Feature

Kupat Ketheq, Cita Rasa Giri yang Dihidupkan Kembali di SD Muri

1029
×

Kupat Ketheq, Cita Rasa Giri yang Dihidupkan Kembali di SD Muri

Sebarkan artikel ini
Suasana Aula SD Muri saat pembelajaran STEAM bertajuk Edukasi Makanan Khas Daerah Giri dengan tema “Mengenal Kupat Ketheq, Cita Rasa Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu di Rabu pagi (12/11/25) (Tagar.co/Istimewa)

Siswa SD Muri diajak mengenal Kupat Ketheq, kuliner khas Giri yang manis dan gurih. Lewat proyek STEAM, mereka  belajar sejarah, budaya, dan tradisi lokal secara menyenangkan di sekolah

Tagar.co – Aula SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) Gresik, Jawa Timur, Rabu pagi (12/11/25) pagi tampak ramai dan penuh tawa. Siswa-siswi kelas 1 hingga 3 mengikuti proyek STEAM bertajuk Edukasi Makanan Khas Daerah Giri dengan tema “Mengenal Kupat Ketheq, Cita Rasa Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu.”

Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal salah satu kuliner khas Giri, yaitu kupat ketheq—makanan tradisional yang kini mulai langka.

Tepat pukul 09.30, para siswa berseragam duduk berjajar rapi di aula sekolah. Antusiasme mereka terlihat dari wajah-wajah ceria yang menanti kejutan rasa dari dapur budaya Gresik itu.

Kupat Ketheq, Si Manis-Gurih dari Lereng Giri

Kupat ketheq merupakan makanan khas Giri, Gresik, yang terbuat dari beras ketan dan disajikan dengan parutan kelapa serta taburan gula.

Sekilas mirip ketupat biasa, tetapi rasanya berbeda—manis, gurih, dan ringan. Kudapan ini biasa dinikmati saat pagi hari atau dalam acara tradisional masyarakat setempat.

Baca Juga:  Filosofi Ki Hajar Dewantara Menggema di SD Muri pada Peringatan Hari Guru

Antusiasme anak-anak semakin meningkat saat mereka diperlihatkan kupat ketheq asli. “Aku pernah makan itu sama Mama, pakai gula dan kelapa. Enak banget!” ujar Arumi Marwa Hafidhzah, siswi kelas III Badawi, dengan mata berbinar.

Suasana makin hidup ketika pemateri menjelaskan asal-usul kupat ketheq. Dulu, makanan ini dikenal sebagai kudapan kesukaan Sunan Giri dan sering hadir pada Malam Selawe (malam ke-25 Ramadan).

“Masyarakat Desa Giri membuat kupat ketheq sebagai bentuk penghormatan kepada sang wali,” jelas saya sebagai pemateri.

Syauqi, salah satu siswa, langsung menimpali polos, “Ooh… makanya sampai sekarang banyak yang jual kupat ketheq di tangga menuju Masjid Sunan Giri. Aku tahu, soalnya rumah utikku di situ!”

Penulis sebagai pemateri proyek STEAM bertajuk Edukasi Makanan Khas Daerah Giri dengan tema “Mengenal Kupat Ketheq, Cita Rasa Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu”, Rabu 12 November 2025.  (Tagar.co/Istimewa)

Air Ketheq, Rahasia di Balik Cita Rasa

Dalam sesi berikutnya, saya menjelaskan bahwa kupat ketheq dan ketupat memang tampak serupa, tetapi bahan dan proses pembuatannya berbeda.

Kupat ketheq dibuat dari beras ketan putih murni yang direndam lalu dibungkus dengan daun janur atau daun gebang agar beraroma khas.

Baca Juga:  Keseruan Outdoor Education SD Muri: Bus Jadi Panggung Konser

Rahasia kelezatannya terletak pada proses perebusan yang menggunakan air ketheq—air endapan minyak bumi mentah dari sumur tua peninggalan Belanda di Giri. Air ini berwarna kehijauan dan sedikit keruh, tetapi memberi rasa gurih alami yang unik, seperti “umami” dari minyak tanah.

“Air ketheq-nya sudah langka ya, Bu?” tanya S.T. Aiza Nayla, siswi kelas I KH. Ibrahim, penuh rasa ingin tahu.

Penulis mempersilakan para siswa mencicipi kupat ketheq saat pembelajaran STEAM bertajuk Edukasi Makanan Khas Daerah Giri dengan tema “Mengenal Kupat Ketheq, Cita Rasa Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu di Rabu pagi (12/11/25) (Tagar.co/Istimewa)

Sesi Paling Dinanti: Icip-Icip Kupat Ketheq!

Bagian paling meriah pun tiba: icip-icip kupat ketheq. Di meja panjang tersaji dua varian kupat—versi original dan versi bertabur gula. Anak-anak pun tak sabar antre.

“Bu, aku mau! Aku belum pernah coba!” seru Haidar Azhim penuh semangat.

“Enak, Bu! Gurih! Mau lagi,” tambah Ghea Syakila Rafanda sambil mengunyah kupat ketheq original.

Sementara Fauzan Alfahrezi Hibrizi, siswa kelas II Ki Bagus Hadikusumo, berseru, “Enak banget! Rasanya manis tapi gurih!”

Guru pendamping, Mila Sopia, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mencicipi makanan, tetapi juga belajar budaya.

“Kami ingin anak-anak tahu bahwa makanan tradisional punya nilai budaya dan rasa yang tak kalah dengan makanan modern. Lewat kegiatan seperti ini, mereka belajar mencintai budaya lokal sejak dini,” ujarnya.

Baca Juga:  Hari Guru, Bulan Bahasa, dan Milad di SD Muri: Kreativitas dan Prestasi Jadi Satu

Menjaga Tradisi lewat Rasa

Koordinator acara Nurul Istiqomah, S.Pd., mjelaskan kegiatan sederhana ini bukan hanya memperkenalkan kuliner khas Giri, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah.

“Melalui proyek STEAM yang menyatukan unsur sains, teknologi, seni, dan budaya, kami berharap generasi muda semakin menghargai kekayaan kuliner lokal sebagai bagian dari identitas bangsa,” ujarnya. (#)

Jurnalis Dita Rahmania Penyunting Mohammad Nurfatoni