiri! Manusia akan semakin yakin ketika sudah mempraktikkan dan membuktikannya,” tutur pria asal Jakarta itu.

Baik Menurut Allah

Ayat Al-Qur’an lainnya, Surah Al-Baqarah ayat 216, turut menjadi landasan penting dalam kajian ini. Ustaz Okeu mengingatkan, apa yang menurut manusia tidak baik, belum tentu demikian menurut Allah.

“Belum tentu menurut kamu baik, menurut Allah baik. Berarti meskipun tidak sesuai keinginan kita, apakah itu baik? Baik. Kalau begitu, mungkinkah kita kecewa? Tidak. Karena kita paham bahwa yang penting, menurut Allah pasti baik,” tegasnya.

Ia menyarankan agar setiap individu menerima segala kejadian yang telah terjadi sebagai kehendak Allah. “Tugas kita adalah berikhtiar, Allah yang memutuskan, dan kita menerima hasilnya. Itulah esensi dari iman kepada qada dan qadar. Kita sering bermasalah karena tidak mengikuti petunjuk Al-Qur’an,” imbuhnya.

Dengan nada penuh harap, Ustaz Okeu memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. “Misalnya, ketika anak kita tidak lulus ujian. Kita terima. Lalu kita mohon kepada Allah agar di ujian berikutnya anak kita diluluskan.”

Beriman kepada Janji-Nya

Mengaitkan dengan rukun iman pertama, beriman kepada Allah, Ustaz Okeu menjelaskan lebih dalam. Ia mengutip Surah Al-Qasas ayat 10 yang menceritakan tentang hati ibu Musa yang kosong. Namun kemudian Allah meneguhkan hatinya agar termasuk orang-orang yang beriman kepada janji-Nya.

Ia menegaskan, “Kita beriman kepada janji-Nya. Salah satu janjinya adalah memberikan keputusan yang terbaik dan mengabulkan doa orang yang bersabar.”

Baca Juga:  Mugeb Primary School Sambut Hangat Menu Makan Bergizi Gratis

Lebih lanjut, Ustaz Okeu mengutip Surah Yunus ayat 55 yang mengingatkan, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah milik Allah dan janji-Nya pasti benar, meskipun banyak manusia yang tidak mengetahuinya.

“Padahal, salah satu janji Allah adalah bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Kalau ibu-ibu menghadapi kesulitan, apakah memilih pusing atau percaya pada janji Allah?” tanyanya.

Sebagian ada yang jujur menjawab pusing sehingga memantik tawa para jemaah. Semestinya adalah percaya itu bagian dari janji Allah.

“Tenang saja, Allah sudah berjanji bahwa sesulit apapun masalah yang ibu hadapi, pasti ada kemudahan. Ini berlaku bagi orang yang percaya!” tegasnya.

Akal Vs Iman

Menutup kajiannya, Ustaz Okeu kembali menekankan pentingnya membedakan antara penggunaan akal dan iman. “Menghadapi kesulitan, kita bisa memilih antara pusing atau yakin. Pusing itu menggunakan akal, sedangkan yakin itu menggunakan iman,” terangnya.

Kapan akal digunakan? Kapan iman digunakan? Pertanyaan ini membuat jemaah diam seketika. Mereka mencoba berpikir keras.

Selama masih masuk akal dan bisa terbukti, kata Ustaz Okeu, tidak usah menggunakan iman, cukup dengan akal. Namun, ketika akal sudah mentok, di situlah iman berperan.

Ia pun mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa bersyukur. Juga yakin, Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya yang beriman.

Kajian Halaqah Ummahat kali ini tidak hanya memberikan pencerahan, tetapi juga menumbuhkan kehangatan dan kebersamaan di antara para wali siswa Mugeb School.

Gelak tawa dan anggukan kepala menjadi bukti, pesan yang Ustaz Okeu sampaikan mampu menyentuh hati dan memberikan perspektif baru dalam menjalani kehidupan yang penuh ujian. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni