Feature

Menjaga Indra dari Fitnah Informasi

27
×

Menjaga Indra dari Fitnah Informasi

Sebarkan artikel ini
Ustaz Soedjono
Ustaz Soedjono

Kabeh lombok bahasa indonesiane cabai
kabeh nikmat Allah dijaluk tanggung jawabe

Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan

Tagar.co – Dalam hidup, Allah Swt. mengingatkan bahwa setiap nikmat yang diberikan kepada manusia—termasuk pendengaran, penglihatan, dan hati—tidak akan luput dari pertanggungjawaban. Firman-Nya:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’: 36)

Baca juga: Menjauhi Sombong, Mendekap Rida Ilahi

Ayat ini menjadi peringatan sekaligus pelajaran penting bagi setiap muslim. Banyak hal yang kita dengar dan lihat setiap hari, terutama di era media sosial yang begitu cepat menyebarkan kabar.

Namun tidak semua yang kita dengar adalah benar, dan tidak semua yang tampak di mata mencerminkan kenyataan.

Tabayun

Karena itu, Islam mengajarkan tabayun—yakni meneliti dan mengklarifikasi setiap informasi sebelum kita mempercayainya atau bahkan menyebarkannya.

Baca Juga:  Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

Tanpa tabayun, kabar yang salah bisa menjadi fitnah, dan fitnah adalah dosa besar yang dapat merusak kehormatan seseorang.

Kehati-hatian dalam menyampaikan berita adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual seorang mukmin.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga lisan, pendengaran, dan pandangan agar tidak digunakan untuk hal yang sia-sia atau menyakiti orang lain. Jadikan setiap indera sebagai jalan menuju kebaikan dan keridaan Allah Swt.

Kehidupan modern yang sarat dengan informasi menuntut kita untuk semakin berhati-hati. Ketika jari mudah menulis, mata mudah percaya, dan telinga mudah tersulut, di situlah iman diuji.

Maka, dibutuhkan kejernihan hati untuk menahan diri dari prasangka dan ucapan yang bisa melukai orang lain. Mari kita berdoa:

“Ya Allah, jauhkanlah lisan, hati, dan pikiran kami dari prasangka buruk, serta bimbing kami agar selalu berkata benar dan membawa kedamaian. Amin.”

Sebagai penutup, malam yang hening adalah waktu terbaik untuk menenangkan diri dan memohon ampunan. Mari kita hidupkan malam dengan salat tahajud, memohon agar Allah menjadikan kita hamba yang berhati jernih dan berindera amanah. (#)

Baca Juga:  Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

Penyunting Mohammad Nurfatoni