Feature

Empat Prinsip Ibadah, Salah Satunya Keseimbangan, Ini Penjelasannya

44
×

Empat Prinsip Ibadah, Salah Satunya Keseimbangan, Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Kajian Subuh
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten adalah H Iskak Sulistiya dalam kajian subuh di Masjid Al Jihad Banjarmasin adalah Jalan Cempaka Besar No. 24, Kelurahan Kertak Baru Ulu, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kamis (13/11/2025). (Tagar.co/Ichwan Arif)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Tagar.co – Tiga prinsip ibadah disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten adalah H Iskak Sulistiya dalam kajian subuh di Masjid Al Jihad Banjarmasin adalah Jalan Cempaka Besar No. 24, Kelurahan Kertak Baru Ulu, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kamis (13/11/2025).

Di depan jamaah subuh yang Sebagian besar peserta dan penggembira acara Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VI 2025 yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dia menjelaskan bahwa hari-hari kit aitu penuh ibadah.

“Cara pandang ibadah dalam perspektif Himpunan Putusan Tarjih (HPT), ibadah itu mendekatkan diri kepada Allah. Proses berlari mendekatkan diri pada Allah dalam bentuk ibadah,” katanya.

Dia menuturkan, yaitu dengan cara melaksanakan perintah. Contoh yang paling konkret adalah puasa wajib dan sunnah. Ibadah dengan cara meninggal larangangan Allah. Dengan cara semua amalan yang kita kerjakan, amalan keseharian yang bersifat individu atau personal dan lingkungan.

Baca Juga:  Halalbihalal Spemdalas: Siswa Diajak Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

“Ini adalah panduan 24 jam bagi kita. Cara pandang yang harus dimunculkan oleh setiap hamba,” ungkapnya.

Prinsip Ibadah

Iskak Sulistiya menjelaskan ibadah terikat dengan  prinsip dasar ibadah. Pertama, ibadah langsung sampai pada Allah karena Allah. Mengatur hati kita untuk mendekatkan diri pada Allah.

“Hati adalah yang menggerakkan diri kita untuk ibadah. Tidak orang lain yang tahu. Hanya Allah yang maha tahu,” ujarnya.

Dalam Surat An-Nisa (4) ayat 142. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Alat umurnya adalah keduniaan. Setiap amal itu tergantung pada niatnya. “Niat harus kita luruskan karena Allah satu-satunya.

Prinsip kedua, ibadah harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.  Tata cara puasa yang benar. Ibadah itu tidak rasional. “Mungkin ada yang mengatakan kayak gitu. Mengapa subuh 2 rakaat, dhuhur 4 rakaat.  Subuh kan kalau 4 kan lebih enak karena habis tidur. Ini contohnya,” paparnya.

Baca Juga:  Dari Lapangan ke Pergerakan: Badminton IMM Ganesha sebagai Energi Soliditas dan Silaturahmi

Maka, lanjutnya, semua tuntunan yang sesuai Rasulullah. “Prinsipnya, ibadah sesuai dengan tuntunan,” tegasnya.

Ketiga, ibadah itu mudah dan harus menghilangkan kesulitan-kesulitan . Sejauh mana kemudahan? Allah sudah mengukur umat Muhammad mampu menjalankan ibadah. Shalat 5 waktu. Maka di dalam ibadah ada keringanan yang diperbolehkan kalau ada udzur syar’i yang biasanya keringanan atau kemudahan.

“Melaksanakan ibadah dengan mudah. Musafir bisa dengan menjamak. Harus sesuai dengan dalil. Kemudahan-kemudahan ini asal memenuhi kriteria yang telah ditentukan.

Keempat, keseimbangan. Hidup kita selama 2 jam setiap hari itu untuk ibadah salat. Maka, tidak boleh 24 jam kita gunakan hanya untuk ibadah mahdhah, tetapi harus ada keseimbangan. “Jadi kapan waktunya salat, kapan mengurus rumah, istri dan anak,” katanya.

“Maka, kita ini sedang berproses dan Allah mengetahui apapun yang kita kerjakan di dunia ini,” tegasnya. (#)

Jurnalis Ichwan Arif.