
Dari pengajian kecil ke perputaran omzet ratusan juta, inilah kisah Kopwan Bueka Melati—ruang tumbuh bagi ibu-ibu biasa yang memilih bangkit daripada menyerah.
Tagar.co – Jumat sore, 11 Juli 2025. Teras sebuah rumah di Perumahan Bumi Citra Fajar, Kecamatan Sidoarjo, menjadi saksi pertemuan rutin yang jauh dari hiruk pikuk media, tetapi sarat makna.
Di sanalah tawa hangat dan lembar-lembar buku catatan menyatu dalam lingkaran perempuan—anggota Koperasi Wanita (Kopwan) Bueka Melati—koperasi yang tidak hanya mengelola simpan pinjam, tetapi juga merawat semangat hidup puluhan perempuan sejak 2009.
Lies Imma J., S.Pd., M.Si., Ketua Kopwan Bueka Melati, masih ingat betul bagaimana koperasi ini bermula. Berawal dari semangat gotong-royong ibu-ibu pengajian, mereka merintis usaha bersama dengan modal awal Rp25 juta. Tiap anggota menyetor simpanan pokok sebesar Rp100 ribu. Kini, jumlah itu telah menjadi Rp200 ribu—naik seiring dengan bertambahnya kepercayaan dan kesadaran kolektif.
Baca juga: Melawan Rentenir lewat Jalan Zakat: Cerita Bankziska Ponorogo
Kini, koperasi yang dulunya hanya beranggotakan segelintir ibu rumah tangga ini telah tumbuh menjadi komunitas yang solid. Jumlah anggotanya mencapai 98 orang, semuanya perempuan, dan omzet tahunannya menembus Rp890 juta. Namun di balik angka-angka itu, yang jauh lebih penting adalah cerita perjuangan: tentang perempuan yang bertahan, bangkit, dan mengambil peran penting dalam ekonomi keluarga.
Ketika Dapur Menjadi Lokasi Produksi
Siti Lailatul Qodriyah dulu hanyalah ibu rumah tangga biasa. Namun sejak bergabung dengan koperasi, hidupnya berubah. Kini, ia menjalankan usaha kuliner rumahan yang melayani pesanan warga sekitar hingga kantor-kantor kecil.
“Dulu malu, sekarang saya bangga. Usaha saya memang kecil, tapi cukup untuk bantu biaya sekolah anak dan belanja dapur,” tutur Siti dengan mata berbinar.
Kopwan Bueka Melati tidak sekadar tempat meminjam uang. Di sana, para anggotanya belajar mencatat keuangan, menghitung laba rugi, hingga cara mengemas produk untuk media sosial. Usaha mereka pun beragam: mulai dari makanan rumahan, kerajinan tangan, warung kelontong, hingga jasa kecantikan—semuanya tumbuh dari rumah mereka sendiri.
Lima Prinsip yang Menjaga Akar
Apa yang membuat koperasi ini mampu bertahan lebih dari 15 tahun? Lies menyebut lima prinsip yang terus mereka pegang:
-
Kepemimpinan yang Amanah dan Transparan
Laporan keuangan dibuka secara berkala dan transparan kepada seluruh anggota. -
Partisipasi Aktif Anggota
Rapat bukan sekadar formalitas. Semua anggota bebas mengusulkan ide dan menyampaikan kritik. -
Peningkatan Literasi Keuangan
Pelatihan rutin digelar—dari manajemen usaha hingga pencatatan kas. -
Nilai Spiritual dan Solidaritas Sosial
Karena berakar dari pengajian, nilai kejujuran dan gotong royong menjadi fondasi koperasi. -
Adaptif terhadap Zaman
Produk anggota kini dipasarkan melalui WhatsApp, Facebook, hingga bazar lokal.
“Koperasi ini bukan tempat cari untung cepat, tapi tempat belajar, berbagi, dan bangkit bersama,” ujar Lies sambil menunjukkan katalog produk sederhana yang dicetak dengan dana swadaya, tapi penuh semangat.
Tak Semua Berhasil, Tapi Harapan Selalu Ada
Tak semua koperasi punya akhir seindah ini. Banyak yang tumbang karena minim transparansi atau lemahnya partisipasi. Namun dari situ pula, para perempuan di sini belajar bahwa koperasi adalah perjalanan bersama—bukan milik segelintir orang.
Setiap kegagalan menjadi pelajaran. Setiap keberhasilan menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk mencoba langkah serupa.
Perempuan, Ekonomi, dan Jalan Kemandirian
Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan sulitnya akses permodalan dari lembaga formal, koperasi menjadi jangkar yang menstabilkan ekonomi rumah tangga. Ia menawarkan lebih dari sekadar dana: ada pelatihan, jejaring sosial, dan yang tak kalah penting—rasa percaya diri.
Perempuan bukan sekadar pendamping dalam keluarga. Mereka adalah garda terdepan ekonomi rumah. Dan di Sidoarjo, hal itu dibuktikan setiap hari—lewat simpanan kecil, diskusi hangat, dan produk rumahan yang dibuat dengan cinta.
Kopwan Bueka Melati bukan hanya tentang uang. Ia adalah ruang aman untuk tumbuh bersama dan bukti bahwa keberanian perempuan bisa mengubah nasib—dengan tangan mereka sendiri.
Di Hari Koperasi Nasional, 12 Juli ini, kisah mereka menjadi pengingat: ekonomi gotong royong bukan sekadar idealisme. Ia nyata, dan hidup—di tangan perempuan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












