Segala yang diinginkan telah dimiliki, tetapi hati tetap terasa kosong. Pertemuan sederhana di tepi telaga membawanya pada perjalanan sunyi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co — Sore mendung menggantung di langit Kabupaten Rempah. Angin berembus pelan, menggerakkan pucuk-pucuk daun di halaman rumah bergaya Eropa milik keluarga Haji Farhan.
Di garasi luas berlantai marmer itu, Alex Faturahman berdiri di samping motor kebanggaannya—Ducati Panigale V4 R merah menyala.
Mesin dinyalakan.
“Druuummm… druuummm…”
Klik dan baca: Kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari
Getaran halus merambat dari stang ke telapak tangannya. Alex tersenyum. Jaket kulit Ducati Corse membalut tubuhnya, helm Shoei menutup wajahnya rapat. Ia tampak seperti pembalap profesional—atau setidaknya, begitulah yang ingin ia rasakan.
Sejak kecil, hidup Alex nyaris tanpa kekurangan. Ayahnya pengusaha material bangunan yang sukses. Garasi rumahnya lebih mirip showroom kecil: deretan motor sport mahal tersusun rapi.
Namun, entah sejak kapan, ada jeda yang tak bisa ia isi.
Ia mematikan mesin. Hening kembali jatuh. Terlalu cepat.
Sore itu, Alex melaju menuju Angel Lake—tempat favorit anak muda menunggu waktu berbuka. Jalanan padat, tetapi Ducati-nya membelah arus dengan mudah. Beberapa kepala menoleh, sebagian mengangkat ponsel.
Saat ia tiba, sorot mata langsung tertuju padanya.
“Wah… Ducati!”
“Keren banget!”
“Selfie, yuk!”
Alex berhenti di titik nol kawasan. Ia melepas helm perlahan. Senyum tipis terlukis, tubuhnya tegap, seolah sudah terbiasa dengan perhatian seperti ini.
Kamera-kamera ponsel terangkat. Kilatan cahaya menyambar.
Alex mengikuti beberapa pose. Namun di sela itu, matanya sempat kosong—sekilas saja, lalu kembali tersenyum.
Ia menoleh ke arah telaga, airnya tenang, memantulkan langit yang kelabu. Tidak ada yang istimewa, tetapi justru di situ ia merasa asing.
Sorak kagum di sekelilingnya terus terdengar, tetapi seperti menjauh.
Di sisi lain area, aroma kopi tercium samar.
Seorang pemuda berdiri di samping motor tua—Honda Astrea dengan kotak kecil di belakangnya. Tangannya cekatan meracik minuman. Sesekali ia tersenyum, menyapa pelanggan.
Alex memperhatikan sejenak.
Pemuda itu menuangkan kopi, lalu tanpa ragu menyerahkan satu gelas kepada seorang anak jalanan. Gratis. Anak itu tersenyum lebar. Tak lama, seorang petugas kebersihan datang—ia mendapat perlakuan yang sama.
Pemuda itu tampak ringan. Tidak terburu-buru. Tidak pula berusaha terlihat hebat.
Alex mengenal wajah itu.
Ia menyalakan kembali motornya, lalu mendekat.
“Ahmad…?”
Pemuda itu menoleh. Wajahnya langsung berbinar.
“Alex! Masyaallah… lama sekali.”
Nada suaranya tulus, tanpa jarak.
Alex turun dari motor.
“Boleh pesan cokelat dingin?”
Ahmad mengangguk sambil tersenyum. Ia membuka kursi lipat kecil.
“Duduk dulu, Lex.”
Tak sampai beberapa menit, minuman itu sudah tersaji. Gelas plastik sederhana, butiran es masih berembun.
Alex menerimanya. Dingin. Segar.
Mereka duduk berhadapan.
“Masih kuliah?” tanya Ahmad.
“Iya… Teknik Mesin.”
Ahmad mengangguk. “Bagus.”
Percakapan sempat terhenti. Alex melirik motor tua di samping Ahmad, lalu kembali ke gelas di tangannya.
“Capek?” tanya Alex akhirnya.
Ahmad tersenyum kecil. “Kadang.”
Jawaban itu ringan, tanpa keluhan.
Alex menatap sekeliling. Orang-orang datang silih berganti ke lapak kecil itu. Beberapa tertawa, beberapa sekadar menyapa. Ahmad melayani semuanya dengan cara yang sama.
Tenang.
Alex menarik napas pelan.
“Mad…” suaranya lebih rendah, “kamu kelihatan… ringan.”
Ahmad tidak langsung menjawab. Ia hanya menuang air panas ke dalam gelas lain, lalu mengaduk perlahan.
“Enggak tahu juga,” katanya kemudian, singkat.
Alex terdiam. Ia menatap permukaan minumannya yang mulai tenang.
“Kadang,” lanjut Alex, “aku enggak ngerti… harus senang atau tidak.”
Ahmad menoleh, tapi tidak memotong.
“Semua ada,” kata Alex, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Tapi rasanya cepat habis.”
Ahmad mengangguk pelan. Tidak memberi nasihat. Tidak juga menyela.
Dari kejauhan, azan magrib mulai berkumandang.
Suara itu mengalun pelan, menembus keramaian.
Ahmad berdiri.
“Ayo, buka dulu. Habis itu salat.”
Alex menatapnya sejenak. Lalu mengangguk.
Malam itu, Alex tidak langsung pulang.
Ia ikut Ahmad ke masjid kecil tak jauh dari kawasan telaga. Lantainya sederhana, kipas angin berputar pelan di langit-langit.
Selepas tarawih, Ahmad masih duduk dengan Al-Qur’an di tangannya.
“Kamu pulang?” tanyanya.
Alex ragu sejenak. Ia melihat jam, lalu ke arah pintu, lalu kembali ke Ahmad.
“Kalau… di sini boleh?” tanyanya.
Ahmad tersenyum. “Boleh.”
Malam ke-29 Ramadan.
Tidak banyak orang tersisa. Masjid menjadi lebih sunyi. Suara halaman yang sesekali berderit tertiup angin terdengar jelas.
Alex duduk bersandar di tiang. Tubuhnya lelah, tetapi matanya belum ingin terpejam.
Sekitar pukul satu lewat, Ahmad menepuk pelan bahunya.
“Lex…”
Alex membuka mata.
“Kita bangun.”
Ia mengangguk pelan.
Saf mulai terisi. Tidak penuh, tapi cukup.
Imam membaca dengan suara pelan, stabil.
Ayat demi ayat mengalir.
Alex berdiri, lalu rukuk, lalu sujud.
Di antara jeda itu, pikirannya melayang—garasi, motor, sorak kagum, wajah-wajah asing, lalu kembali ke ruangan ini.
Ketika imam membaca ayat tentang syukur, suara itu terasa berbeda.
Tidak lebih keras, tidak pula lebih pelan—tetapi seperti lebih dekat.
Dada Alex terasa sempit.
Ia mencoba menelan, tetapi ada sesuatu yang mengganjal.
Saat sujud, dahinya menyentuh sajadah. Dingin.
Ia tidak segera bangkit.
Napasnya tertahan.
Lalu, tanpa ia sadari, air mata jatuh.
Tidak deras. Hanya satu, lalu satu lagi.
Ia tetap diam, tetapi dadanya bergetar pelan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin cepat selesai.
Seusai salat, Alex duduk lama.
Ahmad di sampingnya, tidak berkata apa-apa.
Udara menjelang subuh terasa sejuk. Langit mulai berubah warna.
“Mad…” suara Alex lirih.
Ahmad menoleh.
Alex tidak langsung melanjutkan. Ia hanya mengusap wajahnya, lalu menarik napas.
“Kayak… beda,” katanya akhirnya.
Ahmad tersenyum tipis. “Iya.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak perlu.
Alex menatap halaman masjid. Sederhana. Tidak mewah. Tidak juga istimewa.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kekurangan apa pun.
Ia teringat garasinya—kilap, rapi, penuh.
Lalu ia melihat tangannya sendiri.
Kosong.
Tetapi ringan.
Dalam diam, ia berdoa—tidak panjang, tidak pula teratur. Hanya potongan-potongan kalimat yang ia pahami.
Tentang kesombongan yang pernah ia nikmati. Tentang rasa yang selalu cepat hilang. Tentang keinginan untuk tidak kembali kosong.
Langit semakin terang.
Di kejauhan, suara burung mulai terdengar.
Alex berdiri perlahan.
Deru Ducati masih bisa memekakkan telinga dunia.
Namun pagi itu, ia menemukan sesuatu yang tidak bersuara—dan justru paling terasa.
Hening.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin kehilangan itu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni













