
Selembar kertas menguning menjadi saksi pilihan hidup Arman. Di zaman yang bising oleh cicilan dan ambisi, ia belajar cukup, pelan, dan jujur pada dirinya sendiri.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Di tengah zaman yang menjadikan cicilan dan pamer sebagai ukuran keberhasilan, Arman memilih hidup yang tidak populer. Ia bekerja keras, menahan diri, dan merasa cukup dengan rezeki yang ada.
Keputusannya tampak sederhana, bahkan sering dianggap aneh. Namun di balik pilihan itu, tersembunyi alasan yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Hidup Arman dibingkai oleh sebuah catatan kecil yang selalu ia simpan di dompetnya. Kertas itu mulai menguning, terlipat rapi, dan jarang ia perlihatkan.
Setiap kali membacanya, Arman seperti diingatkan pada janji yang ia buat untuk dirinya sendiri: tahun 2026 semua utang harus lunas. Tidak boleh ada utang baru. Hidup harus cukup.
Baca juga: Utang Barang Menjadi Musuh Dagang
Catatan itu ia tulis pada suatu malam sepulang dari reuni teman kuliah. Di sebuah kafe yang lampunya temaram, Arman duduk di sudut ruangan, memegangi gelas kopi yang sudah dingin.
Ia menyimak cerita tentang rumah baru, kendaraan baru, liburan ke luar negeri, dan cicilan panjang yang dibungkus kata sukses. Ketika seseorang bertanya, setengah bercanda, mengapa ia belum membeli apa-apa, Arman hanya tersenyum. Di dalam dadanya ada rasa kecil yang menyesak, antara minder dan lelah.
Godaan datang hampir setiap hari. Iklan ponsel terbaru muncul di layar gawainya saat ia menunggu bus pagi. Rekan kerja memamerkan motor keluaran terbaru, kuncinya diletakkan sengaja di atas meja. Bahkan ibunya pernah berkata pelan, seolah takut menyinggung, bahwa hidup jangan terlalu menahan diri.
Suatu malam, Arman hampir menyerah. Ia membuka laman simulasi kredit, mengisi angka gaji, tenor, dan bunga. Jarinya sempat berhenti lama di tombol “ajukan”. Ia membayangkan wajahnya terlihat lebih pantas saat pulang kampung, tidak lagi merasa kecil di antara sepupu-sepupu yang tampak mapan.
Namun bersamaan dengan itu, dadanya terasa sesak. Bukan karena iri, melainkan cemas. Ia menutup layar, mematikan gawai, lalu duduk lama di tepi ranjang, napasnya teratur tapi berat.
Arman tidak menyukai perasaan terikat pada angka yang harus dibayar setiap bulan. Ia memilih melipat kembali catatan kecil itu dan tidur dengan pikiran gelisah yang perlahan ia jinakkan.
Hari-harinya diisi kerja keras. Pagi hingga sore di kantor, malam mengerjakan pekerjaan tambahan yang ia dapat dari belajar keterampilan baru. Ia menolak banyak ajakan nongkrong yang tidak perlu, memilih pulang lebih awal, menyeduh teh hangat, dan mengistirahatkan tubuhnya.
Teman-temannya semakin sedikit, tetapi semakin jujur. Mereka tidak bertanya soal barang, tidak membandingkan pencapaian. Jika bertemu, mereka bicara soal hidup yang nyata dan apa adanya.
Utang Arman berkurang pelan-pelan. Tidak dramatis, tidak dirayakan. Setiap pelunasan hanya ia tandai dengan satu garis pena di catatan kecil itu. Meski begitu, hidupnya tidak selalu tenang. Ada malam ketika ia merasa bodoh, merasa tertinggal, merasa gagal menjadi versi yang dipuji orang.
Pada suatu hari, atasannya menyindir pilihannya hidup sederhana. Katanya, orang seusia Arman seharusnya sudah terlihat berhasil. Ucapan itu menghantam lebih keras daripada ejekan mana pun. Arman pulang lebih awal, duduk lama di kamar, menatap langit-langit yang kosong, dan untuk pertama kalinya bertanya dengan jujur: apakah ia salah?
Tahun 2026 akhirnya tiba. Utang terakhir lunas tanpa tepuk tangan, tanpa unggahan, tanpa kabar kepada siapa pun. Arman hanya menutup dompetnya, menarik napas panjang, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ringan. Bukan bahagia yang meledak, melainkan tenang yang menetap.
Suatu sore, seorang teman lama datang berkunjung. Wajahnya kusut, suaranya rendah. Ia bercerita tentang cicilan yang menumpuk, pekerjaan yang tak lagi memberi ruang bernapas, dan hidup yang terasa seperti kejar-kejaran tanpa garis akhir. Lalu ia bertanya pelan mengapa Arman terlihat utuh, padahal hidupnya tampak biasa saja.
Arman tidak langsung menjawab. Ia berdiri, masuk ke kamar, dan kembali membawa sebuah map cokelat. Tangannya sedikit bergetar saat menyerahkannya. Di dalam map itu ada hasil pemeriksaan medis yang selama ini ia simpan sendiri: penyakit kronis yang menuntut ketenangan, keteraturan, dan waktu. Bukan hidup yang berisik dan terbebani.
Barulah saat itu temannya mengerti. Hidup tanpa utang bukan sekadar prinsip. Itu adalah cara Arman bertahan. Ia tidak sedang melawan zaman. Ia sedang menjaga dirinya sendiri.
Cerita ini berakhir kembali pada catatan kecil di dompet Arman. Kini kertas itu kosong. Tidak ada target baru. Tidak ada ambisi besar. Ia menyimpannya bukan sebagai pengingat masa lalu, melainkan sebagai simbol bahwa di zaman yang bising, privilese terbesar adalah hidup yang tidak lagi dikejar-kejar oleh apa pun. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












