
Berdiri di atas bentangan kaca yang menggantung di jurang Seruni Point, rasa takut tak bisa disangkal. Di tengah kabut dan sunyi Bromo, keberanian hadir bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk melangkah dengan jujur.
Tagar.co – Kabut turun perlahan di Seruni Point, Sabtu sore, 24 Maret 2026. Ia datang tanpa tergesa, menyelimuti lanskap dengan dingin yang halus namun tegas. Angin berembus pelan, seolah menahan langkah siapa pun yang tiba.
Di hadapan saya, Jembatan Kaca Seruni Point terbentang—bening, menggantung, dan menantang. Di sinilah keberanian tak lagi menjadi kata-kata, melainkan keputusan yang harus diambil dengan satu langkah pertama.
Baca juga: Petualangan di Dam Kekep: Saat Literasi Bertemu Deru Mesin Jip
Begitu kaki menapak, kaca transparan di bawah telapak seketika membuka pandangan lurus ke dasar jurang. Puluhan meter di bawah sana, vegetasi lebat memeluk tebing curam, tak memberi ruang bagi ilusi keamanan. Rasa gentar muncul tanpa aba-aba. Namun justru di titik itulah saya menemukan kejujuran: takut yang diakui, bukan disangkal.
Saya berhenti sejenak, menoleh ke samping. Gunung Bromo dan Gunung Batok berdiri anggun di kejauhan. Kabut datang dan pergi, membentuk siluet yang bergerak pelan. Alam seperti berbicara dalam bahasa yang tenang—tanpa suara, tanpa desakan. Dari ketinggian ini, Bromo tak lagi sekadar destinasi wisata, melainkan ruang kontemplasi.
Sebelum keberanian diuji di jembatan kaca, pengunjung melewati Kopi Dewa 19, sebuah kafe yang kerap dikaitkan dengan Ahmad Dhani. Aroma kopi menguar, suasana santai memberi jeda. Seolah alam sengaja menyediakan transisi: dari kehangatan cangkir kopi menuju dinginnya jurang yang menunggu di depan.

Jembatan Kaca Seruni Point memang digadang-gadang sebagai primadona baru wisata Bromo. Berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kabupaten Probolinggo, jembatan ini merupakan karya anak bangsa. Panjangnya sekitar 120 meter dengan lebar 1,8 meter, membentang di atas jurang sedalam 80 hingga 100 meter. Secara teknis, jembatan ini dirancang mampu menampung hingga 100 orang sekaligus.
Namun fungsinya bukan sekadar memacu adrenalin. Jembatan kaca ini juga menjadi penghubung antara kawasan wisata Seruni Point dengan shuttle area menuju panorama Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru. Di sini, sensasi dan fungsi berjalan berdampingan—antara rasa takzim pada alam dan kebutuhan manusia untuk menjangkaunya.
Sore itu, saya menyadari bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan atau penaklukan. Ia kerap datang dengan langkah pelan, napas yang tertahan, dan kesediaan untuk tetap berjalan meski hati berdebar.
Di atas Jembatan Kaca Seruni Point, Bromo mengajarkan satu hal sederhana namun penting: keberanian adalah tentang melangkah—agar kita bisa menikmati keindahan alam dari sudut yang tak biasa. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












