
Ia terlihat bahagia di setiap unggahan. Tapi siapa yang tahu apa yang terjadi setelah layar dimatikan?
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Setiap pagi Arga membuka mata bukan untuk menatap cahaya jendela, melainkan layar ponsel di tangannya. Di sanalah ia mengukur hidupnya melalui angka dan reaksi.
Senyum yang ia tampilkan selalu tampak meyakinkan, seolah kebahagiaan dapat dipastikan lewat unggahan. Tak banyak yang menyadari bahwa yang paling ia cari bukan perhatian, melainkan keberadaan.
Baca cerpen lainnya: Catatan Kecil di Dompet Arman
Arga dikenal sebagai sosok yang selalu tampak berhasil di media sosial. Hampir setiap hari linimasanya dipenuhi potret kehidupan yang rapi dan mengesankan. Ponsel terbaru dengan kamera jernih, kopi mahal di kafe estetik, sepatu edisi terbatas, hingga mobil baru yang dipotret dari sudut terbaik. Semuanya seperti pameran yang disusun teliti agar tak satu pun terlihat cacat.
Komentar mengalir deras. Pujian, rasa iri, dan kekaguman bercampur menjadi satu. Arga membacanya perlahan, satu per satu, seolah setiap kata adalah pengakuan yang menegaskan bahwa ia ada. Ia membalas dengan kalimat rendah hati, diselingi emoji senyum. Namun, setelah layar kembali gelap, dadanya sering terasa kosong.
Di dunia nyata, pagi Arga berjalan tanpa suara. Apartemen yang ia tinggali luas dan tertata, tetapi tak pernah benar-benar hidup. Meja makan selalu bersih, kursi selalu kosong. Ia menyeduh kopi sendiri, meminumnya sambil berdiri, lalu menata ulang ruangan agar cocok dijadikan latar foto. Setelah unggahan terkirim, ia menunggu, berharap hari itu terasa lebih berarti.
Kebiasaan memamerkan hidupnya bermula bertahun lalu. Saat pertama kali ia mampu membeli barang mahal dari hasil kerja keras, ia merasa bangga sekaligus takut. Bangga karena akhirnya diakui, takut karena khawatir pengakuan itu menghilang. Sejak saat itu, setiap pencapaian selalu diabadikan—bukan untuk dikenang, melainkan untuk dipastikan terlihat.
Semakin banyak yang ia miliki, semakin sering ia membagikannya. Pekerjaannya disebut kreator agar terdengar mapan dan bebas. Perjalanan singkat ke luar kota dipotret seolah liburan panjang. Tawa di kafe direkam, lalu berhenti begitu kamera dimatikan. Tidak ada yang bertanya bagaimana ia menjalani hari setelah unggahan terakhir.
Arga pernah memiliki rumah yang lebih hidup. Di sana ada Mira, istrinya, yang gemar membaca dan jarang mengabadikan apa pun. Mereka dulu berbincang panjang tanpa gangguan notifikasi. Namun perlahan, Arga lebih sibuk mengatur cahaya daripada mendengarkan. Mira berbicara, Arga menunduk pada layar.
Suatu malam, Mira bertanya mengapa semua harus dibagikan ke dunia luar. Arga menjawab agar hidup mereka tidak hilang begitu saja. Mira terdiam lama sebelum berkata bahwa yang perlahan hilang justru mereka sendiri. Kalimat itu menggantung di udara, tak dijawab, lalu tenggelam oleh bunyi notifikasi.
Mira pergi beberapa bulan kemudian. Tidak ada pertengkaran besar, hanya jarak yang tak lagi bisa dijembatani. Di media sosial, Arga menulis tentang fase hidup dan fokus pada diri sendiri. Banyak yang memberi dukungan. Tak satu pun yang tahu bahwa apartemen itu kini terasa semakin luas dan asing.
Sejak itu, Arga semakin rajin mengunggah. Ia membagikan kebahagiaan yang disusun rapi, seolah takut jika berhenti maka ia benar-benar menghilang. Ia jarang berbincang dengan tetangga, jarang menelepon keluarga. Malam-malamnya dihabiskan menatap layar, memeriksa ulang statistik, lalu menyiapkan unggahan berikutnya.
Suatu malam, sebuah video pendek tentang hidup sederhana dengan fasilitas lengkap mendapat respons luar biasa. Tanda suka dan komentar datang tanpa henti. Arga duduk di lantai, memeluk ponselnya, napasnya terengah, tetapi bibirnya tersenyum. Untuk sesaat, ia merasa ditemani.
Keesokan harinya, pintu apartemen Arga tak pernah terbuka. Seorang tetangga melapor karena lampu tak kunjung padam. Petugas menemukan Arga terbaring di ruang tamu, dikelilingi lampu, tripod, dan ponsel yang masih menyala. Tidak ada pesan terakhir. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Berita itu hanya menjadi catatan kecil. Tidak banyak yang mengenal Arga di dunia nyata. Namun di linimasanya, unggahan terus muncul—foto dan video yang telah dijadwalkan tayang tepat waktu, menampilkan potongan kebahagiaan yang belum sempat ia bagikan.
Tanda suka terus bertambah. Komentar pujian tetap berdatangan. Dunia maya merayakan kehidupan yang tampak sempurna, tanpa mengetahui bahwa pemiliknya telah lama berhenti bernapas. Pameran itu tetap berlangsung, dijaga oleh algoritma, sementara manusia di balik layar telah benar-benar pergi. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












