Cerpen

Utang Barang Menjadi Musuh Dagang

×

Utang Barang Menjadi Musuh Dagang

Sebarkan artikel ini
llustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di pasar kecil itu, utang barang tak hanya menggerus modal, tetapi juga mengikis kepercayaan—hingga seorang pedagang tak lagi tahu siapa kawan, siapa lawan.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di pasar kecil yang menua bersama kebiasaan warganya, seorang pedagang menyimpan keyakinan bahwa kepercayaan adalah modal utama. Ia memberi utang barang demi menjaga hubungan.

Namun waktu mengubah kebaikan menjadi kecurigaan. Tagihan terasa seperti tuduhan. Senyum menjelma jarak. Cerita ini bermula dari ingatan seorang pedagang yang perlahan kehilangan kendali.

Baca juga:  Langkah Kecil yang Mengubah Segalanya

Pagi selalu datang dengan bunyi rolling door yang serak. Aku mendorongnya pelan, seolah takut membangunkan sisa harapan yang tertinggal di dalam toko. Rak sembako berbaris rapi, tetapi ada rongga-rongga kosong yang tak bisa kusebut sekadar stok habis. Di sanalah sebagian modal menguap, berjalan keluar bersama janji yang belum tentu kembali.

Di dinding belakang, selembar kertas kusam menempel dengan selotip menguning. Isinya nama-nama, jumlah barang, dan tanggal. Tidak ada angka besar—hanya beras, gula, minyak, dan mi instan. Barang kecil yang pelan-pelan membesar di kepala. Aku menyebutnya catatan, meski dalam hati tahu: itulah daftar beban.

Aku tumbuh di pasar ini. Ayah mengajariku berdagang sambil menjaga perasaan orang. Katanya, usaha kecil hidup dari kepercayaan. Aku menuruti nasihat itu tanpa banyak bertanya. Setiap ada cerita gaji tertahan atau anak demam, aku mengangguk dan menyerahkan barang. Pulpen bergerak, kertas bertambah penuh.

Baca Juga:  Bahaya Maksiat bagi Jiwa

Sore adalah waktu terberat. Aku duduk di bangku kayu depan toko, menyapa orang yang lewat. Sebagian membalas senyum, sebagian menunduk, sebagian berpura-pura menerima panggilan. Wajah-wajah itu kuhafal. Nama-namanya menempel di dinding. Sejak kapan menyapa berubah menjadi menimbang jarak, aku tak pernah benar-benar tahu.

Ketika modal mulai seret, aku belajar menagih. Awalnya dengan kalimat lunak. Kalau ada rezeki, jangan lupa. Aku mengatakannya sambil tersenyum. Beberapa mengangguk, beberapa diam. Ada yang menjawab dengan nada tinggi, seolah aku menuduh. Dari sanalah benih permusuhan tumbuh—setidaknya dalam kepalaku.

Sumarni datang pada suatu siang yang panas. Perempuan itu biasa berjualan sayur di ujung gang, selalu terburu-buru, selalu menghitung receh sebelum melangkah pergi. Ia mengambil beras dan minyak, lalu berdiri lama di depan kasir.

Aku menyebut utangnya dengan suara yang kuusahakan biasa. Wajahnya mengeras. Suaranya meninggi. Orang-orang menoleh. Aku ingin menarik kembali kata-kataku, tetapi semuanya sudah terlontar. Ia pergi tanpa menatap, meninggalkan bau keringat dan amarah yang menggantung di udara.

Baca Juga:  Mengapa Salat Wanita di Rumah Lebih Utama? Ini Penjelasan Syariat

Sejak itu, aku membingkai hidup sebagai pedagang yang dikhianati. Setiap malam keluhan yang sama kubawa pulang. Istriku mendengar tanpa memotong. Tangannya sering menghitung uang di meja makan, lalu berhenti ketika suaraku meninggi. Ia hanya mengingatkan agar aku berhati-hati menjaga hati sendiri.

Aku memasang tulisan kecil di depan toko: Maaf, tidak melayani utang. Sejak hari itu, toko terasa aman sekaligus sepi. Tidak ada lagi cerita panjang, tidak ada lagi janji. Penjualan turun, tetapi aku merasa benar. Aku yakin telah menyelamatkan usaha dari musuh-musuh baru.

Suatu malam aku pulang lebih larut. Kepala berat oleh lelah dan amarah yang tak sempat keluar. Pagi berikutnya, pintu toko rusak. Rak berantakan. Karung beras terbuka, botol minyak terguling, mi instan yang paling sering keluar lewat utang lenyap. Aku berdiri lama di ambang pintu, mencium bau debu dan plastik robek. Marah dan takut bercampur. Dalam benakku, nama-nama di dinding berbaris rapi.

Polisi datang, mencatat, bertanya. Aku menjawab dengan dugaan yang tak berani kusebutkan. Setelah mereka pergi, toko terasa seperti ruang kosong tanpa suara. Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Pelanggan lama tak kembali. Tulisan di depan toko mulai pudar oleh hujan dan matahari.

Baca Juga:  Harapan bagi Jiwa yang Bergelimang Dosa

Sore itu, istriku menurunkan kertas dari dinding belakang. Ia meletakkannya di meja. Aku menatapnya dengan rasa aneh—antara marah dan rindu. Ia berkata pelan bahwa semua nama di situ sudah lunas. Aku tertawa kecil, mengira ia bercanda.

Ia menjelaskan bahwa orang-orang datang diam-diam, menitipkan uang, meminta nama mereka dirahasiakan. Mereka takut berbicara langsung denganku. Tanganku gemetar memegang kertas itu. Tanggal-tanggalnya dicoret rapi. Aku merasa lantai bergerak.

Lalu ia menyerahkan amplop berisi catatan pembelian dan penerimaan barang dari pengepul. Tanggalnya sama dengan malam toko dibobol. Namaku tertulis jelas. Istriku menatapku dengan mata yang lelah—bukan menuduh, hanya memastikan aku mendengar.

Aku teringat malam itu. Minuman yang kupikir sekadar menghangatkan. Pintu yang kubuka sendiri. Barang yang kupindahkan ke gudang belakang dengan dalih akan kuhitung ulang. Ingatan itu jatuh satu per satu, menyusun gambar yang tak ingin kuterima.

Di bangku kayu depan toko, aku akhirnya duduk sebagai orang yang paham. Musuh yang kucurigai ternyata bayangan dari ketakutanku sendiri. Utang barang bukanlah awal permusuhan. Keenggananku bercerminlah yang pelan-pelan meruntuhkan usahaku. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Masjid yang dulu penuh perlahan sepi. Seorang pengurus…