Feature

Dari Menyembelih ke Memasak: Santri Al-Fattah Belajar Kurban, Gizi, dan Empati

45
×

Dari Menyembelih ke Memasak: Santri Al-Fattah Belajar Kurban, Gizi, dan Empati

Sebarkan artikel ini
Santri Pondok Al-Fattah memaknai Iduladha dengan lebih dari sekadar menyembelih. Mereka belajar memasak daging kurban, memperkuat gizi, ukhuwah, dan rasa syukur dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Santri SMP Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo praktek memasak sendiri daging kurban (Tagar/Ayuni)

Santri Pondok Al-Fattah memaknai Iduladha dengan lebih dari sekadar menyembelih. Mereka belajar memasak daging kurban, memperkuat gizi, ukhuwah, dan rasa syukur dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan.

Tagar.co Suasana Pondok Pesantren Al-Fattah, Sidoarjo, tampak berbeda pada Sabtu pagi, 7 Juni 2025. Setelah sehari sebelumnya melaksanakan salat Iduladha dan penyembelihan kurban, hari ini para santri bergiat dengan aktivitas lanjutan: belajar merawat, mengolah, dan menikmati hasil kurban.

Dua ekor kambing disembelih khusus hari ini, masing-masing dialokasikan untuk santriwan dan santriwati. Proses penyembelihan dilakukan oleh tim yang telah ditunjuk, dengan memperhatikan tata cara penyembelihan yang sesuai syariat Islam—penuh kehati-hatian, kesabaran, dan kesungguhan.

Baca juga: Khotbah Iduladha di Al-Fattah: Iman yang Diuji, Cinta yang Dipertaruhkan

Kegiatan ini bukan sekadar memasak. Di balik kepulan asap dapur dan wajan-wajan yang menari di atas kompor, tersimpan beragam nilai pembelajaran bagi para santri. Menurut pengasuh pondok, Ustaz Drs. Ainun Rofik, M.Pd., inilah momen yang tepat untuk memperkuat aspek spiritual dan sosial sekaligus.

Baca Juga:  Career Fair Ponpes Al-Fattah: Alumni Berbagi Kunci Menembus Karier Impian
Santri Pondok Al-Fattah memaknai Iduladha dengan lebih dari sekadar menyembelih. Mereka belajar memasak daging kurban, memperkuat gizi, ukhuwah, dan rasa syukur dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Santri putra Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo praktik menguliti hewan kurban (Tagar/Ridwan)

“Ini adalah salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menyucikan harta yang kita miliki,” jelasnya. “Saya berharap kegiatan ini betul-betul dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan, rasa syukur, dan jiwa sosial pada diri santri.”

Manfaat kegiatan ini memang berlapis. Secara fisik, santri mendapat asupan gizi tambahan dari daging kurban. Secara sosial, mereka diajak untuk bekerja sama, saling membantu, dan belajar peduli. Secara edukatif, mereka memahami langsung bagaimana mengolah daging dengan cara yang baik dan higienis.

Kreativitas santri dalam mengolah dan menyajikan menu hasil masakan sendiri (Tagar.co/Ayuni)

“Ini penguatan ukhuwah Islamiyah antar-santri, pembelajaran praktis merawat dan mengolah daging, sekaligus melatih empati agar lebih peduli pada sesama,” ujar salah satu pengajar yang turut mendampingi kegiatan.

Salah satu sorotan kegiatan ini adalah lomba memasak antar-santri. Usthazah Ayuni Nur Habibah, S.Sos., yang bertindak sebagai juri mengatakan bahwa kegiatan ini sarat makna.

“Salah satu tujuannya, selain untuk mempererat kebersamaan dan merasakan bahagianya Iduladha dengan memasak sendiri daging kurban, juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang Allah Swt. berikan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tapak Suci Al-Fattah Menggila di SAC 2026, Puluhan Medali Dibawa Pulang
Santri SMA Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo praktik memasak sendiri daging kurban (Tagar.co./Ayuni)

Dengan penuh semangat dan kekompakan, para santri menyajikan aneka hidangan khas Iduladha. Ada sate, krengsengan, sup daging kambing, daging suwir, hingga gule. Aroma rempah memenuhi udara, menyatu dengan canda dan gelak tawa mereka yang larut dalam kebersamaan.

Dari dapur sederhana di pondok ini, para santri tidak hanya belajar memasak. Mereka sedang menanam nilai: bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih, tapi juga tentang berbagi, bersyukur, dan memperkuat tali kemanusiaan. (#)

Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni