
Bukan karena Seika paling kuat, apalagi paling beruntung. Ia sampai di titik ini karena kereta tua dan orang-orang yang diam-diam menolak membiarkannya berhenti.
Cerpen oleh Jennyfa Rahma
Tagar.co – Langit yang seharusnya biru dipenuhi gumpalan awan kelabu. Rintik hujan turun perlahan, lalu berubah deras. Kaca kereta di hadapan Seika mengembun oleh bulir-bulir air yang luruh—di luar, dan di pipinya.
Ia mengusap ijazah di pangkuannya.
Hari ini seharusnya menjadi hari istimewa. Ia lulus dengan predikat cumlaude, menuntaskan empat tahun perjuangan di sebuah universitas negeri di daerahnya—kampus yang tak terkenal, tapi cukup untuk membuatnya bangga.
Baca juga: Lak Bulu
Dulu Seika bukan siapa-siapa. Kini ia menjadi wisudawan terbaik, bahkan sudah diterima bekerja di usia yang tergolong muda.
Namun kalimat itu kembali terngiang.
“Jangan pernah berharap pada manusia.”
Rio.
Pria yang selama dua tahun terakhir mengisi hatinya memilih pergi tepat saat Seika ingin berbagi bahagia. “Kita tak setara,” katanya singkat.
Seika tak membantah. Mungkin memang mereka tak sejajar. Tapi bukankah ia sedang berusaha? Bukankah ia sedang memanjat pelan-pelan menuju titik di mana ia pantas dicintai?
Deru kereta dan hujan menjadi latar lamunannya. Di balik kaca berembun itu, kenangan perlahan muncul.
Desa Bludukan, Lima Tahun Lalu
Fajar belum menyentuh ujung langit ketika Seika terbangun. Di rumah kayu mungil yang atapnya bocor di banyak sisi, pagi selalu datang tanpa suara. Ayahnya telah lama berpulang. Ibunya bekerja sebagai TKI di luar negeri.
Dulu, setiap bulan, uang saku dan surat panjang penuh rindu selalu datang. Lalu berhenti.
Seika bangkit, merebus air, menanak nasi. Ia menyiapkan dagangan kecil untuk dijual di kantin sekolah. Dari rumah ke stasiun, ia berjalan cepat, mengejar satu-satunya kereta yang masih melintasi desanya—kereta tua dengan jalur yang nyaris ditutup karena dianggap tak lagi menguntungkan.
Sering kali, Seika satu-satunya penumpang.
Hingga kabar itu datang, diam-diam menumbuhkan takut.
Jalur kereta akan ditutup.
PT Kereta Api Indonesia memutuskan menghentikan operasional karena tak memberi keuntungan.’
##
Malam di penghujung Juni terasa lembap. Awan hitam menggantung di atas Desa Bludukan. Di rumah Pak RW, lampu petromaks menyala terang. Petani dengan baju berbau tanah duduk bersila.
Ibu-ibu PKK membawa camilan. Buruh pabrik datang masih dengan seragam penuh keringat. Anak-anak muda yang terpaksa berhenti sekolah ikut duduk, kali ini bukan membawa iri, melainkan harapan.
Topik mereka satu: Seika.
“Kalau kereta itu ditutup, anak itu sekolah naik apa?” tanya Bu Surti.
“Jalan kaki lima belas kilometer ke kota?” Bu Marni menggeleng. “Tak masuk akal.”
Pak RW menunduk sejenak. “Dia satu-satunya dari kampung ini yang masih bisa kita banggakan. Dan dia tak pernah malu. Tak pernah menyerah.”
Keputusan itu diambil tanpa tepuk tangan: jalur kereta tak boleh ditutup. Belum sekarang. Belum sampai Seika lulus.
Tanda tangan dikumpulkan. Petisi dikirim ke kecamatan, kabupaten, hingga pusat. Video sederhana warga berorasi di depan rel menyebar di media sosial lokal.
“Kami tak punya banyak. Tapi tolong biarkan anak itu terus bermimpi.”
Beberapa hari kemudian, desa kecil itu ramai oleh wartawan. Dengan tangan gemetar, Bu Marni menjawab pertanyaan kamera, “Seika itu pintar. Sayang sekali kalau dia tak lanjut sekolah.”
Seika tak tahu apa yang sedang terjadi. Di depan wartawan dan perwakilan PT KAI, ia hanya berkata pelan, “Aku ingin terus sekolah.”
Kalimat itu diputar berulang-ulang. Dan entah bagaimana, menggugah banyak hati.
Jalur kereta tak jadi ditutup.
###
Di gerbong kereta yang lebih modern lima tahun kemudian, Seika masih mengingat semuanya dengan jelas. Di luar hujan turun deras, tapi embun di kaca seperti tirai yang membuka kenangan.
Ia menatap bayangan dirinya sendiri.
“Seika kecil… kamu sudah sampai di sini,” bisiknya.
Namun perih itu tetap ada. Keberhasilan yang diraih dengan susah payah justru disambut perpisahan. Rio memilih pergi. “Kita tak setara.”
Seika mengusap pipinya. Sawah mulai membentang—tanda tujuan sudah dekat.
Di pintu keluar stasiun, pemandangan itu membuat langkahnya terhenti.
Pak RW melambaikan tangan. Di belakangnya, warga Desa Bludukan berdiri rapat. Banner-banner sederhana terangkat.
Selamat datang Seika! Kebanggaan kita.
Seika berjalan cepat. Ia memeluk Bu Marni. Bahunya bergetar, tangisnya pecah—kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena ingatannya sendiri yang sempat lupa.
Pak RW menepuk bahunya. “Kamu sudah lulus, nduk. Cumlaude lagi. Kami bangga.”
Seorang pemuda menyerahkan amplop cokelat. “Ini dari ibumu. Datang tadi pagi.”
Tangan Seika gemetar saat membukanya.
Bludukan, Seika Tercinta
Ibu minta maaf karena tak hadir di hari istimewamu. Dunia di sini keras, Nak. Ibu sempat sakit, kehilangan pekerjaan, dan malu—karena tak bisa menopangmu.
Ibu pikir kau akan menyerah. Ternyata tidak.
Kau tetap berdiri.
Ibu tahu semuanya. Tentang dagangan pagimu, kereta tua itu, atap bocor yang menemanimu belajar malam hari. Diam-diam, selalu ada yang bercerita tentangmu.
Hari ini Ibu dengar kau lulus. Wisudawan terbaik.
Ibu menangis semalaman—karena bersalah dan bangga.
Jangan tangisi siapa pun yang memilih pergi. Suatu hari akan ada orang yang melihatmu bukan karena apa yang kau punya, tapi karena siapa dirimu.
Teruslah berjalan, Seika. Dunia boleh menutup pintu, tapi kau selalu punya jendela di hati Ibu.
Dengan cinta yang tak pernah habis,
Ibu.
####
Tangis Seika jatuh tanpa suara. Ia duduk di atas tasnya. Orang-orang memberi ruang, tanpa tepuk tangan, tanpa musik—hanya tatapan yang sama: tulus dan bangga.
Hari itu Seika mengerti.
Ia sampai di sini bukan karena dirinya semata, melainkan karena kepedulian-kepedulian kecil yang diam-diam berkumpul selama bertahun-tahun.
Ia menggenggam surat itu erat.
“Terima kasih, Ibu,” bisiknya. “Terima kasih semuanya.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












