Feature

Membangun Ekonomi Jemaah ala SuryaMart Ponorogo

42
×

Membangun Ekonomi Jemaah ala SuryaMart Ponorogo

Sebarkan artikel ini
Direktur Operasional Suryamart Siti Jamilah (keempat bdari kiri) bersama Tim MEP dan LP UMKM PDM Sidoarjo, di outlet SuryaMart (Tagar.Co/Yekti Pitoyo)

Di tengah persaingan ritel modern, SuryaMart Ponorogo tumbuh sebagai simbol ekonomi jamaah. Dikelola secara kolektif, toko ini tak hanya menjual barang, tapi juga menyalurkan nilai dan misi dakwah.

Tagar.co — Di tengah gempuran ritel modern dan derasnya arus belanja daring, SuryaMart Ponorogo hadir sebagai oase ekonomi berbasis jemaah. Bukan sekadar tempat belanja, toko ini menjelma menjadi simbol kemandirian umat dan upaya konkret membangun ekonomi komunitas.

SuryaMart dikelola oleh PT Daya Surya Sejahtera, sebuah Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) yang telah bergerak di bidang grosir dan ritel sejak 1998. Kini, SuryaMart memiliki 13 outlet yang tersebar, salah satunya berada di lokasi strategis pusat kota Ponorogo.

Baca juga: Menapak Jejak Hasanah: Inspirasi Mendirikan BMT dari Ponorogo ke Sidoarjo

Toko tersebut tampil modern, namun tetap mengusung nuansa kekeluargaan dan kebersamaan yang kental. Dari luar, tampilannya sederhana. Namun aktivitas di dalamnya mencerminkan semangat gotong royong dan visi besar: ekonomi umat yang kokoh dan mandiri.

Baca Juga:  Tajdid Diri di Bulan Ramadan, Ketua PDM Sidoarjo Tekankan Ibadah Sepanjang Hayat

Kunjungan Majelis Ekonomi dan Pariwisata (MEP) serta Lembaga Pengembangan UMKM Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo pada Selasa, 1 Juli 2025, menjadi momentum penting. Rombongan melakukan studi tiru dan memberikan apresiasi terhadap model bisnis yang dikembangkan SuryaMart.

Tim MEP dan LP UMKM mengaku terkesan dengan tata kelola toko yang profesional, namun tetap menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Tak hanya menjual kebutuhan harian seperti bahan pokok dan barang rumah tangga, SuryaMart juga menjadi ruang distribusi bagi produk-produk UMKM lokal, khususnya dari warga Muhammadiyah yang ingin menembus pasar ritel tanpa harus bergantung pada jaringan supermarket besar.

“SuryaMart ini bukan milik satu orang, tapi milik bersama. Ada modal kolektif dari warga Muhammadiyah dan simpatisan, yang telah mengalami pasang surut bahkan sempat pada posisi minus,” jelas Siti Jamilah, Direktur Operasional SuryaMart.

“Tapi dengan semangat dan manajemen terbuka yang percaya dikelola dari, oleh, dan untuk umat, SuryaMart terus bertumbuh hingga kini ada 13 outlet dan rata-rata omzet 900 juta sampai 2 miliar per bulan. Di momen-momen seperti bulan Ramadan atau ajaran baru, omzet bisa naik hingga 30–40 persen,” lanjutnya.

Baca Juga:  Kolaborasi Lazismu–Baznas Sidoarjo Bedah Rumah Warga Terdampak Atap Ambruk

Namun, capaian itu bukan tanpa perjuangan. Persaingan dengan jaringan minimarket nasional menjadi tantangan yang tak ringan.

“Tantangannya tentu bersaing dengan minimarket nasional. Tapi kami punya kekuatan: loyalitas warga dan nilai-nilai sosial keumatan,” tambahnya.

Di balik aktivitas komersialnya, SuryaMart juga memiliki misi sosial. Sebagian keuntungan disalurkan untuk kegiatan dakwah dan program sosial Muhammadiyah. Prinsip inilah yang membedakan SuryaMart dengan ritel lainnya, sekaligus menjadi magnet bagi warga untuk terus mendukung keberadaannya.

Dengan semangat membangun ekonomi berbasis jamaah, SuryaMart Ponorogo membuktikan bahwa kemandirian ekonomi umat bukan angan-angan. Ia tumbuh bukan dari modal besar semata, tetapi dari kolaborasi, konsistensi, dan keberpihakan kepada usaha milik bersama. Dari umat, oleh umat, untuk umat. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni