
Jelajah sore di Sungai Sekonyer yang meliuk-liuk di hutan hujan tropis Kalimantan penuh kejutan. Dari atas kelotok tampak hewan endemik seperti bekantan dan Burung Enggang. Hadirnya melengkapi petualangan di Taman Nasional Tanjung Puting.
Tagar.co – Sepanjang hari menjelang penerbangan ke Taman Nasional Tanjung Puting di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, saya semakin giat melangitkan doa agar bisa bertemu banyak orang utan—makhluk luar biasa gagah yang memiliki kesamaan DNA 97% dengan manusia—di rumahnya yang terjaga.
Saya sangat ingin melihat langsung di tempat mereka seharusnya hidup. Bukan di kandang kebun binatang, foto, apalagi terjebak sebagai hewan peliharaan. Melainkan di hutan, rumahnya yang mana pepohonan masih tegak berdiri. Dedaunan rimbun menjadi kanopi. Air sungai berwarna teh yang jernih mengalir di antaranya.
Nah, Allah… seperti biasa, memberi lebih dari sekadar doa yang saya panjatkan. Banyak orangutan hadir di feeding camp pertama, kedua, maupun ketiga. Di samping itu, banyak hewan lain juga yang menampakkan dirinya.
Misalnya, pada hari pertama, Jumat (27/6/2025) sore, setelah bersabar menyusuri Sungai Sekonyer, sekelompok Bekantan atau Proboscis Monkey—hewan endemik Pulau Kalimantan—terlihat nongkrong di pucuk pohon. Warna badan bekantan perpaduan cokelat kemerahan dan abu-abu.
“Sistem pencernaan mereka seperti hewan ruminansia. Perutnya besar. Hampir mustahil dipelihara. Karena treatment-nya susah meski pergerakan mereka tidak agresif,” terang Rusmin, pemandu wisata kami.
Bekantan yang hidungnya mancung berjenis kelamin betina sementara yang berhidung besar berjenis kelamin jantan. Hidung besar primata ini, kata Rusmin, nyatanya menjadi daya tarik tersendiri bagi sang betina. Tawa rombongan open trip pecah ketika menyadari seekor monyet yang suka poligami ini memikat pasangannya dengan bentuk tubuh yaitu hidung.

Berbonus Burung Enggang
Sore berikutnya, mata kami tak hanya berfokus ke permukaan sungai di depan, tapi juga menelisik ke pucuk-pucuk pohon. Siapa tahu keberuntungan berpihak, sehingga hewan-hewan yang bertengger di sana menampakkan diri.
Benar saja, di atas kelotok kami, seekor Burung Enggang khas Kalimantan melintas, Sabtu (28/6/2025) sore. Sayapnya membentang besar dan mengepak indah, sebagaimana paruhnya yang melengkung bak tanduk sapi.
Ia melintas cepat dan cukup rendah, agak dekat di atas kepala kami. Hadirnya lebih dari cukup untuk membuat rombongan kami yang duduk di rooftop kelotok heboh. “Itu Burung Enggang,” teriak Nugroho Yekti Handayani, S.Pd. bersambut mata kami mengikuti telunjuknya.
Saya sangat bersyukur bisa bersama teman open trip seperti Yekti. Guru SMA yang sehari-harinya mengajar matematika itu sungguh bermata elang. Pada sore hari pertama (27/6/2025), ia juga sukses menunjukkan burung Kingfisher berwarna biru dan oranye yang bertengger di antara pepohonan.
“Yang warna biru dan oranye itu sama-sama Kingfisher. Beda sub famili saja,” terang Yekti memperjelas informasi yang ia dengar dari Rusmin.
Ia memang paling antusias “berburu” pemandangan burung. Sebenarnya ia juga ingin bertemu buaya dan ular di perjalanan itu, tapi kondisi air sungai yang sedang pasang tidak memungkinkan. Jadilah ia fokus mencari burung-burung endemik yang langka.
Adapun malamnya (27/6/2025), rombongan kami menemukan burung Kasumba Kalimantan—burung di keluarga Trogonidae—saat kami trekking malam di camp kedua: Pondok Tanggui. Secara keseluruhan, ada empat burung langka yang telah kami temui di sepanjang perjalanan.

Mata Super Canggih
Sementara mata saya yang minus campur silinder ini, meski sudah pakai kacamata, masih berusaha melihat dengan jelas. Kalau sudah mendekat atau hampir terlewat, barulah saya menyadari posisi burungnya. Untuk yang bermata seperti saya, perjalanan ini nyatanya perlu alat bantu teropong untuk bisa menangkap lebih terang.
Ohya, Enggang yang terkenal bersuara nyaring itu hanya melintas sunyi. Tanpa suara, tanpa pamit. Tapi kami—yang sedang duduk di rooftop kelotok—heboh terpana. Bahkan terlalu kagum untuk sekadar mengangkat ponsel. Tidak ada yang sempat merekam. Meski demikian, jejak burung itu lebih abadi dalam ingatan kami.
Di perjalanan ini saya mengerti, hal-hal indah adakalanya cukup dinikmati oleh mata. Indera penglihatan yang Allah ciptakan dengan lensa super canggih, tak kalah dengan kamera bikinan manusia. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












