
Dari gerobak keliling hingga warung legendaris, tahu gimbal terus mempertahankan pesonanya sebagai kuliner khas Semarang. Perpaduan gimbal udang, saus kacang, dan petis menciptakan rasa yang melekat di lidah siapa pun yang mencicipinya.
Tagar.co – Senja mulai turun di Perumahan Ambarawa Residence, Selasa (17/2/2026), ketika suara roda becak motor pelan-pelan berhenti di tepi jalan. Seorang penjual tahu gimbal keliling bersiap meracik pesanan. Aroma kacang, petis, dan gorengan hangat segera menguar, menghadirkan cita rasa ikonik dari Semarang, Jawa Tengah.
Semarang bukan hanya dikenal sebagai kota pelabuhan yang sarat sejarah, tetapi juga sebagai surga kuliner dengan ragam makanan khas yang menggugah selera. Salah satu hidangan yang menjadi identitas kota ini adalah tahu gimbal, sajian sederhana dengan perpaduan rasa yang kaya dan unik.
Baca juga: Nikmatnya Soto Rodo Mroso Ambarawa, Kuliner Murah dengan Rasa Menggugah
Seporsi tahu gimbal biasanya terdiri atas potongan tahu goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam, disajikan bersama irisan kol mentah, lontong, tauge, serta telur dadar.
Namun, elemen yang membuatnya berbeda adalah “gimbal”, yakni bakwan udang berukuran besar yang digoreng hingga kecokelatan. Teksturnya yang renyah berpadu dengan gurihnya udang menjadi daya tarik utama hidangan ini.
Keistimewaan tahu gimbal semakin lengkap dengan siraman saus kacang kental berwarna cokelat kehitaman. Saus ini dibuat dari campuran kacang tanah, bawang putih, cabai, gula merah, garam, serta sentuhan petis udang yang menghadirkan rasa manis, gurih, dan sedikit asin khas pesisir. Perpaduan rasa tersebut menciptakan sensasi lezat yang sulit dilupakan.

Di berbagai sudut Kota Semarang, penjual tahu gimbal mudah ditemui, mulai dari pedagang keliling, kaki lima, hingga warung legendaris yang telah berdiri puluhan tahun. Hidangan ini kerap menjadi pilihan wisatawan yang ingin mencicipi rasa autentik daerah, sekaligus menu favorit warga lokal untuk santap siang maupun malam.
Salah satunya adalah Soponyono (75), yang setia berkeliling menjajakan tahu gimbal menggunakan becak motor (betor). Ia mengaku telah puluhan tahun menekuni usaha tersebut. Rasa yang khas membuat dagangannya senantiasa ditunggu para pelanggan.
“Tiga belas ribu tanpa telur, kalau pakai telur harganya tujuh belas ribu,” ujarnya sembari meracik bumbu.
Pesanan tahu gimbal lengkap dengan telur dadar pun segera tersaji. Bagi sebagian orang yang baru pertama kali mencicipi, rasa hidangan ini meninggalkan kesan tersendiri.
“Enak sekali, rasanya pas di lidah,” kata Ahmad Wildan Pradana.
Sebagai bagian dari kekayaan kuliner Jawa Tengah, tahu gimbal bukan sekadar makanan, melainkan representasi sejarah dan budaya pesisir yang melekat dalam kehidupan masyarakat Semarang. Dengan penyajian yang sederhana dan rasa yang khas, kuliner ini tetap bertahan sebagai salah satu ikon kebanggaan kota. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












