
Dua pekan setelah pemakaman kakaknya, Aira mendapat notifikasi dari akun yang seharusnya sudah mati. Sebuah unggahan baru muncul—bukan tentang kehilangan, tapi tentang cinta yang belum selesai.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Sudah sepekan sejak liang tanah itu menutup, namun langkah-langkah menuju makam Davin Arshaka tak pernah berhenti. Dari Bandung, Yogyakarta, hingga Sulawesi, teman-temannya berdatangan membawa kenangan dan air mata.
Seolah kepergian Davin belum selesai, seolah masih ada janji yang belum sempat ditepati dan cinta yang belum sempat diucapkan.
“Ke makamnya Davin, ya?” tanya penjaga makam yang kini hafal mereka semua.
Hujan sore itu turun perlahan, menimpa batu nisan yang masih putih bersih. Di antara bunga krisan yang mulai layu, nama Davin Arshaka terukir rapi.
Aira, adik perempuannya, duduk diam di bawah pohon kamboja sambil memperhatikan orang-orang yang datang satu per satu.
Wajah-wajah muda itu membawa bunga, membawa doa, membawa sisa cerita yang tertinggal di antara percakapan masa lalu.
Baca cerpen lainnya: Bengkel tanpa Suku Cadang Pengganti
#
Di ruang tamu rumah keluarga Davin, dindingnya penuh foto-foto lama: acara kampus, kegiatan sosial, lomba desain. Di setiap foto, Davin selalu di tengah, dengan senyum yang lebar tapi teduh.
Aira menatap lama foto itu, seolah ingin menarik suaranya keluar dari bingkai.
Ibu Davin duduk di sudut ruangan, memeluk tas kecil peninggalan anaknya. “Dia selalu bilang, ‘Bu, nanti kalau aku nggak sempat pulang, lihat saja akun media sosialku. Aku pasti nulis di situ.’”
Kalimat itu dulu hanya gurauan. Kini, rasanya seperti pesan yang ditinggalkan dengan sengaja.
Beberapa hari kemudian, rumah kembali ramai oleh teman-teman kampus Davin. Mereka datang bergantian, membawa kisah yang berbeda, tapi nadanya selalu sama: rindu.
“Davin itu, kalau rapat jurusan, suaranya paling keras,” ujar Radit Alvano, rekan sekelas di Desain Produk 2017. “Kami sempat ribut soal siapa yang jadi ketua angkatan. Tapi waktu Davin maju, semua langsung setuju. Katanya, ‘Yang penting kita jalan bareng, bukan siapa yang paling depan.’”
Radit tersenyum getir. “Sejak itu, kami jadi keluarga.”
Tak lama, seorang perempuan datang dengan mata sembap. “Saya Livia Anindra, teman satu kelompok tugas akhir Davin,” katanya pelan.
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas bergaris penuh coretan dan rumus. “Ini rancangan terakhirnya. Dia janji mau kirim revisi minggu depan ke dosen pembimbing. Tapi belum sempat.”
Livia menatap kertas itu lama sebelum melipatnya kembali. “Davin orangnya nggak pernah marah. Kalau kami mulai menyerah, dia bilang, ‘Kita nggak boleh berhenti di tengah jalan. Hidup juga butuh diselesaikan.’”
Aira diam. Kalimat itu menusuk—terlalu pas dengan keadaan sekarang.
Malam itu, rumah menjadi senyap setelah semua tamu pamit. Aira duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel Davin yang selama ini ia simpan di laci. Ia menyalakannya perlahan. Layar ponsel menyala, memperlihatkan ratusan pesan dari teman-temannya: ucapan duka, kenangan, tawa lama yang belum sempat sirna.
“Bro, makasih udah bantu revisi.”
“Dav, kapan nongkrong lagi di warkop depan kampus?”
“Dav, jangan lupa kita janji nonton final desain produk, ya.”
Aira menatap layar itu, lalu menunduk. Air matanya jatuh tepat di tengah notifikasi, memantulkan wajahnya sendiri. Ia menutup ponsel itu pelan—seperti menutup jendela menuju masa lalu.
Beberapa hari kemudian, Livia datang lagi bersama dua teman kampus. Kali ini mereka membawa rekaman suara.
“Ini masih ada suaranya,” kata Livia pelan.
Dari speaker ponsel, suara Davin terdengar serak tapi tenang:
“Yang penting, jangan berhenti berbuat baik, meskipun nggak ada yang lihat. Dunia ini cuma sekejap, tapi kebaikan bisa hidup selamanya.”
Aira memejamkan mata. Suara itu seperti datang dari balik kabut, menembus antara nyata dan tidak.
Hujan turun lagi sore itu, seperti ikut mendengarkan.
Dua pekan kemudian, rumah mulai sepi. Tidak ada lagi pelukan tiba-tiba, tidak ada mobil yang berhenti di depan pagar. Aira duduk di teras, menatap senja yang menggantung di ujung langit. Tangannya memegang ponsel Davin. Ia berniat menonaktifkan akun media sosial sang kakak agar tidak ada lagi yang mengirim pesan sia-sia.
Namun sebelum ia sempat menekan tombol hapus akun, muncul notifikasi baru.
Akun Davin aktif.
Ada unggahan baru: sebuah foto bunga krisan putih di atas batu nisan.
Caption-nya singkat:
“Terima kasih sudah datang. Aku masih di sini, menunggu kalian terus datang.”
Aira tercekat. Ia memeriksa kembali. Akun itu tak mungkin diakses siapa pun selain Davin. Bahkan, ia sendiri sudah menonaktifkan login dua pekan lalu. Tapi unggahan itu nyata, baru satu jam yang lalu.
Angin sore bertiup pelan. Di halaman, bunga kamboja jatuh satu per satu, seolah menyapa bumi yang pernah mengantarkan seorang pemuda bernama Davin.
Aira menggenggam ponsel itu erat-erat. Hening.
Lalu, entah dari mana, terdengar notifikasi baru lagi.
“Jangan hapus akun ini, Ra. Aku masih di sini, di antara doa-doa kalian.”
Layar ponsel bergetar, lalu mati total.
Aira terpaku. Angin berhenti sejenak, langit berubah jingga gelap.
Ia menatap ke arah makam di kejauhan, di bawah pohon kamboja yang sama tempat ia biasa duduk.
Hujan kembali turun perlahan. Dan di antara bunyi rinainya yang lembut, seolah terdengar suara yang berbisik—bukan menakutkan, tapi hangat:
“Teruslah datang… karena cinta tidak pernah benar-benar pergi.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












