Cerpen

Topi Lebar dan Lidah Tajam Yu Darmi

29
×

Topi Lebar dan Lidah Tajam Yu Darmi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Dengan topi lebarnya dan komentar pedasnya, Yu Darmi jadi tukang sayur paling nyentrik di kompleks. Tapi siapa sangka, lidahnya yang tak disaring perlahan menggoyang dagangannya sendiri.

Cerpen oleh: Nadhirotul Mawaddah, Guru TK IT Handayani, Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Setiap pukul delapan pagi, suara lantang dan topi lebarnya sudah jadi alarm bagi para ibu di perumahan kami: Yu Darmi datang. Ia adalah sosok perempuan paruh baya yang penuh semangat, meski gayanya tak biasa.

Alih-alih mengenakan helm, ia memilih topi pantai superlebar untuk menghalau sengatan matahari. Warna bajunya selalu serasi dengan topi yang ia kenakan. Tak heran, Yu Darmi jadi tukang sayur paling dikenal di lingkungan ini.

Baca juga: Malaikat Kecil tanpa Sayap di Sudut Gudang Sekolah

Sebagai ibu rumah tangga yang jarang keluar rumah, aku sangat terbantu dengan kehadiran Yu Darmi. Namun, ada satu hal yang membuatnya juga terkenal: lidahnya yang tajam.

“Bu Fera nggak beli ikan? Tiap hari cuma beli sayur doang. Itu anaknya bisa kurang gizi, loh,” celetuknya suatu pagi saat aku membeli dua ikat bayam dan dua papan tempe. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Belanjanya cuma segini aja, Bu Fera?” katanya lagi, melirik padaku. “Iya,” jawabku singkat sambil mengeluarkan uang dari saku baju.

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

Nenek Salma, tetanggaku, menghampiri. “Bu Fera kok diam saja digituin Yu Darmi?” protesnya.

“Tidak apa-apa, Nek. Biasa saja. Yu Darmi cuma bercanda,” jawabku sambil masuk ke rumah.

Keesokan harinya, Yu Darmi datang dengan penampilan nyentriknya yang sama. Beberapa tetangga langsung keluar dan mengerumuninya. Aku sengaja menunggu mereka selesai sebelum keluar rumah.

Saat mendekat, mataku tertumbuk pada plastik bening berisi beberapa bungkus nasi.

“Nasi apa ini, Yu Darmi?” tanyaku.

“Itu nasi jagung,” jawabnya.

Aku bergumam lirih, “Nasi jagung… aku nggak suka.” Rupanya ucapanku terdengar.

“Orang desa biasa makan gaplek aja belagu,” ucapnya sinis.

Aku kaget. “Maaf, Yu Darmi. Saya memang tidak doyan nasi jagung. Tapi kalau gaplek, saya doyan, bukan karena saya orang desa, tapi karena saya suka,” jawabku pelan.

Merasa suasana mulai tidak nyaman, aku memilih menyudahi percakapan dan kembali ke rumah. Namun, nenek Salma yang masih ada di situ ikut geram.

“Kalau tidak terlalu butuh, lebih baik jangan belanja ke Yu Darmi,” bisiknya padaku.

“Tidak apa-apa, Nek. Mungkin saya yang salah tadi,” ujarku.

Beberapa bulan berlalu. Yu Darmi tak lagi lewat di sekitar rumah. Perlahan, pelanggan setianya pindah ke tukang sayur lain yang mulai ramai berdatangan ke kompleks kami.

Baca Juga:  Dari Sarangan ke Miniatur Dunia, Perjalanan Guru TK Menganti Mengisi Energi dan Inspirasi

Hingga suatu hari, saat aku mengunjungi temanku di perumahan elite, tiba-tiba suara familiar memanggil dari depan.

“Loh, Bu Fera kok di sini? Ngapain?” tanya Yu Darmi sambil menghentikan viarnya di depan rumah teman.

“Main ke rumah teman, Yu Darmi. Lama tak lewat di tempat saya. Ternyata pindah ke sini ya?” kataku berbasa-basi.

Jawaban yang keluar tak kuduga.

“Iya, lebih enak di sini daripada di lingkungan tempat Bu Fera. Sudah dipanggil-panggil, eh, cuma beli daun bawang dua ribu,” katanya ketus.

Aku menarik napas panjang. “Biar cuma dua ribu, tetap rezeki, Yu Darmi. Disyukuri saja,” ujarku menahan perasaan.

“Jualan di sini untungnya banyak. Saya bisa pergi umrah juga,” lanjutnya dengan nada bangga.

Setelah Yu Darmi pergi, temanku menghampiri.

“Orang itu kalau ngomong seperti teh cem-ceman, nggak disaring,” celetuknya.

Aku hanya tersenyum. “Dia sebetulnya baik, kok. Sayurannya lengkap. Dia bawa semua agar pembeli bebas memilih,” kataku. Kami tertawa bersama.

Setahun kemudian, saat aku membeli nasi goreng di warung kaki lima selepas isya, seseorang menyapaku dari belakang.

“Ini saya, Yu Darmi, yang dulu jualan sayur.”

Aku nyaris tak mengenalinya. Penampilannya jauh berubah. Tak lagi nyentrik. Ia mengenakan kerudung instan dan pakaian sederhana.

Baca Juga:  Di Balik Deru Ducati

“Masya Allah, Yu Darmi. Maaf, saya sampai pangling. Tambah cantik,” pujiku.

Ia duduk di sebelahku dan bercerita panjang lebar.

Kini, ia tak lagi berjualan sayur. Dagangannya bangkrut. Ia pernah keliru menjual bumbu instan yang sudah kedaluwarsa. Pembeli yang marah melemparkan bumbu itu ke wajahnya. Pernah pula ia dibayar dengan uang palsu.

“Waktu itu saya sudah beralih dari motor ke viar, Bu Fera. Nyicil. Akhirnya saya jual murah,” tuturnya. “Makin hari makin sepi. Sekarang saya bantu suami jual martabak di pasar malam. Hasilnya nggak seberapa, tapi yang penting nggak dijahati orang lagi,” katanya lirih.

“Alhamdulillah. Semoga lancar usahanya. Yang sudah, biarlah berlalu. Sekarang semangat menjemput rezeki bersama suami, ya,” ucapku sebelum pamit karena pesananku sudah selesai.

Dalam perjalanan pulang, bayangan tentang Yu Darmi terus terngiang di benakku. Ia pernah ada di puncak, lalu terjatuh karena hal-hal kecil yang dulu dianggap remeh. Mungkin ini cara Tuhan mengajarkan: kata-kata bisa menjadi berkat, bisa pula menjadi sebab petaka.

Hidup memang tak selalu tentang berapa banyak kita dapat, tapi bagaimana kita memperlakukan sesama. Sebab setiap kata akan pulang kepada tuannya. Dan setiap perbuatan akan menemukan balasannya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…