
Di tengah sawah dan udara sejuk Ambarawa, Pasar Tiban Kong Java hadir setiap Ahad pagi. Bukan cuma jajan kuliner khas Jawa, tapi juga pengalaman belanja pakai kepeng dan pemandangan yang bikin ingin kembali.
Tagar.co — Di sudut Kota Ambarawa, tepatnya di tengah persawahan Desa Ngablak, Pojoksari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ada pasar yang hanya muncul sepekan sekali. Namanya Pasar Tiban Kong Java, pasar dadakan yang digelar setiap Ahad pagi pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Meski hanya dua jam, daya tariknya luar biasa.
Udara sejuk pagi hari 6 Juli 2o25 bdan hamparan sawah berlatar pegunungan menjadi suguhan pertama bagi pengunjung yang datang. Sebagian besar dari mereka datang bersepeda. Ada yang sekadar berolahraga, ada pula yang memang niat berburu kuliner khas Jawa yang menggoda selera.
Baca juga: Menikmati Kenyamanan Kereta Api Ambarawa Ekspres Melintasi Perjalanan Lintas Utara Jawa
Karena di rumah hanya tersedia satu sepeda angin, kami memilih berjalan kaki sejauh 1,8 km. Nyatanya, perjalanan itu sama sekali tidak terasa melelahkan. Jalanan pedesaan yang tenang, udara segar, dan kawanan bebek yang berjalan beriringan bersama dua penggembalanya—semua itu menghadirkan suasana yang menyenangkan.

Begitu tiba di lokasi, ada kejutan menarik yang menambah keunikan pasar ini: sistem pembayarannya tidak menggunakan uang rupiah, melainkan kepeng—mata uang logam kuno berbentuk bundar dengan lubang di tengah.
Pengunjung harus menukarkan uang rupiah terlebih dahulu di meja kasir. Nilai tukarnya pun lucu dan sederhana: dua kepeng setara Rp2.000, tiga kepeng Rp3.000, dan lima kepeng Rp5.000.
Kuliner yang ditawarkan beragam dan menggoda. Di sepanjang pematang sawah, lapak-lapak kuliner berjajar di bawah joglo. Ada gorengan, soto Semarang, lontong sayur, gudangan, pecel, blendung jagung, dan aneka jajanan tradisional lainnya.
Harga pun ramah di kantong. Tempe mendoan cukup sepotong kepeng, pisang goreng dua kepeng. Blendung jagung dan gudangan dibanderol tiga kepeng. Soto Semarang dan lontong sayur hanya lima kepeng.
“Monggo mampir beli soto Semarangnya,” sapa ramah Wiginarti, salah satu karyawan Kong Java yang hari itu menjaga stan soto dan lontong.

Tentu saja kami tertarik. Saya, dua kakak ipar, keponakan, dan anak sulung langsung merapat ke joglo tempat soto hangat itu disajikan.
Menurut Gigin—begitu ia biasa disapa—soto Semarang adalah salah satu menu khas Kong Java Café yang dihadirkan dalam pasar tiban ini, bersanding dengan hidangan-hidangan yang disiapkan warga sekitar.
Lebih dari sekadar pasar kuliner, Pasar Tiban Kong Java menghadirkan nuansa rekreasi keluarga yang unik: makanan tradisional yang lezat, pemandangan menyejukkan, udara segar, dan cara belanja yang mengasyikkan. Semua itu menjadikannya tempat yang pantas dirindukan untuk dikunjungi kembali di liburan berikutnya. (#)












