Feature

Mahar dari Sampah Masjid

136
×

Mahar dari Sampah Masjid

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ditantang mengubah sampah masjid menjadi cincin emas, Wahyu hampir menyerah di tengah jalan. Ramadan menjadi saksi bagaimana cinta diuji—dan akhirnya menemukan maknanya.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co. Rintik hujan jatuh perlahan di teras rumah minimalis di Perumahan Griya Cempaka. Malam itu terasa sunyi. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh. Wahyu Raharjo duduk di kursi rotan sambil menatap halaman yang basah. Secangkir kopi hitam hangat dan sepotong ubi goreng menjadi teman setianya.

Klik dan baca: Kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari

Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu dikenal sebagai aktivis lingkungan. Lulusan Teknik Lingkungan Universitas Gala-Gala tahun 2025, kini bekerja di sebuah konsultan pengelolaan limbah. Namun malam itu, pikirannya jauh dari laporan atau proyek. Ada satu hal yang membuat dadanya sesak.

“Saya harus bisa memenuhi mahar yang diminta Santi…” bisiknya pelan.

Ia mengingat kembali hari lamaran mereka, 27 November 2025.

“Mas Wahyu, saya ingin mahar berupa seperangkat alat salat, cincin emas… dan tujuh video kultum tentang mengurangi sampah plastik.”

Wahyu sempat tersenyum lega. Hingga kalimat berikutnya membuat napasnya tertahan.

“Cincin emasnya harus dibeli dari hasil penjualan sampah plastik dan kardus dari masjid-masjid.”

Suasana ruang tamu sempat hening. Wahyu menatap Santi, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.

Santi melanjutkan, kali ini lebih pelan namun tegas, “Saya ingin pernikahan kita membawa manfaat. Bukan sekadar sah, tapi juga berdampak.”

Wahyu mengangguk. “Saya siap.”

Kini, di malam penuh hujan itu, ia baru benar-benar merasakan beratnya kata “siap”.

Baca Juga:  Papa Mama, Teguh Sudah Bisa Beli Baju Sendiri

“Plastik dua ribu rupiah per kilo… emas jutaan per gram…” gumamnya.

Ia menunduk, jemarinya saling mengunci. Untuk pertama kalinya, ia merasa ragu pada kemampuannya sendiri.

Namun keraguan itu tidak lama. Ia menarik napas panjang.

“Tidak boleh mundur.”

Keesokan pagi selepas Subuh, ibunya, Lilik Kurnia, mengajaknya ke Pasar Wonoayu. Sepeda motor matik mereka melaju pelan menembus udara segar.

“Ibu… dulu waktu menikah, ibu minta mahar apa?” tanya Wahyu hati-hati.

Ibunya tersenyum. “Seperangkat alat salat dan cincin tiga gram. Kenapa?”

Wahyu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Santi juga minta cincin… tapi harus dari hasil jual sampah plastik.”

Ibunya menoleh singkat, lalu berkata pelan,
“Berat, ya?”

Wahyu mengangguk.

“Tapi kalau kamu menyerah sekarang, kamu bukan Wahyu yang ibu kenal,” lanjutnya.

Kalimat itu seperti menampar sekaligus menguatkan.

Sepulang kerja, Wahyu menghubungi sahabat lamanya, Budi. Dari diskusi panjang itu lahir sebuah rencana.

Namun realitas tidak semudah rencana.

Masjid pertama yang ia datangi menolak mentah-mentah.

“Masjid ini bukan tempat kumpul sampah!” ujar seorang pengurus dengan nada keras.

Wahyu mencoba menjelaskan, tetapi ditolak sebelum selesai bicara.

Di masjid kedua, ia bahkan tidak diberi kesempatan masuk.

“Sudah banyak program, Mas. Jangan tambah ribet.”

Wahyu pulang malam itu dengan langkah berat. Untuk sesaat, ia duduk di tepi jalan, menatap kantong plastik kosong di tangannya.

“Ini benar bisa?” gumamnya lirih.

Namun keesokan harinya, ia kembali mencoba.

Ramadan pun tiba.

