Feature

Melawan Rentenir lewat Jalan Zakat: Cerita Bankziska Ponorogo

32
×

Melawan Rentenir lewat Jalan Zakat: Cerita Bankziska Ponorogo

Sebarkan artikel ini
Penulis (tenga) bersama Kepala Bagian Keuangan Bankziska Dwi Rahayu (kiri) dan relawan Bankziska Rizki Bintara Wardani (Tagar.Co/Yekti Pitoyo)

Di Ponorogo, ratusan perempuan bangkit dari jerat kemiskinan melalui pinjaman tanpa bunga dan tanpa jaminan. Inilah kisah Bankziska, gerakan ekonomi syariah yang memerdekakan dari rentenir dan membangun kemandirian.

Tagar.co — Di tengah derasnya arus ekonomi yang kadang tak ramah bagi masyarakat kecil, terutama kaum perempuan, hadir sebuah inisiatif berbasis syariah yang menyuguhkan harapan baru: Bankziska.

Diluncurkan pada 27 September 2020 oleh Lazismu Jawa Timur, Bankziska—akronim dari Bantuan Keuangan berbasis Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan—mengusung misi besar: membebaskan masyarakat dari jerat rentenir melalui skema pembiayaan yang tidak membebani, justru memberdayakan.

Skema Pembiayaan yang Humanis dan Religius

Bankziska tak sekadar menyalurkan dana. Lembaga ini menggunakan pendekatan kelompok dengan sistem tanggung renteng, di mana setiap kelompok berisi 5 hingga 10 orang. Besaran pinjaman awal mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, yang bisa naik sampai Rp2 juta sesuai perkembangan usaha mitra.

Baca juga: Membangun Ekonomi Jemaah ala SuryaMart Ponorogo

Tidak ada bunga, tidak ada biaya administrasi, dan tidak perlu jaminan. Yang dikembalikan hanya pokok pinjaman. Bahkan jika mitra mengalami sakit parah atau meninggal dunia, pinjaman bisa dihapuskan.

Baca Juga:  Membangun Ekosistem Ekonomi, Kolaborasi Masjid dan Bankziska Lazismu

“Hingga akhir 2023, lebih dari Rp1,3 miliar telah disalurkan dalam 1.729 siklus pembiayaan kepada pelaku usaha kecil di berbagai pelosok Ponorogo,” kata Dwi Rahayu, Kepala Bagian Keuangan Bankziska Ponorogo, 1 Juli 2025.

Perempuan di Garda Terdepan

Dari total 693 mitra aktif Bankziska Ponorogo, sekitar 65 persen atau lebih dari 450 orang adalah perempuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: ibu rumah tangga, pedagang sayur keliling, penjual gorengan, hingga perajin makanan rumahan.

Dwi Rahayu menerangkan, melalui pinjaman yang relatif kecil, mereka bisa mendapatkan laba harian Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Penghasilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar biaya sekolah anak, bahkan menyisihkan sebagian untuk ditabung.

Namun lebih dari itu, Bankziska juga memberikan pelatihan manajemen keuangan, bimbingan pemasaran, sertifikasi halal produk, hingga pengajian rutin mingguan di kelompok masing-masing. Perempuan tak hanya diberi modal, tetapi juga ilmu dan dukungan spiritual.

Menuju Kampung Bebas Rentenir

Bankziska tidak berjalan sendiri. Ia menggandeng komunitas dan tokoh lokal untuk membangun Kampung Bebas Rentenir dan Kampung UMKM Sehat. Dua inisiatif ini mendorong kesadaran kolektif warga tentang pentingnya ekonomi yang adil, transparan, dan berbasis nilai keagamaan.

Baca Juga:  Meniti Keberanian di Atas Jurang: Sensasi Jembatan Kaca Seruni Point Bromo

Dengan sistem yang sederhana dan prinsip saling percaya, Bankziska membangun budaya ekonomi tolong-menolong yang selama ini terkikis oleh sistem individualistis dan kapitalistik.

Dari Penerima Bantuan ke Agen Perubahan

Bankziska bukan sekadar lembaga pembiayaan. Ia adalah gerakan transformasi sosial berbasis nilai-nilai Islam yang menyentuh langsung akar permasalahan ekonomi masyarakat bawah.

Dengan pendekatan yang inklusif dan spiritual, ratusan perempuan di Ponorogo telah bertransformasi—dari penerima bantuan menjadi pelaku usaha mandiri, dari konsumen menjadi penggerak ekonomi keluarga dan komunitas. Mereka kini berdiri lebih tegak, lebih percaya diri, dan lebih mandiri.

Bankziska membuktikan bahwa zakat, infak, dan sedekah jika dikelola secara profesional bisa menjadi motor perubahan. Bukan hanya untuk mengurangi kemiskinan, tapi juga menumbuhkan kemandirian dan martabat. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni