
Enam relawan Muhammadiyah, dua mobil, dan jalan panjang menuju Langkat plus Aceh Tamiang. Mereka terus bergerak tanpa banyak jeda. Mobil-mobil operasional itu sudah ditunggu di lokasi bencana
Tagar.co – Di dalam dua mobil operasional milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu ada enam relawan. M. Halim Rojak E. K. (Lazismu Jatim), M. Rifky Ahmad Zidane (Lazismu Situbondo), Akhmad Priyonughroho (Lazismu Kota Pasuruan), Fatchul Mubarok (KL Lazismu Sepanjang Sidoarjo), Hendi Setiabudi (Lazismu Bojonegoro), dan Fathurrahim (Lazismu Kota Surabaya).
Mereka terbagi ke dalam dua tim. Masing-masing mengawal satu mobil bantuan yang akan diserahkan ke Muhammadiyah Kabupaten Langkat Provinsi Sumatra Utara, dan Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh, untuk memperkuat layanan kemanusiaan pascabencana.
Fatchul Mubarok, salah satu relawan, tergabung dalam tim yang menuju Aceh Tamiang. Dia menyebut perjalanan ini sebagai amanah yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan.
“Alhamdulillah kami berenam terbagi menjadi dua mobil. Dua mobil operasional ini akan diserahkan ke Langkat dan Aceh Tamiang. Saya kebetulan di tim mobil Aceh Tamiang,” ujarnya.
Hanya Istirahat Ketika Salat dan Makan
Perjalanan darat dipilih dengan kesadaran penuh. Rute panjang dari Jawa menuju Sumatra diperkirakan memakan waktu sekitar empat hari. Saat Tagar.co menghubungi melalui pesan WhatsApp, Jumat (9/1/2026) pagi, rombongan masih bergerak menuju Pelabuhan Merak, dengan perkiraan dua jam lagi tiba.
“Posisi kami sekarang masih menuju Pelabuhan Merak. Insyaallah kalau cuaca memungkinkan kami bisa langsung menyeberang. Tapi kalau ombak tinggi dan cuaca tidak kondusif, kami harus menunggu sampai kondisi memungkinkan,” kata Fatchul.
Cuaca menjadi tantangan tersendiri. Namun bukan satu-satunya. Sejak berangkat Kamis (8/1/2026) sore, para relawan hampir tidak memiliki waktu istirahat panjang.
“Istirahat kami tidak bisa lama-lama. Biasanya hanya saat waktu salat dan makan, sekalian mendinginkan mesin mobil. Selebihnya, istirahat kami di mobil saat tidak bertugas menyetir,” tuturnya.
Sudah Ditunggu
Di sepanjang perjalanan, keenam relawan bergantian menjadi pengemudi. Tidak ada pembagian waktu yang kaku. Mereka saling memahami kondisi fisik masing-masing, memastikan kendaraan tetap prima, dan perjalanan tetap aman.
Tugas mereka pun tidak berhenti pada penyerahan kendaraan. “Selain mengantar dan menyerahkan mobil operasional, nanti kami juga akan bertugas sesuai jobdesk masing-masing. Ada yang fokus pembenahan infrastruktur pascabencana, ada juga yang melakukan pendampingan trauma healing,” jelas Fatchul.
Alasan mereka terus bergerak tanpa banyak jeda sangat sederhana. Mobil-mobil operasional itu sudah ditunggu.
“Mobil yang kami antar sudah ditunggu tim di sana. Kondisi operasional pascabencana masih sangat minim, sementara kebutuhan mobilitas sangat mendesak,” katanya.
Dua mobil ini bukan sekadar kendaraan. Mobil ini akan menjadi alat utama mobilisasi relawan, distribusi bantuan, dan pendampingan penyintas. Dalam situasi darurat, kehadirannya bisa menentukan cepat atau lambatnya pertolongan.
Perjalanan enam relawan ini mungkin tak banyak disorot. Namun dari jalan panjang yang mereka tempuh, tersimpan kerja-kerja sunyi yang menjaga kemanusiaan tetap bergerak. Enam orang, dua mobil, dan ribuan kilometer ditempuh demi satu tujuan. Memastikan amanah sampai, dan harapan terus hidup di Sumatra Utara dan Aceh. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo. Penyunting Sugiran.