Baca Juga:  Zada yang Tak Pernah Diam

Hari pertama, hanya tiga masjid yang bersedia bekerja sama. Sampah yang terkumpul tidak sampai satu karung.

Hari ketiga, dua tempat sampah yang ia sediakan justru dipenuhi sampah campur, bercampur sisa makanan dan air.

Ia harus memilah sendiri dalam keadaan bau menyengat.

Suatu sore, saat hendak berbuka, seorang jemaah berkata setengah bercanda, “Mas, ini proyek cinta atau proyek sampah?”

Wahyu tersenyum, tetapi hatinya tertusuk.

Malam itu, ia hampir tidak berangkat lagi.

Namun ia teringat wajah Santi.
Dan kata ibunya.

Ia bangkit lagi.

Perlahan, usahanya mulai terlihat.

Ia tidak hanya menaruh tempat sampah, tetapi juga berbicara. Mengajak. Menyentuh.

“Kalau kita menjaga masjid dari sampah, berarti kita menjaga kehormatan rumah Allah,” ucapnya dalam sebuah kultum.

Beberapa jemaah mulai membantu.

Anak-anak ikut mengumpulkan botol plastik.

Marbot mulai memisahkan kardus.

Hari kesepuluh Ramadan, pengepul datang.

Namun kabar yang diterima tidak seperti harapan.

“Mas, ini plastiknya banyak yang kotor. Harganya turun,” kata pengepul.

Wahyu terdiam.

Hasil hari itu hanya seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Ia menatap angka itu lama. Terlalu kecil dibanding harga cincin emas.

Malam itu, untuk pertama kalinya ia benar-benar ingin menyerah.

Memasuki malam kedua puluh Ramadan, Santi menelepon.

“Sudah berapa, Mas?”

“Baru satu juta lebih,” jawab Wahyu pelan.

Ada jeda di ujung telepon.

“Capek ya?” tanya Santi.

Wahyu tidak langsung menjawab.

“Iya,” akhirnya ia berkata jujur.

Santi tersenyum, meski tak terlihat.

“Tapi kamu tidak berhenti, kan?”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Wahyu kembali berdiri.

Baca Juga:  Doa yang Berangkat Lebih Dulu

Sepuluh malam terakhir, ia beriktikaf.

Di antara sunyi masjid, ia berdoa lebih lama dari biasanya.

“Ya Allah… saya hampir menyerah. Tapi kalau ini baik, kuatkan saya.”

Malam kedua puluh lima menjadi titik balik.

Seorang jemaah menyumbangkan gudang penuh kardus bekas.

Pengumpulan meningkat drastis.

Masjid-masjid yang dulu menolak mulai ikut bergabung.

Yang dulu mencibir, kini ikut membantu.

Hari kedua puluh tujuh Ramadan.

Angka itu akhirnya muncul di layar: lebih dari lima juta rupiah.

Wahyu menatapnya lama, seakan tidak percaya.

Matanya basah.

Ia sujud syukur.

Hari itu juga ia mengambil uang tabungan senilai hasil penjualan sampah tersebut, lalu pergi ke toko emas.

Sebuah cincin sederhana seberat dua gram ia pilih.

Bukan yang paling besar. Tapi paling bermakna.

Tanggal 27 Maret 2026, Masjid Nurul Jannah dipenuhi cahaya pagi.

Akad nikah berlangsung khidmat.

Saat menyerahkan mahar, Wahyu berbisik, “Cincin ini bukan hanya emas… tapi juga perjuangan yang hampir membuat saya menyerah.”

Santi menggenggamnya erat.

“Dan justru itu yang membuatnya berharga,” jawabnya pelan.

Di luar masjid, para marbot menyalami Wahyu.

“Masjid kami sekarang lebih bersih,” kata salah satu dari mereka.

Wahyu menatap Santi.

Dalam hatinya, ia merasa tenang.

Ia akhirnya paham—bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang berjuang bersama untuk sesuatu yang lebih besar.

Dan dari sampah yang dianggap tak berharga, lahir sebuah cincin… dan makna yang jauh lebih mulia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni