Cerpen

Ketika Azan dan Langit Tidak Sepakat

288
×

Ketika Azan dan Langit Tidak Sepakat

Sebarkan artikel ini

Pagi itu, azan sudah berkumandang. Tapi langit belum sepenuhnya setuju. Di Gang Melati, warga harus memilih—percaya jadwal, atau percaya cahaya.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di sebuah gang kecil yang selalu terbangun oleh azan, delapan menit mendadak menjadi perkara yang lebih panas dari kopi sahur.

Sebuah papan bertuliskan Subuh +8 menit diangkat seperti skor pertandingan. Seolah waktu bisa ditambah sebagaimana tambahan menit dalam sepak bola.

Baca cerpen lainnya: Notifikasi Terakhir dari Grup 1983

Orang-orang tertawa. “Bonus sahur,” kata mereka.

Namun pagi itu, yang dipertaruhkan bukan sekadar delapan menit.

Melainkan cara membaca cahaya dan keberanian mengakui bisa salah.

Gang Melati tak pernah benar-benar tidur selama Ramadan.

Lampu dapur menyala sejak pukul tiga. Uap nasi menempel di udara. Sendok beradu dengan piring, seperti bunyi kecil yang menolak kalah dari malam.

Namun hari itu ada yang bergeser.

Di tengah jalan, Pak Rahman berdiri dengan kaos kuning kusam. Rambutnya basah oleh embun. Di tangannya, papan hitam terangkat tinggi-tinggi.

Subuh +8 menit.

Anak-anak menertawakannya.

“Wasit waktu!” teriak seseorang.

Ibu Sari yang melintas dengan motor berhenti sejenak. “Ada apa, Pak?”

Pak Rahman tidak langsung menjawab. Ia menatap langit timur yang masih gelap.

Baca Juga:  Pintu yang Terlambat Dibuka

“Katanya kita terlalu cepat menyebut pagi.”

Berita itu datang dari grup WhatsApp.

Potongan gambar, grafik, dan kalimat panjang yang tak semua orang pahami.

Subuh selama ini terlalu dini.
Perlu koreksi delapan menit.

Di warung kopi, ponsel berpindah tangan.

“Ini Muhammadiyah,” kata Farid, menunjuk layar. “Soal sudut matahari. Fajar itu ada hitungannya.”

“Jadi kita salah selama ini?” suara Pak Darto meninggi.

Farid ragu sejenak. “Bukan salah… mungkin… berbeda.”

Kata mungkin jatuh seperti batu kecil—tapi cukup untuk memecah permukaan.

Arga membaca pesan itu semalam.

Ia tidak langsung membalas.

Di kepalanya, bukan angka yang berputar—melainkan ingatan.

Ibunya.

Segelas air yang tak sempat diminum.

Azan yang terlalu cepat.

Dan wajah kecewa yang tidak pernah diucapkan keras-keras.

Sejak itu, Arga selalu takut salah waktu.

Takut menjadi terlalu cepat.

Atau terlalu yakin.

Pukul 04.28.

Gang Melati menahan napas.

Sebagian orang sudah berwudu. Sebagian masih makan cepat, seperti berlomba dengan sesuatu yang tak terlihat.

Pak Rahman berdiri di jalan.

“Masih ada waktu!” teriaknya. “Delapan menit lagi!”

Pak Darto berdiri di dalam mushala. Tangannya menggenggam mikrofon, tapi tidak menekan tombol.

Matanya tidak ke jam.

Melainkan ke luar.

Ke orang-orang yang menunggu.

Baca Juga:  Ketika Tirai Disingkap: Nikmat Tertinggi Melihat Allah

Azan dari masjid besar terdengar lebih dulu.

Satu suara memecah pagi.

Pak Darto menutup mata.

Lalu menekan tombol.

Suaranya keluar—sedikit goyah.

Sebagian orang langsung berhenti makan.

Sebagian ragu.

Ibu Sari menatap suapan terakhir di tangannya. Ia tidak memasukkannya ke mulut. Tapi juga tidak menurunkannya.

Di luar, Pak Rahman masih berdiri.

“Belum!” katanya. “Belum Subuh!”

“Kalau salah, siapa tanggung jawab?” balas seseorang.

“Kalau benar, siapa berani jawab?”

Suara-suara mulai meninggi.

Bukan tentang delapan menit lagi.

Tapi tentang siapa yang berhak menentukan pagi.

Arga keluar rumah.

Langkahnya cepat, tapi tidak pasti.

Ia berdiri di antara mereka.

Di antara dua waktu.

“Pak, kenapa pakai papan begitu?” tanyanya.

“Biar orang mikir.”

“Atau biar orang takut?” sahut Arga.

Pak Rahman menatapnya.

Untuk pertama kali, ia tidak yakin.

Empat menit berlalu.

Langit masih tipis.

Belum cukup terang.

Tapi tidak lagi gelap.

Farid berbisik, “Belum jelas.”

Pak Darto keluar dari mushala.

Wajahnya berubah.

“Kalau ini terlalu cepat…” suaranya pelan, “berarti bertahun-tahun saya salah.”

Tak ada yang menjawab.

Karena tak ada yang siap menanggung kalimat itu.

Pukul 04.36.

Langit tiba-tiba berubah.

Bukan perlahan.

Tapi tegas.

Garis putih membentang di ufuk timur—horizontal, pasti, tak bisa disangkal.

Baca Juga:  Kemuliaan Manusia dalam Pujian dan Celaan Medsos

Seperti sesuatu yang akhirnya memutuskan untuk jujur.

Semua diam.

Tidak ada perdebatan yang bisa melawan cahaya.

Arga mengambil papan dari tangan Pak Rahman.

Tangannya sedikit gemetar.

Ia menulis:

Bukan bonus.

Ia berhenti.

Lalu menambahkan:

Ini koreksi.

Orang-orang membaca dalam diam.

“Jadi selama ini…” suara Ibu Sari terputus.

Arga tidak langsung menjawab.

Ia menatap langit.

“Masalahnya bukan kita salah,” katanya akhirnya.

“Masalahnya kita terlalu cepat yakin.”

Pak Darto duduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak memegang pengeras suara saat Subuh.

Farid menunduk.

Pak Rahman menurunkan papan.

Tak ada yang merasa menang.

Siput di trotoar tetap merayap.

Pelan.

Pasti.

Seolah waktu memang tidak pernah terburu-buru.

Hanya manusia yang sering ingin mendahuluinya.

Pagi itu, Gang Melati belajar sesuatu yang tidak tertulis di jadwal mana pun:

Bahwa cahaya tidak bisa diperdebatkan selamanya.

Dan bahwa keyakinan, tanpa kehati-hatian, bisa membuat seseorang lebih cepat dari kebenaran.

Papan Subuh +8 menit disandarkan di dinding mushala.

Bukan sebagai lelucon.

Bukan sebagai protes.

Melainkan sebagai pengingat—bahwa iman dan ilmu tidak sedang bertanding.

Mereka hanya menunggu manusia cukup rendah hati untuk melihat ulang fajar. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni